Dalam waktu yang hampir bersaman, selebgram Gita Savitri atau Gitasav dan pedangdut Via Vallen, mendapatkan pelecehan seksual berupa pesan tak senonoh melalui direct message (DM) Instagram (cyber harassment). Tak terima dengan pelecehan seksual yang dialaminya, keduanya pun membongkar aib para pelaku melalu Instagram Stories masing-masing.

Tentu saja unggahan keduanya mendapatkan respon yang beragam dari Netizen. Ada yang mengatakan mereka berlebihan padahal hanya dapat DM saja; tapi  tak sedikit pula yang menunjukkan keprihatinannya atas kasus yang menimpa dua perempuan yang tengah naik daun tersebut. Kasus ini seolah-olah jadi teguran bagi kita semua bahwa pelecehan seksual semacam ini tak boleh didiamkan begitu saja.

via: detik.com

Kita seharusnya memberi apresiasi atas keberanian Gitasav dan Via Vallen yang berusaha memutus mata rantai pelecehan seksual. Ya, meskipun hal tersebut tampaknya mustahil jika masyarakat tak memahami seperti apakah bentuk pelecehan seksual sebenarnya. Banyak yang menganggap pelecehan seksual terjadi saat ada kontak fisik; disentuh bagian tubuh tertentu atau diperkosa misalnya.

Padahal, pelecehan seksual tak hanya merujuk pada kontak fisik saja. Menurut Komnas Perempuan, sebagaimana yang dilansir dari Kompas.com, pelecehan seksual tak semata-mata soal seks. Pelecehan seksual adalah segala tindakan baik fisik maupun non-fisik yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang.

via: tribunnews.com

Tindakan tersebut bisa berupa siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual tentang tubuh seseorang, menunjukkan hal-hal berbau pornografi (dalam bentuk gambar, cerita, atau benda seksual) dan hasrat seksual, mencolek atau menyentuh bagian tubuh tertentu, lelucon kotor seksual, menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain, hingga gerakan atau isyarat yang bersifat seksual; yang bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman, tersinggung, direndahkan, atau bahkan merasa jiwa/kesehatannya terancam.

Perlu diketahui pula bahwa pelecehan seksual tak hanya dialami oleh kaum perempuan. Memang, perempuan seringkali menjadi sasaran empuk pelecehan seksual yang dilakukan laki-laki baik di jalanan maupun di media sosial seperti yang dialami oleh Gitasav, Via Vallen, dan masih banyak kasus yang belum terungkap. Namun, kaum lelaki juga bisa jadi sasaran pelecehan seksual yang dilakukan perempuan. Pelecehan seksual juga bisa terjadi antara perempuan dan perempuan maupun laki-laki dan laki-laki.

via: boombastis.com

Nah, untuk mencegah jatuhnya korban-korban lainnya atau menghindarkan kita dari tindakan yang menjurus pada pelecehan pada orang lain, Kita Muda bakal membahas nih jenis-jenis pelecehan seksual menurut kategorinya.

1. Pelecehan Gender

via: kmblegal.com

Pelecehan semacam ini bisa berupa pernyataan dan perilaku seksis yang menghina atau merendahkan seseorang. Misalnya, komentar yang menghina bentuk tubuh atau fisik seseorang atau gambar atau tulisan yang merendahkan perempuan.

Kamu juga harus berhati-hati saat melontarkan lelucon berbau cabul atau humor tentang seks atau biasanya nih lelucon tentang perempuan (membicarakan atau mengomentari sesuatu pada diri perempuan) dalam obrolan laki-laki; karena semua ini juga termasuk pelecehan seksual.


BACA JUGA:


2. Perilaku menggoda

via: jamesriverarmory.com

Nah, ini mungkin sering banget terjadi di sekitar kita (dan bahkan kamu mungkin pernah melakukannya). Sayang, tak banyak yang tahu sehingga tindakan seperti ini dianggap sesuatu yang biasa. Bentuk-bentuk perilaku menggoda contohnya melontarkan ajakan berbau seksual dan mengulangi ajakan tersebut jika si korban menolak.

Selain itu, memaksa seseorang untuk ikut makan  malam, minum, kencan, mengirimkan surat/chat/sms atau menelepon terus-menerus saat ditolak juga bisa masuk dalam kategori pelecehan seksual berupa perilaku menggoda.

3. Penyuapan seksual

via: businessinsider.com

Adalah saat seseorang diminta untuk melakukan aktivitas seksual atau perilaku seksual terkait seks lainnya dengan janji imbalan. Misalnya nih saat seseorang ditawari posisi yang lebih baik asal mau tidur bersama atasannya. Permintaan tersebut bisa dikatakan secara terang-terangan atau melalui kode-kode tertentu.

4. Pemaksaan seksual

via: mcoffmanlegal.com

Ketika mengalami penyuapan seksual, korban mungkin bisa mengungkapkan penolakannya secara langsung pada si pelaku. Namun ada kalanya hal tersebut tak bisa dilakukan para korban karena adanya pemaksaan dari si pelaku.

Dalam lingkup pekerjaan, seseorang mungkin diancam dengan evaluasi kerja yang buruk, tidak mendapatkan promosi, difitnah, atau bahkan yang lebih buruk lagi ancaman pembunuhan. Inilah yang kadang membuat korban pelecehan seksual tak berkutik. Mirisnya, lagi-lagi korban yang disalahkan atas situasi tersebut.

5. Pelanggaran seksual

via: thermofisher.com

Tindakan ini bisa berupa pelanggaran seksual berat (menyentuh, merasakan, atau meraih secara paksa) atau penyerangan seksual. Inilah satu-satunya jenis pelecehan seksual yang banyak diketahui sehingga jika tidak ada pelanggaran seksual, banyak yang menganggap hal tersebut bukanlah pelecehan seksual.

Padahal baik adanya pelanggaran seksual maupun hanya sekedar menggoda, selama itu membuat korban merasa terancam dan tak nyaman, tindakan tersebut bisa dikategorikan dalam pelecehan seksual.

Setiap orang punya cara masing-masing dalam menanggapi pelecehan seksual. Namun, diam bukanlah jalan keluar yang bisa diambil. Katakanlah ‘tidak’ pada pelecehan seksual yang menimpamu sekecil apa pun itu, agar hal tersebut tidak dijadikan kebiasaan di lingkungan sekitar/masyarakat.

Ketika menjadi korban pelecehan seksual, ingatlah bahwa hal tersebut terjadi bukan karena kamu yang salah. Korban bukanlah pihak yang bertanggung jawab. Pakaian atau profesi tak menjadikanmu ‘tersangka’ dalam kasus pelecehan seksual. Pelakulah yang harus bertanggung jawab atas musibah yang terjadi padamu. Jadi jangan biarkan siapa pun mendikte bahwa kejadian tersebut adalah salah kamu.

Ketika kamu mengalami tekanan psikologis yang parah, jangan ragu untuk berbagi cerita pada orang terdekat atau datanglah ke terapis jika kamu benar-benar tertekan secara psikologis. Jika kamu punya teman atau kerabat yang mengalami hal ini, dukunglah mereka dan jangan mencoba mencari kesalahannya (misal menyalahkan mereka yang pulang malam, memakai pakaian terbuka, atau bekerja di tempat yang rawan).

Banyak korban yang memilih diam karena mereka takut tidak dipercaya, karena mereka takut balik disalahkan dan dianggap rendah di mata masyarakat. Untuk mengindari hal tersebut, yuk mulai sekarang kita berpikiran terbuka agar bisa melindungi para korban pelecehan seksual.

Sumber: Kompas.com ; Liputan6.com; Detik.com