Pria Ini Mencoba Kebiasaan Tidur ‘4 Jam Per Hari’ ala Orang-Orang Jenius, Hasilnya Sungguh di Luar Dugaan!

14.254 views
via: brightside.me

Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa kebiasaan tidur kurang dari tujuh atau delapan jam per hari bisa berdampak buruk pada kesehatan dan memperpendek usia. Padahal nih, sejumlah orang jenius seperti Leonardo da Vinci, Nicola Tesla, dan Salvador Dali hanya tidur selama 1—4 jam saja setiap harinya.

Cukup aneh memang, tapi pola tidur yang disebut dengan polifasik ini terbukti dapat meningkatkan kinerja seseorang dalam jangka waktu yang panjang. Bahkan penelitian terbaru memenunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari tujuh jam per hari tetap memiliki daya tahan hidup yang baik.

via: brightside.me

Sebenarnya, pola tidur polifasik ini bukannya mengurangi waktu tidur secara ekstrem, tapi membagi waktu tidur ke dalam beberapa sesi. Misalnya nih, ketika memangkas waktu tidur malam menjadi empat jam saja, kamu harus menyisihkan waktu 2 x 25 menit untuk tidur di siang atau sore harinya.

Kamu bisa meletakkan 25 menit pertama saat istirahat makan siang dan 25 menit selanjutnya di malam hari sebelum atau beberapa saat sesudah makan malam. Atau kamu bisa mengatur sendiri kapan waktu yang sesuai untuk menyelipkan waktu 2 x 25 menit untuk tidur.

via: brightside.me

Nah, seorang staf Brightside.me mencoba menerapkan pola tidur polifasik ala orang jenius tersebut. Dia hanya tidur selama empat jam per harinya, dari pukul 01.30 hingga pukul 05.30. Di sela-sela waktu istirahat makan siang, dia berusaha menyisihkan waktu 25 menit untuk tidur begitu juga setelah makan malam, dia menyempatkan untuk tidur selama 25 menit.


BACA JUGA:


Tak disangka, dalam waktu dua minggu dia mengalami perubahan yang luar biasa mengejutkan. Penasaran apa saja yang dialaminya? Simak yuk ulasannya berikut ini.

Hari Pertama

via: brightside.me

Setelah makan siang, pria ini mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Dia mengenakan perlengkapan perang yang dibawa dari rumah seperti penutup mata dan telinga agar tidurnya nyenyak. Pada percobaan hari pertama, dia merasa sulit untuk tidur nyenyak dalam waktu 25 menit.

Hari Kedua

Hari kedua tak jauh berbeda dari hari pertama. Karena ingin misinya sukses, dia pun belajar dari orang-orang yang berhasil menerapkan pola tidur polifasik ini.

Hari Ketiga

Hari ketiga pun tidak jauh berbeda dari hari pertama atau kedua. Bahkan hidupnya menjadi monoton karena rutinitas yang sama. Dia pun masih berusaha untuk terlelap dalam waktu 25 menit. Namun hasilnya masih nihil, dia tidak merasa lebih baik setelah tidur selama 25 menit.

Hari Keempat

via: brightside.me

Setelah empat hari, inilah yang terjadi pada wajahnya: kulit menjadi pucat dan matanya memerah. Sangat jauh berbeda dengan kondisinya ketika pertama kali mencoba pola tidur polifasik.

Hari Kelima

Tubuhnya mulai bisa menyesuaikan dengan pola tidur yang baru. Kini dia bisa terlelap dalam waktu singkat dan terbangun sebelum alarm berbunyi. Tubuhnya pun merasa lebih berenergi ketika bangun.

Hari Keenam—Ketujuh

Dia sudah bersahabat dengan pola tidur barunya. Meskipun hanya curi-curi waktu 25 menit untuk tidur di siang atau sore hari, dia merasa terlelap dalam waktu yang sangat lama. Efek pusing karena kurang tidur pun perlahan menghilang.

Tak hanya menyelesaikan kegiatan sehari-hari yang sudah dijadwalkan, dia bahkan memiliki banyak waktu luang untuk melakukan kegiatan lain seperti membaca buku, menonton film, berenang, atau bahkan pergi ke gym. Uniknya lagi, dia tak butuh kopi sama sekali!

Hari Kedelapan—Kesepuluh

via: brightside.me

Mencuri-curi waktu untuk tidur di sela-sela jam makan siang ternyata membuat pikirannya jauh lebih fresh. Dia merasa lebih bertenaga saat bangun dan kreativitasnya pun semakin meningkat. Pekerjaan yang tadinya membingungkan akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Kulit wajahnya tak lagi pucat dan matanya tak lagi memerah.

Hari Kesebelas—Keempat belas

Kini dia mulai terbiasa dengan pola tidur tersebut. Bahkan dia memangkas tidur malamnya menjadi 2,5 jam saja. Tentunya, waktu tidur yang dipangkas tadi akan dipindah ke siang atau sore hari. Intinya, jika dia mengurangi waktu tidur di malam hari, keesokan harinya dia harus menuri waktu untuk menggantinya.

Kesimpulan setelah melakukan pola tidur polifasik:

  • Produktivitas meningkat. Semua tugas bisa diselesaikan sebelum makan siang dan pria ini merasa bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan lebih mudah.
  • Tubuh akan terbiasa tidur tanpa alarm.
  • Makanan yang dikonsumsi pun terjaga kuantitas dan kualitasnya. Selama mencoba pola tidur polifasik, pria ini hanya mengonsumsi makanan sehat dalam jumlah yang terjaga. Karena sulit rasanya untuk tertidur dengan perut yang penuh.
  • Waktunya tak hanya habis untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, kini dia punya waktu luang untuk membaca buku dan belorahraga. Hebatnya lagi, dia tak lagi terserang flu atau demam seperti sebelumnya.

Hemm, apakah Kawan Muda berniat mencoba pola tidur di atas? Kalau enggak terbiasa, jangan pernah mencoba pola tidur ini di rumah, ya, karena kurang tidur bisa berdampak buruk pada otak dan malah menurunkan produktivitasmu!

Sumber: Brightside