Yuk, Terapkan 6 Tips Menghemat Uang Ini Agar Travelling Akhir Tahun Kamu Tambah Asik!

Siapa sih yang nggak suka traveling? Di jaman sekarang kegiatan traveling menjadi salah satu kebutuhan yang setiap orang pasti lakukan, setidaknya setahun sekali. Mulai dari traveling ala backpaper yang low budget, sampai versi high class ala Princess Syahrini. Tapi karena tidak semua orang bisa ber – traveling mewah ala Princess, jadi biasanya kita punya trik khusus untuk saving agar nggak bokek selama perjalanan.

Biar travelingmu asik dan kamu tetap bisa menikmati berlibur dengan harga murah, ada tips – tips yang bisa kamu terapkan untuk liburan nanti. Dilansir dari brightside, ini dia:

1. Berpergian malam hari

via: brightside.me

Memang sih malam hari adalah waktu untuk tidur dan beristirahat. Tapi untuk menghemat biaya, kamu bisa kok berpergian menggunakan kereta atau bis malam, lalu sampai di pagi harinya. Selain bisa menghemat biaya, ketika sampai kamu bisa langsung deh menikmati liburanmu, tanpa harus menghabiskan biaya untuk menginap sebelumnya.

2. Makan agak jauh dari daerah turis

via: brightside.me

Buat kalian yang traveler, pasti tahu dong kalau spot turis memiliki harga makanan yang 2-3 kali lebih mahal dari biasanya? Untuk mengatasi hal ini, coba deh cari daerah makanan yang agak jauh dari tempat turis. Berjalan sedikit dari tempat turis dan menikmati makanan street food akan jauh lebih menyenangkan, mengenyangkan, dan pastinya nggak bikin berat kantong!

 

3. “Numpang” mobil orang lain

via: brightside.me

Well, kalian pasti tahu dong istilah ride sharingRide sharing aka numpang mobil memang jadi alternatif untuk kalian yang nggak punya uang cukup buat transportasi. Daripada menghabiskan uang untuk taksi atau bis, coba gunakan aplikasi seperti Couchsurfing atau BlaBlaCar. Kedua aplikasi ini memudahkan banget lho, karena bisa mempertemukan kalian dengan mobil yang kebetulan searah tujuannya. Enak banget, kan?

4. Menjaga barang agar tidak dicuri

via: brightside.me

Sebal banget nggak sih, kalau di negara asing nggak punya uang, kartu kredit, ponsel, bahkan dokumen imigrasi karena dicuri? Duh, nggak banget! Makannya untuk mengatasi hal ini, coba deh jangan pakai tas dan baju bermerek kalau nggak mau “diincar” maling. Kemudian juga simpan uangmu atau sedikit barang berhargamu di brankas hotel, atau beli money belt. Terakhir, selalu jaga tasmu dimanapun dan kemanapun kamu berpergian.

5. Pakai asuransi travel

via: brightside.me

Asuransi itu membantu banget lho, untuk kamu yang hendak berpergian jauh. Kecelakaan kecil yang mungkin terjadi dan tidak membutuhkan uang banyak, kalau terjadi di negara lain bisa jadi dapat menghabiskan uangmu. Nggak mau dong, kehabisan uang disana hanya karena masalah kecil? Untuk jaga-jaga, coba deh sisihkan sedikit budget traveling kamu untuk membeli asuransi travel. Buat jaga-jaga disaat emergency saja, lebih baik bersiap daripada tidak sama sekali, kan?

6. Simpan uangmu dalam tempat lain

via: brightside.me

Menyimpan uang di dompet itu perlu, tapi kamu harus ingat juga bahwa kita juga harus menyimpan uang di tempat tertentu yang tidak terduga. Kamu bisa taruh uang dengan melubangi sabun (yes, sabun!) atau sembunyikan dibalik sol sepatu. Semakin banyak tempat tersembunyi yang bisa kamu gunakan untuk menyimpan uang, semakin banyak cadangan uang yang bisa kamu gunakan nantinya.

Ternyata mudah juga ya, menyimpan uang pada saat traveling? Karena sebentar lagi mau liburan tahun baru, jadi ada baiknya kalau kamu menerapkan tips diatas pada saat berlibur nanti. Oh iya, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam perjalanan. Selamat berlibur, Kawan Muda!

