5 Hal Ini Bisa Bikin Kamu Dipidana UU ITE dan Kena Denda Rp 1 Miliar. Sudah Tahu?

1.127 views
Awas jeratan UU ITE
via: kominfo.go.id

Think before you speak mungkin tidak berlaku lagi di dunia serba digital seperti sekarang ini. Namun diganti dengan peringatan think before you post or share.

Kita memang harus terus berhati-hati dalam berucap, tapi jangan lupa jempol dan hati juga harus dikendalikan agar tidak menulis atau mengunggah konten/komentar sembarangan di media sosial. Jika tidak, selamat menikmati jeratan UU ITE!

Kawan Muda mungkin sudah mengetahui beberapa kasus UU ITE yang menjerat pengguna media sosial. Salah satu kasus yang sempat viral di tahun 2018 lalu adalah kasus Fetniarti, warga asal Riau yang mengunggah status di Facebook pribadinya terkait penculikan anak yang tengah marak di Dumai, Riau. Karena menyebarkan berita bohong atau hoax, Fetniarti dijerat UU ITE dengan ancaman pidana paling lama 6 tahun atau denda paling banyak Rp 1 miliar!

Selain Fetniarti, masih banyak puluhan Netizen lain yang terjerat kasus ITE karena menyebarkan hoax, ujaran kebencian, atau menghina fisik seseorang.

Dan di antara mereka juga ada yang berasal dari kalangan public figure, seperti Ratna Sarumpaet yang terkena UU ITE karena menyebar berita hoax tentang penganiayaan dirinya serta presenter sekaligus aktor Augie Fantinus yang baru-baru ini tertangkap karena menyebar video hoax oknum polisi menjadi calo tiket Asian Games.

Ini seolah menjadi peringatan bagi kita semua pengguna media sosial bahwa UU ITE bisa menjerat siapa pun dari kalangan mana pun, jika memang terbukti telah melanggar apa yang sudah tertulis dalam Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elktronik (UU ITE) dan diperkuat dengan Surat Edaran (SE) Kapolri soal penanganan ujaran kebencian atau hate speech Nomor SE/06/X/2015.

Untuk membuat kita lebih bijak dalam menggunakan media sosial, Kita Muda akan membahas beberapa tindakan yang bisa membuat seseorang terjerat kasus  UU ITE. Mungkin beberapa dari kamu belum mengetahui secara detail tindakan apa saja yang masuk dalam poin-poin UU ITE. Berikut adalah 5 tindakan yang bisa membuat kamu dipenjara atau didenda karena dianggap melanggar UU ITE:

1. Membuat atau menyebarluaskan hoax

Awas jeratan UU ITE
Membuat atau menyebarluaskan hoax | via: style.tribunnews.com

Kasus hoax yang paling viral sepanjang tahun 2018, yang menjerat aktivis dan politisi Ratna Sarumpaet, seolah menjadi peringatan keras bagi pengguna media sosial. Meskipun dalam pengakuan awal dia hanya mengatakan hal tersebut untuk ‘bercanda’, meluasnya berita tersebut hingga memicu kesalahpahaman pada akhirnya membuat Ratna harus menelan pil pahit atas tindakannya.

Apa pun alasannya, jangan pernah menyebarkan berita bohong atau mengada-ada di media sosial. Berhati-hati juga dalam menyebarkan berita/informasi yang kamu dapat dari internet.

Karena jika menjadi salah satu ‘oknum’ yang ikut menyebarkan hoax, kamu bisa kena sanksi UU ITE. Periksa kembali informasi yang kamu dapat, baru meyebarkannya. Jika kiranya tak perlu disebarkan, lebih baik disimpan untuk diri sendiri.

2. Body shaming atau menghina fisik seseorang

Awas jeratan UU ITE
Body shaming atau menghina fisik seseorang | via: inovasee.com

Ujaran kebencian dalam bentuk apa pun, termasuk menyinggung fisik seseorang, bisa dikenakan UU ITE. Kasus terbaru yang tengah hangat dibicarakan adalah kasus body shaming terhadap istri dari aktor Anjasmara. Netizen yang bersangkutan pun langsung dilaporkan ke pihak berwajib karena dianggap tak memiliki niatan baik untuk meminta maaf.

Kedengarannya mungkin sepele dan sangat banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun awas, jika orang yang kamu hina fisiknya merasa terlukai dan melaporkan hal tersebut, kamu bisa mendekam di penjara atau membayar denda milyaran rupiah!

3. Pencemaran nama baik

Awas jeratan UU ITE
Pencemaran nama baik | via: youtube.com

Hati-hati dalam mengomentari atau menulis tentang sesuatu/sesorang. Meskipun mungkin yang kamu tuliskan benar adanya, tapi hal tersebut bisa menjadi blunder bagimu jika tidak tahu bagaimana etika yang tepat untuk menyampaikannya. Bukannya mendapat keadilan atau pujian, kamu bisa dilaporkan atas dasar pencemaran nama baik.

Seperti yang dialami oleh Prita Mulyasari saat menulis tentang malpraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit di Tangerang dan yang paling anyar adalah kasus Baiq Nuril, guru yang mengalami pelecehan seksual dan malah dilaporkan balik oleh orang yang melecehkannya dengan tuduhan pencemaran nama baik.

4. Menyebarluaskan video porno

Menyebarluaskan video porno | via: financialexpress.com

Konten negatif milik pribadi harusnya menjadi privasi, tapi kenapa Ariel menjadi tersangka dan masuk penjara? Padahal dia sendiri tak ada niatan menyebarkannya di internet. Ini mungkin terjadi karena Ariel membagikan konten tersebut pada orang terdekat dan kemudian ‘disebarluaskan’.

Jika kamu mendapatkan foto bermuatan negatif, dan dalam foto tersebut ada wajah yang kamu kenal atau bahkan tidak, sebaiknya tak perlu disebarkan kembali. Biarkan foto/video tersebut berhenti di kamu. Karena jika nantinya kasus tersebut diusut, kamu tak akan kena sanksi gara-gara ikut menyebarkannya.

5. Terlibat dalam lingkaran prostitusi online

Awas jeratan UU ITE
Terlibat dalam lingkaran prostitusi online | via: thatsmags.com

Kasus prostitusi online yang menjerat pesinetron Vanessa Angel dan model Avriella Shaqqila masih menjadi perbincangan hangat. Hal ini seolah menjadi peringatan keras bagi masyarakat Indonesia bahwa tindakan prostitusi atau kegiatan lain yang melanggar kesusilaan yang dilakukan di media sosial akan dijerat UU ITE, kenapa?

Dalam UU ITE Tahun 2008 pasal 27 ayat 1 telah jelas tertulis bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan bisa dijerat hukum.

Karena sudah ada payung hukum yang mengatur tindakan-tindakan negatif yang ada di media sosial, sebagai pengguna media sosial kita harus lebih bijak lagi.

UU ITE tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bicara ceplas-ceplos (apalagi menyakiti dan menyebarkan sesuatu yang tidak benar) adalah sebuah tindakan gegabah yang tak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri.

So, pergunakan media sosial dengan sebaik-baiknya ya, Kawan Muda 😉