Pilih mana, jadi orisinal tapi biasa aja atau sedikit meniru tapi punya karya yang lebih baik?

Zaman sekarang, segala sesuatu kayaknya udah banyak yang menemukan. Ingin rasanya berkarya—dalam musik, seni, menulis, teknologi, dsb—tapi nggak jarang mengalami kebuntuan karena ide yang benar-benar baru nggak kunjung muncul.

Inginnya sih jadi beda dan bisa bikin karya yang menggebrak dunia. Ah, tapi, di zaman sekarang apa sih yang masih asli dari tangan pertama? Untuk bisa punya ide yang benar-benar baru adalah hal yang nggak mudah, Kawan Muda. Apalagi internet membuat kita dapat mengakses dan mengetahui banyak hal.

Informasi yang kita dapat dari internet secara nggak sadar menginspirasi karya yang kita hasilkan. Bagi pemusik misalnya, band favorit sedikit banyak akan mempengaruhi aliran musik mereka. Atau, bagi kamu para vlogger, pasti terinspirasi setelah melihat vlog orang lain yang kemudian kamu terapkan dengan sentuhan baru.

Kalau begini, kita bisa disebut plagiat nggak sih? Supaya Kawan Muda nggak gagal paham dan nggak berhenti berkarya (meski harus belajar dari karya orang lain dulu), yuk kita bahas satu-satu di sini.

1. Semua orang pada awalnya belajar melalui proses meniru.

via: thenuttyone.files.wordpress.com

Sejak kecil kita diajarkan untuk menulis abjad dengan meniru apa yang telah dituliskan oleh guru di papan tulis. Kita harus membuatnya mirip dengannya.

Sama halnya dengan sebuah karya. Ketika kamu ingin memulai bermusik misalnya, kamu akan mencari referensi musik bagus untuk menentukan warna musikmu.

Setelah melihat banyak referensi, kamu akan mengembangkan ide tersebut dengan lirik atau mungkin aransemen musik yang berbeda. Bahkan mungkin lebih baik dari pemusik yang menginspirasi karyamu.

2. Belajarlah dulu dengan “meniru” karya yang yang sudah ada, setelah itu buatlah karyamu sendiri.

via: catracalivre.com

Hampir semua hal yang berkaitan dengan industri kreatif (seniman, penulis, dsb), 90%-nya adalah hasil imitasi dan 10% saja ide yang BENAR-BENAR baru.

Seorang jenius dalam bidangnya sekalipun memiliki idola yang menginspirasi karya mereka. Contohnya, sutradara dan aktor Quentin Tarantino yang terkenal dengan film-filmnya yang khas.

Dalam membuat film, dia melihat adegan dan cara pengambilan gambar dari film-film favoritnya. Lalu dia terapkan dalam film miliknya dengan menambahkan “bumbu” atau eksekusi yang berbeda.

Jadi, orisinalitas itu seperti penyedap rasa dalam masakan, bukan masakan itu sendiri. Orisinalitas itu adalah apa yang membuat karyamu beda meski idenya sudah menjamur di masyarakat.

3. Lalu, bagaimana caranya meniru ide orang tapi NGGAK menghasilkan sebuah karya yang PLAGIAT?

via: gloworksart.webs.com

Kalau udah dijalanin emang agak susah-susah gampang ya. Buat kamu yang suka nulis nih, kalau kamu ingin meniru tulisan orang lain jangan menyalin semua kalimatnya mirip 100%. Coba ambil idenya saja lalu kembangkan dengan bahasa atau jalan ceritamu sendiri.

Jika kamu menulis sebuah buku dan mengutip dari buku lain, jangan lupa cantumkan sumber yang kamu gunakan. Dalam bermusik, ada aturan-aturan tertentu dan batas-batas sebuah lagu dianggap plagiat atau tidak (berapa bait lirik atau chord yang mirip). Semua sudah ada aturannya dan tinggal bagaimana kamu saja yang mengeksekusinya.

***

Banyak belajar dengan meniru karya orang yang kamu kagumi perlahan akan membuatmu menemukan ciri khasmu. Mempertahankan orisinalitas penting, tapi jangan sampai membuat karyamu kaku dan mematikan kreativitas.

Jika kamu bisa mengkombinasikan semua ide yang kamu dapat, kamu bahkan bisa menghasilkan sesuatu yang unik dan beda (meski idenya sama dengan yang sudah ada). Dan itu masih bisa dibilang orisinal kok, Kawan Muda.  Selamat berkarya!