Berencana Menikah? Agar Dana Pernikahanmu Aman, Yuk Terapkan Tips Memilih Bank Yang Tepat!

uang

Menikah menjadi salah satu momen yang paling membahagiakan bagi setiap pasangan. Karena hanya sekali seumur hidup, setiap pasangan pasti menginginkan sebuah pesta pernikahan yang berkesan. Enggak harus mahal sih, yang penting setiap momennya selalu terkenang sepanjang hidup. Continue reading “Berencana Menikah? Agar Dana Pernikahanmu Aman, Yuk Terapkan Tips Memilih Bank Yang Tepat!”

Jangan remehkan usaha kecil-kecilan! Penjual gorengan ini raih omset Rp 300ribu per hari, lho!

Jualan gorengan? Mungkin beberapa dari Kawan Muda menganggapnya sepele. Padahal, usaha sederhana ini lumayan menjanjikan, lho! Dalam satu hari omsetnya bisa mencapai Rp 300.000. Coba kalau sebulan, bisa mencapai Rp 9 jutaan!

Dari omset tersebut, penjual setidaknya mendapatkan keuntungan hingga 50%. Nah, lho, menguntungkan banget kan meskipun modalnya enggak begitu besar.

Hemm…Kawan Muda masih belum percaya kalau jualan gorengan bisa menjadi suatu bisnis yang sukses? Yuk, simak dulu kisah Pak Rinto, penjual gorengan yang sering mangkal di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan ini.


BACA JUGA: Foto-foto dari belahan dunia ini akan membuatmu tersentuh & bersyukur dengan keadaanmu sekarang ini


1. Pak Rinto belajar cara membuat gorengan dari pamannya dan telah berjualan gorengan sejak tahun 2006 silam. Dia berjualan di sekitar Jagakarsa mulai pukul 10 pagi hingga malam.

via: vemale.com

2. Seperti penjual gorengan pada umumnya, Pak Rinto menjual aneka gorengan seperti  tahu, pisang, tempe, risol, bakwan, hingga molen. 

via: myeatandtravelstory.files.wordpress.com

BACA JUGA: Selalu Punya Uang Tapi Terus Merasa Kurang? 13 Quotes Ini Akan Membuatmu Bersyukur!


3. Bahan baku dan peralatan yang digunakan untuk usaha ini sangat sederhana. Hanya gerobak, kompor, peralatan menggoreng, dan bahan gorengan (tepung, pisang, tahu, minyak, dll). Dengan modal sederhana tersebut, Pak Rinto bisa mendapat omset Rp 300.000 per harinya.

via: vemale.com

4. Bukanlah jumlah yang mustahil, mengingat semua orang suka gorengan dan sekali beli setiap orang bisa mengeluarkan minimal Rp 5.000. Pak Rinto pun bisa membiayai pernikahannya dan punya satu sepeda motor dari penghasilannya tersebut.

via: tandapagar.com

BACA JUGA: Suka mengeluh tentang pekerjaanmu? 3 Kisah ini akan membuatmu malu dan lebih bersyukur lagi!


5. Meskipun meraup untung yang lumayan, berjualan gorengan bukannya tak ada kendala, Kawan Muda. Sepi karena tak ada pelanggan, rugi karena barang tidak laku hingga naik turunnya bahan baku adalah beberapa tantangan yang harus dihadapinya.

via: namnamstory.blogspot.co.id

6. Pak Rinto yang biasanya ditemani ibunya saat berjualan ini hanya berharap dagangannya laris dan bisa membuka cabang.

via: vemale.com

***

Ketekunan dan ketelatenan Pak Rinto berjualan gorengan patut kita contoh nih, Kawan Muda. Meskipun sebagian orang menganggap “biasa aja”, siapa sangka mereka ini diam-diam jago bisnis juga—walaupun kecil-kecilan.


BACA JUGA: Untukmu yang suka mengeluh, kisah kakek penjual serabi ini akan membuatmu lebih bersyukur.


Nah, kalau Kawan Muda lagi pingin buka usaha kecil-kecilan, mungkin kamu bisa mencoba jualan gorengan. Kamu gak perlu malu, toh usaha ini halal dan enggak melanggar hukum, setuju?

Siapa tahu dari iseng-iseng jualan di rumah atau dititipkan, usaha gorengan Kawan Muda bisa terkenal dan laris manis seperti Gorengan Cendana yang ada di Bandung.

Gaya hidup yang sering membuat anak muda tekor

Sudah menjadi rahasia umum, di mana orang-orang kerap habis gajinya, padahal tanggal gajian berikutnya masih lama. Untuk orang-orang yang sudah berkeluarga, mungkin mulai berpikir tentang prioritas. Karena yang menghabiskan uangnya sudah bukan lagi dirinya sendiri, namun juga ada istrinya atau mungkin anak-anaknya. Sehingga, besar kemungkinan mereka selangkah lebih baik dalam mengatur keuangan, dibanding para bujangan itu.

