Gaya hidup yang sering membuat anak muda tekor

2.914 views
via: Shminhe.com

Sudah menjadi rahasia umum, di mana orang-orang kerap habis gajinya, padahal tanggal gajian berikutnya masih lama. Untuk orang-orang yang sudah berkeluarga, mungkin mulai berpikir tentang prioritas. Karena yang menghabiskan uangnya sudah bukan lagi dirinya sendiri, namun juga ada istrinya atau mungkin anak-anaknya. Sehingga, besar kemungkinan mereka selangkah lebih baik dalam mengatur keuangan, dibanding para bujangan itu.

Alasan mengapa para bujangan kerap gagal mengatur keuangannya, mungkin karena merasa masih hidup sendiri dan belum ada yang dihidupi, sehingga merasa bebas untuk menghamburkan uangnya. Membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang diinginkannya, bukan yang dibutuhkannya. Ke mana sajakah mereka kerap membelanjakan uang tersebut? Apa penyebab anak muda gagal mengatur keuangan? Kira-kira inilah penyebabnya:

1. Suka nongkrong di tempat-tempat keren bermenu mahal.

nongkrong bareng teman
Foto : www.huffingtonpost.com

Susah ya jadi orang yang sukanya jaga level, kayak:

“Wah, kalau aku makan di angkringan, value-ku turun dong. Makan itu ya minimal restoran, sih.”

“Aku enggak bisa sih, kalau harus pakai gadget selain dari Apple.”


BACA JUGA: Kamu muda tapi malas-malasan? Malu dong sama para lansia yang semangat bikin 15 karya mural keren ini!


Nah, yang gitu-gitu loh, yang kadang sering bikin ribet diri sendiri. Tapi kebocoran anak muda juga bisa timbul dari lini yang lain. Mungkin mereka kalau makan fleksibel. Tempat mahal oke, tempat murah pun jadi. Atau mungkin mereka pernah punya suatu masa di mana nongkrongnya di angkringan melulu. Namun frekuensinya terlalu rapat dan sering. Kalau begini yang terjadi, masalah berarti ada pada manajemen keuangan. Harus ada anggaran untuk nongkrong: 7% dari jumlah gaji, misalnya. Kalau mau perputaran keuangannya terjaga, berarti setiap bulannya jangan sampai lebih dari 7% itu, Kawan Muda. Gitu.

2. Membeli buku karena pengin, padahal yang lama belum dibaca.

buku
Foto : www.natgen.org

Apakah kamu termasuk Kawan Muda yang doyan baca? Kalau iya, pasti kamu pernah jadi orang yang beli buku cuma gara-gara pengin. Padahal, buku-buku lama menumpuk dan belum dibaca. Sama seperti nongkrong tadi, sih. Ada baiknya dibikin anggaran: 5% gaji, misalnya. Tapi syarat jumlah 5% itu bisa cair, kalau buku-buku yang dibeli sebelumnya, sudah dibaca habis. Kalau belum dibaca sampai habis, jangan.

Kalau dibikin sistem seperti itu, pasti kamu jadi terpacu untuk lebih rajin membaca. Bertanggungjawab kepada buku-buku yang telah engkau beli, dengan jalan, membacanya sampai tuntas! Lalu kalau di tengah-tengah kamu mengeluh:

“Ah, aku salah beli buku. Ini buku jelek! Aku tak sanggup menghabiskannya!”

Katakan pada dirimu:

“Aku harus menghabiskannya, apa pun yang terjadi. Anggap saja ini sebagai hukuman atas keteledoranku dalam memilih buku. Sehingga esok hari aku bisa memastikan bahwa: aku hanya membeli dan membaca buku-buku dengan kualitas terbaik!”

3. Mau via online, mau belanja langsung, tabiat belanjanya sama saja: beringas!

belanja
Foto : www.cyprusupdates.com

Lha ini. Kalau memang mentalnya gemar menghambur-hamburkan uang untuk belanja, memang susah sih. Mau belanja via online, mau offline, beringas ya beringas.


