Udah dibela-belain berhemat, tapi masih tetap susah menabung? 5 hal ini mungkin penyebabnya

tidak punya uang

Memiliki pengetahuan yang baik mengenai keuangan, itu satu hal. Sementara sanggup mengaplikasikannya, itu hal lain. Dari sekian saran yang kerap digaungkan oleh financial planner, salah satu halnya – yang mungkin sejak kecil kita selalu diajarkan – ialah menabung.

Mungkin beberapa dari Kawan Muda, termasuk yang nulis ini, pernah punya fase hidup di mana begitu meremehkan tentang menabung. Entah itu hanya berlangsung dahulu kala, atau masih terjadi sampai hari ini, hanya Tuhan dan masing-masing pribadi yang tahu. Tapi kalau penulis boleh mengaku, sebetulnya masih merasa susah menabung juga. Padahal, sudah dibela-belain ngirit biar banyak uang yang tersimpan. Namun yang terjadi, malah tak ada uang yang terkumpul.

 

BACA JUGA: Merantau ke kota besar untuk bekerja? Ikuti 5 tips ini biar kamu bisa hidup hemat dan survive

 

Setelah penulis banyak merenung dan menyepi di goa, akhirnya ketemulah penyebab yang setelah dipadatkan, jumlahnya ada lima. Layaknya jumlah balon kamu yang rupa-rupa warnanya itu. Siapa tahu penyebab di bawah ini sesuai dengan yang sedang atau pernah Kawan Muda alami.

1. Sejak awal, sama sekali tak pernah punya jawaban atas pertanyaan: mengapa harus menabung?

menabung
Foto : tweakyourbiz.com

Menetapkan tujuan sejak awal itu penting, karena itu bisa dijadikan sebagai motivasi. Kita Muda sih berani bilang bahwa kalau kamu jarang mendengarkan nasihat tentang mengelola uang, namun kerap berpegang teguh pada tujuan ‘mengapa harus menabung?’, maka niscaya engkau lebih bersedia untuk mengalokasikan uang-uang mingguan atau bulananmu. Setidaknya, itu selangkah lebih baik daripada kerap membaca dan mendengarkan tentang nasihat keuangan, namun tak pernah mempraktikkannya.

Apakah itu berarti membaca dan mendengarkan tentang nasihat keuangan dari financial planner itu tidak penting? Ah, ya tidak begitu logikanya. Kalau Kawan Muda mau yang paling baik, ya lengkapi diri dengan sering-sering membaca dan mendengarkan tentang nasihat keuangan, serta getol mengamalkan ilmu yang diperoleh. Tapi kalau masih susah mencapai kelengkapan itu, ya paling enggak, sudah praktik dulu. Bukankah begitu?

2. Gaji pas-pasan selalu dijadikan kambing hitam.

pinjam uang
Foto : www.pinjam.co.id

Pada hakikatnya, menabung itu bukan tentang seberapa banyak pemasukan yang diperoleh. Karena dunia ini banyak sekali memberitakan tentang tukang sampah yang sampai bisa berqurban, atau tukang bangunan yang sanggup mengkuliahkan seluruh anaknya, atau bahkan tukang bubur yang bisa naik haji.

 

BACA JUGA: Meneladani 9 kebiasaaan Mark Zuckerberg, biar kamu cepat kaya

 

Jadi sampai di sini, kemudian Kita Muda berkesimpulan bahwa yang mula-mula paling penting itu menyelesaikan urusanmu pada poin pertama yang sudah Kita Muda tulis pada artikel ini. Ya, tetapkan dulu tujuanmu. Nanti itu untuk pegangan. Kesungguhan kamu akan menabung, bukan terletak pada seberapa sering kamu cerita ke orang lain. Namun bagaimana kamu bisa menjaga ritme konsistensi untuk terus menabung. Sehingga enggak bakal ada cerita kamu mencari kambing hitam.

Nabung sedikit? Boleh. Nabung banyak? Sah. Mau berapa pun, yang penting konsisten!

3. Pengeluaran bulanan selalu mengalami pembiaran, tanpa adanya anggaran.

belanja dengan ibu copy
Foto : blackhillsparent.com

Seringkali orang-orang memiliki siklus terbalik dalam menabung. Contoh: setelah gajian, uang dipakai untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Kalau semua sudah dipenuhi, lalu sisanya baru dipakai untuk menabung. Kalau begitu caranya, maka tak heran kalau menabung menjadi sebuah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kalau nabung aja susah konsisten, lantas bagaimana dengan nominal yang seharusnya jumlahnya konsisten.

Semakin ke sini, penulis semakin menyadari bahwasanya untuk bisa konsisten, harus ada harga yang mesti dibayar. “Kudu wani perih!” kalau kata orang Jawa. Salah satunya dengan mendahulukan menabung, saat uang pertama kali diperoleh. Semisal gajimu 2,5 juta, sementara kamu berkeinginan menabung 500 ribu setiap bulan, maka uang 500 ribu itu harus kamu tabung terlebih dahulu. Baru sisanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kesediaanmu membuat pressure sejak awal, membuatmu harus kreatif memutar otak: bagaimana caranya agar uang 2 juta yang ada, bisa cukup untuk hidup sebulan.

Sulit? Ah, cuma belum terbiasa.

4. Tekad bulat berhemat selalu tumbang oleh godaan diskon.

menunggu cewek belanja
Foto : blogs.ft.com

Jangan berpikir, meski kamu telah mengamalkan 3 poin di atas, lantas tak terserang godaan diskon. Diskon ada di mana-mana, dan mereka siap merobek isi-isi kantong yang menganga. Ada yang udah nabung dulu, tapi setelah termakan godaan diskon, lalu ternyata uang yang ada dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya uangnya ditarik lagi. Ada, pasti ada!

5. Ada yang lebih kacau daripada diskon: jiwa konsumtif!

belanja
Foto : www.cyprusupdates.com

Ini hampir senada dengan poin 1-4 sih. Cuma, walau telah ditabung, meski jiwa konsumtif ada, maka tetap saja ia akan menggerogoti lini penting dalam keuanganmu. Termasuk, lini paling primer sekalipun. Jadi, waspadalah!

 

BACA JUGA: Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

 

Kawan Muda punya keluhan lain kenapa susah banget nabung? Share di kolom komentar sini dong!

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.