Alasan mengapa para bujangan kerap gagal mengatur keuangannya, mungkin karena merasa masih hidup sendiri dan belum ada yang dihidupi, sehingga merasa bebas untuk menghamburkan uangnya. Membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang diinginkannya, bukan yang dibutuhkannya. Ke mana sajakah mereka kerap membelanjakan uang tersebut? Apa penyebab anak muda gagal mengatur keuangan? Kira-kira inilah penyebabnya:

1. Suka nongkrong di tempat-tempat keren bermenu mahal.

nongkrong bareng teman
Foto : www.huffingtonpost.com

Susah ya jadi orang yang sukanya jaga level, kayak:

“Wah, kalau aku makan di angkringan, value-ku turun dong. Makan itu ya minimal restoran, sih.”

“Aku enggak bisa sih, kalau harus pakai gadget selain dari Apple.”


BACA JUGA: Kamu muda tapi malas-malasan? Malu dong sama para lansia yang semangat bikin 15 karya mural keren ini!


Nah, yang gitu-gitu loh, yang kadang sering bikin ribet diri sendiri. Tapi kebocoran anak muda juga bisa timbul dari lini yang lain. Mungkin mereka kalau makan fleksibel. Tempat mahal oke, tempat murah pun jadi. Atau mungkin mereka pernah punya suatu masa di mana nongkrongnya di angkringan melulu. Namun frekuensinya terlalu rapat dan sering. Kalau begini yang terjadi, masalah berarti ada pada manajemen keuangan. Harus ada anggaran untuk nongkrong: 7% dari jumlah gaji, misalnya. Kalau mau perputaran keuangannya terjaga, berarti setiap bulannya jangan sampai lebih dari 7% itu, Kawan Muda. Gitu.

2. Membeli buku karena pengin, padahal yang lama belum dibaca.

buku
Foto : www.natgen.org

Apakah kamu termasuk Kawan Muda yang doyan baca? Kalau iya, pasti kamu pernah jadi orang yang beli buku cuma gara-gara pengin. Padahal, buku-buku lama menumpuk dan belum dibaca. Sama seperti nongkrong tadi, sih. Ada baiknya dibikin anggaran: 5% gaji, misalnya. Tapi syarat jumlah 5% itu bisa cair, kalau buku-buku yang dibeli sebelumnya, sudah dibaca habis. Kalau belum dibaca sampai habis, jangan.

Kalau dibikin sistem seperti itu, pasti kamu jadi terpacu untuk lebih rajin membaca. Bertanggungjawab kepada buku-buku yang telah engkau beli, dengan jalan, membacanya sampai tuntas! Lalu kalau di tengah-tengah kamu mengeluh:

“Ah, aku salah beli buku. Ini buku jelek! Aku tak sanggup menghabiskannya!”

Katakan pada dirimu:

“Aku harus menghabiskannya, apa pun yang terjadi. Anggap saja ini sebagai hukuman atas keteledoranku dalam memilih buku. Sehingga esok hari aku bisa memastikan bahwa: aku hanya membeli dan membaca buku-buku dengan kualitas terbaik!”

3. Mau via online, mau belanja langsung, tabiat belanjanya sama saja: beringas!

belanja
Foto : www.cyprusupdates.com

Lha ini. Kalau memang mentalnya gemar menghambur-hamburkan uang untuk belanja, memang susah sih. Mau belanja via online, mau offline, beringas ya beringas.


BACA JUGA: Inilah 7 alasan kenapa jangan terlalu serius pacaran di usiamu yang masih muda!


Bedanya, kalau via offline, barang-barang tersaji dengan jelas di depan mata kamu. Sementara online, barang-baran lainnya tersaji dalam bentuk gambar.

4. Membeli gadget lantaran jadul, bukan karena yang lama rusak.

via: www.huffingtonpost.com

Kata ‘jadul’ itu konotasinya bisa beragam. Bisa karena memang gadget itu lebih cocok untuk menimpuk anjing dan tengah menjalani masa-masa pensiun dalam kondisi sekarat. Atau bisa juga berarti teknologinya ketinggalan selangkah.

Bagi gadget freak (sebutan untuk penggila gadget) smartphone milik teman-teman sudah 4G, dan miliknya masih 3G, itu sudah dianggap jadul. Jadi konotasi jadulmu, cenderung yang mana?

Anak muda juga kerap bocor finansialnya pada bagian ini: membeli gadget lantaran jadul, bukan karena yang lama rusak.