BACA JUGA: Inilah 7 alasan kenapa jangan terlalu serius pacaran di usiamu yang masih muda!


Bedanya, kalau via offline, barang-barang tersaji dengan jelas di depan mata kamu. Sementara online, barang-baran lainnya tersaji dalam bentuk gambar.

4. Membeli gadget lantaran jadul, bukan karena yang lama rusak.

via: www.huffingtonpost.com

Kata ‘jadul’ itu konotasinya bisa beragam. Bisa karena memang gadget itu lebih cocok untuk menimpuk anjing dan tengah menjalani masa-masa pensiun dalam kondisi sekarat. Atau bisa juga berarti teknologinya ketinggalan selangkah.

Bagi gadget freak (sebutan untuk penggila gadget) smartphone milik teman-teman sudah 4G, dan miliknya masih 3G, itu sudah dianggap jadul. Jadi konotasi jadulmu, cenderung yang mana?

Anak muda juga kerap bocor finansialnya pada bagian ini: membeli gadget lantaran jadul, bukan karena yang lama rusak.

5. Kalau pakai barang-barang pokok, boros.

via: madamenoire.com

Kawan Muda, pasti tahu dong kalau barang pokok itu merupakan barang primer. Yang jelas-jelas itu masuk list kebutuhan. Maka, pergunakanlah itu secara bijak. Kayak misalnya kamu memakai sabun cuci. Kalau kamu belum paham berapa takaran yang pas, paling enak sih ikut aturan yang ada pada bungkus sabun cuci.

Atau misalnya kamu menggunakan sabun mandi. Ya gunakanlah itu untuk mandi. Kalau mandi pun, mengoleskan sabunnya juga sewajarnya. Tak perlulah mengolesi bagian tertentu secara berlebihan. Dan jangan sampai mengolesi bagian tertentu tersebut saat kamu tidak mandi.


BACA JUGA: Tanpa harus ke kafe, sekarang kamu bisa membuat minuman dengan resep ala Kita Muda ini


Ini yang Kita Muda maksud, tangan loh ya. Jadi tolong, jangan berpikir ngeres. Nanti pikiran kita jadi sama. Mengapa tidak boleh mengolesi tangan menggunakan sabun mandi secara berlebihan? Ya karena, kalau kamu mau makan, sabun khusus untuk cuci tangan sebelum makan itu ada kok. Dan, itu bukan sabun mandi. Gitu.

Irit-iritlah menggunakan barang-barang pokok.

6. Malas menabung.

menabung
Foto : tweakyourbiz.com

Sudah manajemen keuangan amburadul, tak menabung pula. Ini ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, yang tangga tersebut lagi dinaikin orang. Jadi, tertimpa tangga dan orang yang naik tangga tadi. Keapesan ganda.

Kawan Muda, menabung itu sebetulnya ya menabung saja. Keribetan, sesungguhnya hanya ada pada isi kepala kita sendiri, yang mengharuskan bahwa menabung itu harus sekian juta. Padahal enggak. Mau beli celengan dan berniat menabung khusus uang 100 ribu, atau 50 ribu, atau 20 ribu, dan bahkan 10 ribu pun jadi.

Katakanlah, nominal yang kamu pilih adalah 20 ribu. Lalu, berjanjilah pada dirimu sendiri, bahwa ketika ada uang pecahan 20 ribu, langsung masukkan ke celengan. Sementara, enggak usah pakai mikir dulu. Karena target pertama, yang penting sudah memiliki kebiasaan dulu. Setelah kebiasaan terbentuk, barulah berpikir seperti:

“Wah, ternyata kalau menabung ke rupiah, kita termakan inflasi, ya? Bener nih, yang paling baik adalah investasi ke emas. Baik itu dalam bentuk dinar maupun emas batangan.”