5. Kalau pakai barang-barang pokok, boros.

via: madamenoire.com

Kawan Muda, pasti tahu dong kalau barang pokok itu merupakan barang primer. Yang jelas-jelas itu masuk list kebutuhan. Maka, pergunakanlah itu secara bijak. Kayak misalnya kamu memakai sabun cuci. Kalau kamu belum paham berapa takaran yang pas, paling enak sih ikut aturan yang ada pada bungkus sabun cuci.

Atau misalnya kamu menggunakan sabun mandi. Ya gunakanlah itu untuk mandi. Kalau mandi pun, mengoleskan sabunnya juga sewajarnya. Tak perlulah mengolesi bagian tertentu secara berlebihan. Dan jangan sampai mengolesi bagian tertentu tersebut saat kamu tidak mandi.


BACA JUGA: Tanpa harus ke kafe, sekarang kamu bisa membuat minuman dengan resep ala Kita Muda ini


Ini yang Kita Muda maksud, tangan loh ya. Jadi tolong, jangan berpikir ngeres. Nanti pikiran kita jadi sama. Mengapa tidak boleh mengolesi tangan menggunakan sabun mandi secara berlebihan? Ya karena, kalau kamu mau makan, sabun khusus untuk cuci tangan sebelum makan itu ada kok. Dan, itu bukan sabun mandi. Gitu.

Irit-iritlah menggunakan barang-barang pokok.

6. Malas menabung.

menabung
Foto : tweakyourbiz.com

Sudah manajemen keuangan amburadul, tak menabung pula. Ini ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, yang tangga tersebut lagi dinaikin orang. Jadi, tertimpa tangga dan orang yang naik tangga tadi. Keapesan ganda.

Kawan Muda, menabung itu sebetulnya ya menabung saja. Keribetan, sesungguhnya hanya ada pada isi kepala kita sendiri, yang mengharuskan bahwa menabung itu harus sekian juta. Padahal enggak. Mau beli celengan dan berniat menabung khusus uang 100 ribu, atau 50 ribu, atau 20 ribu, dan bahkan 10 ribu pun jadi.

Katakanlah, nominal yang kamu pilih adalah 20 ribu. Lalu, berjanjilah pada dirimu sendiri, bahwa ketika ada uang pecahan 20 ribu, langsung masukkan ke celengan. Sementara, enggak usah pakai mikir dulu. Karena target pertama, yang penting sudah memiliki kebiasaan dulu. Setelah kebiasaan terbentuk, barulah berpikir seperti:

“Wah, ternyata kalau menabung ke rupiah, kita termakan inflasi, ya? Bener nih, yang paling baik adalah investasi ke emas. Baik itu dalam bentuk dinar maupun emas batangan.”

10 hal yang gampang dibeli kalau kamu jadi miliarder

Memiliki rumah yang nyaman, bergaya, dan luar biasa indah merupakan impian setiap orang setelah mencapai usia dewasa. Namun sayangnya, mimpi itu kerap kali kita tunda lantaran tabungan yang sering minus.

Bahkan kalaupun kamu udah punya rumah sederhana, entah kenapa terkadang ada rasa nggak puas dan ingin segera merombak rumah sesuai keinginan kita. Sekadar bermimpi menjadi milader dan punya hunian yang mewah sih nggak masalah ya…siapa tau terkabul.

 

BACA JUGA: Alasan mengapa orang kaya bertambah kekayaannya, dan orang miskin semakin miskin

 

Nah, karena bermimpi itu nggak dilarang, yuk sekalian aja Kita Muda ajakin untuk berangan-angan lebih dalam. Kalau kamu jadi milioner, mungkin 10 hal ini bisa kamu dapatkan dengan mudahnya:

#1. Dulu waktu kecil yang sering bermimpi punya rumah pohon, kalau punya duit banyak tentu bakalan jadi kenyataan ya

via : brightside.me

#2. Sebuah tempat tidur gantung yang manis kayak gini mah, sekejab juga jadi kenyataan

via : brightside.me

#3. Kalau punya duit seabrek mah, mau bangun water slide di kamar tidur yang langsung menuju ke kolam renang

via : brightside.me

#4. Bikin mini home theater di rumah sendiri biar nggak kerepotan harus ke bioskop

via : brightside.me

#5. Bikin kamar tidur yang temboknya itu bisa digeser. Mewah !

via : brightside.me

#6. Membuat kolam renang indoor maupun outdoor jadi satu

via : brightside.me

#7. Karena kamu orang kayahh, bikin rumah dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke danau bukan perkara sulit

via : brightside.me

#8. Pintu rahasia yang tertutup buku-buku. Duh impian jaman anak-anak banget deh.

via : brightside.me

#9. Beli pulau pribadi lautan pacific! Sadissss….

via : brightside.me

#10. Kalau Kawan Muda jadi miliader, bikin perpustakaan yang cozy banget buat menghabiskan waktu bersama teman-teman juga cucok

via : brightside.me

***

Bermimpi itu asik banget ya, apalagi kalau ngayal jadi orang kaya, wah semua pingin dibeli dan diwujudkan. Menurut kamu selain 10 hal di atas, ada yang ingin kamu wujudkan nggak kalau jadi miliader kelak?

 

BACA JUGA: Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

 

Tuliskan keinginanmu di kolom komentar ya!

Mengapa pria berpekerjaan mapan tak perlu khawatir dengan wanita berpenghasilan?

Banyak kasus perceraian terjadi lantaran beberapa sebab, salah satunya ialah adanya kesenjangan penghasilan antara suami dan istri. Wanita berpenghasilan, baik ia berkarir maupun berwirausaha, kerap sekali menjadi momok bagi para pria akan kelangsungan rumah tangganya. Ketakutan serupa tak hanya dialami oleh mereka yang telah berkeluarga saja. Pria-pria yang sedang merencanakan pernikahan, namun sadar pekerjaannya kalah mapan, juga berkali-kali pikirannya dihantui kecemasan.

Kalau ketakutan sudah mencapai tahap ini, seharusnya ada hal yang harus diperbincangkan lagi soal pernikahan. Bukankah hakikatnya, suami dan istri itu merupakan partner? Bukankah salah satu pekerjaan partner ialah mensukseskan tujuan bersama bagaimanapun caranya? Tentu, bila wanita meninggalkan pria hanya karena pekerjaan, maka bisa dilihat dengan jelas apa motifnya sejak awal dibalik pernikahan. Pria yang belum mapan namun terus mengedepankan upaya, itu harus dihargai setinggi-tingginya. Tolong bedakan dengan pria belum mapan yang penyebabnya karena malas-malasan.

 

BACA JUGA: Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

 

Jika Kawan Muda yang sedang membaca ini termasuk suami berpekerjaan mapan yang beruntung menikahi wanita berpenghasilan, maka sedikit pun engkau tak perlu khawatir, karena…

1. Penghasilan suami untuk memenuhi kebutuhan pokok, sementara penghasilan istri untuk pemenuhan kebutuhan lainnya.

via: careergirldaily.com

Kalau kamu adalah seorang suami berpekerjaan mapan, maka jelas, semua kebutuhan dan keinginan seluruh anggota keluarga dapat dengan mudah engkau penuhi. Namu bila engkau merupakan suami berpenghasilan pas-pasan, maka paling tidak penghasilan yang telah engkau peroleh itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok rumah tangga. Itu saja dulu. Lalu untuk pembelian hal-hal lain di luar kebutuhan, bisa menggunakan penghasilan si istri.

2. Wanita berpenghasilan akan mendidik anak-anaknya dengan karakter. Ini berguna untuk masa depan keluargamu.

main-dengan-anak-kecil
Foto : funshineblog.com

Seorang wanita, bisa menjadi wanita berpenghasilan, tentu setelah melewati banyak tempaan. Ia berdisiplin diri, beretos kerja tinggi, yang itu semua membuatnya menjadi wanita tangguh. Berkarakter kuat.

 

BACA JUGA: 4 kisah pengorbanan cinta penuh haru yang bikin kamu merasa bahwa perjuanganmu untuk cinta belum ada apa-apanya!

 

Kawan Muda yang laki-laki, apabila istrimu berpenghasilan, maka buanglah rasa minder. Fokus saja kepada kebaikan-kebaikan apa saja yang bisa semesta berikan atas adanya kondisi semacam ini. Kamu bisa memulainya dengan mensyukuri keadaan bahwa ternyata kelak anak-anakmu akan memperoleh pendidikan karakter yang tangguh dari istrimu.

3. Istri adalah cerminan suami, begitu pula sebaliknya. Kalau istrimu saja keren, apalagi kamu?

via: HallmarkMoviesandMysteries.com

Kalau hari ini kamu minder dengan kondisi ini, berarti kamu sedang melupakan penyebab berjodohnya engkau dengannya. Bukankah wanita yang baik untuk lelaki yang baik, dan begitu pula sebaliknya?

Jika kamu hari ini masih kalah soal penghasilan, pertama-tama, syukurilah bahwa istrimu keren sekali. Selanjutnya, yang perlu kamu tanamkan adalah: “Karena istrimu keren, apalagi kamu? Pasti lebih keren!”

Berpikiran positif saja bahwa kalau saat ini kamu belum terlihat keren, mungkin ada beberapa hal dalam diri yang harus segera dibenahi. Ubahlah itu, dan percayalah bahwa hal-hal baik kemudian akan datang.

4. Karir yang diraihnya sekarang merupakan hal yang pantas dibanggakan.

via: xworkinternational.com

Tidak mudah untuk meraih karir yang istrimu peroleh sekarang. Butuh perjuangan tanpa henti dan jiwa baja untuk meraihnya.

 

BACA JUGA: 5 alasan mengapa uang sangat menentukan kehidupan cintamu

 

Secara pribadi, kamu bisa membanggakan hal ini. Lalu di sisi lain, kamu juga turut meningkatkan karir serta pendapatanmu. Agar tak hanya kamu saja yang bisa membanggakannya. Namun ia juga berhak membanggakanmu.

5. Kumpul keluarga akan menjadi momen langka yang mahal. Sehingga wajar bila tak ingin melewatkannya secara sia-sia.

via: Heavy.com

Bagi keluarga yang suami dan istrinya bekerja, berkesempatan untuk kumpul tentu merupakan momen langka yang mahal sekali untuk diperoleh. Tak bisa sewaktu-waktu. Maka tak heran bila liburan tiba, dan semuanya bisa berkumpul, keluarga semacam ini tak akan melewatkannya begitu saja.

Kalau keluarga kamu juga seperti ini, maka syukurilah. Karena keluarga lain belum tentu bisa menikmati liburan mereka secara maksimal. Bukankah pepatah bijak pernah mengatakan: “Work hard, play hard?”

Udah dibela-belain berhemat, tapi masih tetap susah menabung? 5 hal ini mungkin penyebabnya

tidak punya uang

Memiliki pengetahuan yang baik mengenai keuangan, itu satu hal. Sementara sanggup mengaplikasikannya, itu hal lain. Dari sekian saran yang kerap digaungkan oleh financial planner, salah satu halnya – yang mungkin sejak kecil kita selalu diajarkan – ialah menabung.

Mungkin beberapa dari Kawan Muda, termasuk yang nulis ini, pernah punya fase hidup di mana begitu meremehkan tentang menabung. Entah itu hanya berlangsung dahulu kala, atau masih terjadi sampai hari ini, hanya Tuhan dan masing-masing pribadi yang tahu. Tapi kalau penulis boleh mengaku, sebetulnya masih merasa susah menabung juga. Padahal, sudah dibela-belain ngirit biar banyak uang yang tersimpan. Namun yang terjadi, malah tak ada uang yang terkumpul.

 

BACA JUGA: Merantau ke kota besar untuk bekerja? Ikuti 5 tips ini biar kamu bisa hidup hemat dan survive

 

Setelah penulis banyak merenung dan menyepi di goa, akhirnya ketemulah penyebab yang setelah dipadatkan, jumlahnya ada lima. Layaknya jumlah balon kamu yang rupa-rupa warnanya itu. Siapa tahu penyebab di bawah ini sesuai dengan yang sedang atau pernah Kawan Muda alami.

1. Sejak awal, sama sekali tak pernah punya jawaban atas pertanyaan: mengapa harus menabung?

menabung
Foto : tweakyourbiz.com

Menetapkan tujuan sejak awal itu penting, karena itu bisa dijadikan sebagai motivasi. Kita Muda sih berani bilang bahwa kalau kamu jarang mendengarkan nasihat tentang mengelola uang, namun kerap berpegang teguh pada tujuan ‘mengapa harus menabung?’, maka niscaya engkau lebih bersedia untuk mengalokasikan uang-uang mingguan atau bulananmu. Setidaknya, itu selangkah lebih baik daripada kerap membaca dan mendengarkan tentang nasihat keuangan, namun tak pernah mempraktikkannya.

Apakah itu berarti membaca dan mendengarkan tentang nasihat keuangan dari financial planner itu tidak penting? Ah, ya tidak begitu logikanya. Kalau Kawan Muda mau yang paling baik, ya lengkapi diri dengan sering-sering membaca dan mendengarkan tentang nasihat keuangan, serta getol mengamalkan ilmu yang diperoleh. Tapi kalau masih susah mencapai kelengkapan itu, ya paling enggak, sudah praktik dulu. Bukankah begitu?

2. Gaji pas-pasan selalu dijadikan kambing hitam.

pinjam uang
Foto : www.pinjam.co.id

Pada hakikatnya, menabung itu bukan tentang seberapa banyak pemasukan yang diperoleh. Karena dunia ini banyak sekali memberitakan tentang tukang sampah yang sampai bisa berqurban, atau tukang bangunan yang sanggup mengkuliahkan seluruh anaknya, atau bahkan tukang bubur yang bisa naik haji.

 

BACA JUGA: Meneladani 9 kebiasaaan Mark Zuckerberg, biar kamu cepat kaya

 

Jadi sampai di sini, kemudian Kita Muda berkesimpulan bahwa yang mula-mula paling penting itu menyelesaikan urusanmu pada poin pertama yang sudah Kita Muda tulis pada artikel ini. Ya, tetapkan dulu tujuanmu. Nanti itu untuk pegangan. Kesungguhan kamu akan menabung, bukan terletak pada seberapa sering kamu cerita ke orang lain. Namun bagaimana kamu bisa menjaga ritme konsistensi untuk terus menabung. Sehingga enggak bakal ada cerita kamu mencari kambing hitam.

Nabung sedikit? Boleh. Nabung banyak? Sah. Mau berapa pun, yang penting konsisten!

3. Pengeluaran bulanan selalu mengalami pembiaran, tanpa adanya anggaran.

belanja dengan ibu copy
Foto : blackhillsparent.com

Seringkali orang-orang memiliki siklus terbalik dalam menabung. Contoh: setelah gajian, uang dipakai untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Kalau semua sudah dipenuhi, lalu sisanya baru dipakai untuk menabung. Kalau begitu caranya, maka tak heran kalau menabung menjadi sebuah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kalau nabung aja susah konsisten, lantas bagaimana dengan nominal yang seharusnya jumlahnya konsisten.

Semakin ke sini, penulis semakin menyadari bahwasanya untuk bisa konsisten, harus ada harga yang mesti dibayar. “Kudu wani perih!” kalau kata orang Jawa. Salah satunya dengan mendahulukan menabung, saat uang pertama kali diperoleh. Semisal gajimu 2,5 juta, sementara kamu berkeinginan menabung 500 ribu setiap bulan, maka uang 500 ribu itu harus kamu tabung terlebih dahulu. Baru sisanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kesediaanmu membuat pressure sejak awal, membuatmu harus kreatif memutar otak: bagaimana caranya agar uang 2 juta yang ada, bisa cukup untuk hidup sebulan.

Sulit? Ah, cuma belum terbiasa.

4. Tekad bulat berhemat selalu tumbang oleh godaan diskon.

menunggu cewek belanja
Foto : blogs.ft.com

Jangan berpikir, meski kamu telah mengamalkan 3 poin di atas, lantas tak terserang godaan diskon. Diskon ada di mana-mana, dan mereka siap merobek isi-isi kantong yang menganga. Ada yang udah nabung dulu, tapi setelah termakan godaan diskon, lalu ternyata uang yang ada dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya uangnya ditarik lagi. Ada, pasti ada!

5. Ada yang lebih kacau daripada diskon: jiwa konsumtif!

belanja
Foto : www.cyprusupdates.com

Ini hampir senada dengan poin 1-4 sih. Cuma, walau telah ditabung, meski jiwa konsumtif ada, maka tetap saja ia akan menggerogoti lini penting dalam keuanganmu. Termasuk, lini paling primer sekalipun. Jadi, waspadalah!

 

BACA JUGA: Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

 

Kawan Muda punya keluhan lain kenapa susah banget nabung? Share di kolom komentar sini dong!

Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

Berbicara tentang kaya dan miskin, di sini Kita Muda lebih tertarik untuk membahas mengenai mental manusianya. Bukan jumlah uang yang dimilikinya. Karena Kita Muda percaya, bahwa orang bermental kaya yang belum kaya secara finansial, penggelembungan rekeningnya tinggal menunggu waktu saja. Sedangkan orang bermental miskin yang sedang banyak uang, penyusutan rekeningnya juga hanya soal waktu. Tapi kalau Kawan Muda ada yang bertanya:

“Kenapa di bagian judul tidak diberi tanda kurung, seperti: ‘Mengapa uang rajin mendatangi orang (yang bermental) kaya dan malas mengunjungi orang (yang bermental) miskin?’ Bukankah dengan begitu (calon) pembaca lebih bisa menangkap maksud artikel sejak membaca judul?”

Maka jawaban Kita Muda adalah:

“Pertama, kalau dikasih tanda kurung, judulnya jadi kepanjangan. Kedua, kalau dikasih tanda kurung, judulnya jadi kurang sensasional. Kalau enggak sensasional, nanti kalian enggak pada nge-klik. Kalau enggak pada nge-klik, kamu enggak bakal baca sampai sini dong. Hehehe.”

 

BACA JUGA: Alasan mengapa orang kaya bertambah kekayaannya, dan orang miskin semakin miskin

 

Dalam bukunya yang berjudul ‘Rich Dad, Poor Dad’, Robert Kiyosaki menulis bahwa orang bermental kaya, meskipun masih kecil finansialnya, ia senantiasa berfokus untuk mengumpulkan aset. Seperti menjadi investor pada bisnis, meski kecil-kecilan. Membeli emas batangan. Tanah. Membuat produk-produk intelektual (seperti buku, musik, dan lain-lain) yang setelah dibuat, ia akan menjadi aset sepanjang masa. Terus-menerus memompakan uang untuk si penanam aset.

Sedangkan orang miskin, menurut Robert, lebih sering berfokus membuang uangnya kepada hal-hal yang sifatnya liabilitas. Hal-hal yang bila uang tersebut dibelanjakan, maka nilainya akan berkurang. Seperti membeli mobil baru, kredit motor, gadget, dan sebagainya. Pola pikir orang bermental miskin, semakin banyak penghasilannya, semakin banyak pula keinginannya untuk kredit ini dan itu. Berbeda dengan orang bermental kaya, yang cenderung berminat menanam aset bahkan sejak keuangannya masih kecil. Di bawah ini, Kita Muda akan memaparkan perbedaannya: Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

1. Orang (bermental) kaya, membuat uang mau tak mau butuh untuk datang kepadanya. Orang (bermental) miskin, mengejar-ngejar uang.

Bisnis
Foto : Everydayinterviewtips.com

Logika orang (bermental) kaya agar uang bersedia datang kepadanya ialah dengan mengubah pola pikir. Pertama-tama ia akan berfokus untuk membangun value, terhadap produk atau jasanya. Lalu dengan value yang terbentuk, uang akan datang kepadanya. Lebih banyak, tentu. Berbeda dengan orang yang fokusnya mengejar uang. Mereka akan terus-menerus memenuhi pikirannya dengan kenaikan omset dan laba jangka pendek, tanpa peduli pada jangka panjang produk dan jasa yang ia jual.

Contoh sederhana ini bisa Kawan Muda lihat pada banyak produk-produk di pasaran. Mengapa ayam goreng merk A dan ayam goreng merk B harganya berbeda, padahal sama-sama ayam goreng? Mengapa kopi merk A dan kopi merk B harganya berbeda, padahal sama-sama kopi? Mengapa merk A lebih mahal, sedangkan merk B lebih murah? Jawabannya sederhana: karena selain berfokus kepada produk, merk A juga fokus membangun value. Sedangkan merk B hanya fokus menjual produk.

 

BACA JUGA: Meneladani 9 kebiasaaan Mark Zuckerberg, biar kamu cepat kaya

 

Ini juga bisa Kawan Muda aplikasikan pada diri sendiri. Katakanlah Kawan Muda terjun di bidang jasa. Jadi supir ojek, misalnya. Coba tanyakan pada diri sendiri: apa yang membuat saya bisa lebih laku ketimbang yang lain, meski sama-sama supir ojek? Jawabannya: selain memberi jasa, juga fokus kepada value. Jadilah tukang ojek yang ramah, tepat waktu, memberi kenyamanan kepada penumpang, memberi layanan yang mudah, bergaransi, dan banyak lainnya.

2. Orang (bermental) kaya, membuat dirinya dibutuhkan orang. Sedangkan orang (bermental) miskin, hanya butuh kepada orang kalau pas lagi ada duitnya.

via: pradux.com

Poin ini masih ada hubungannya dengan poin di atas. Masih pakai contoh ‘tukang ojek’ tadi, ya, Kawan Muda.

Kalau kamu menjadi supir ojek yang dikenal memiliki reputasi baik, tentu value yang telah menyebar dari mulut ke mulut tadi (atau berdasarkan rating, mungkin) membuat kamu akan dibutuhkan. Penumpang akan dengan senang hati menggunakan jasamu.

Berbeda dengan supir ojek lain, misalnya. Yang untuk mendapatkan penumpang, ia harus menawari calon penumpang dengan mengejar-ngejarnya:

“Mbak ojek, Mbak. Mas ojek, Mas.” Dan sebagainya.

 

BACA JUGA: Kita harus sukses, meski tidak terlahir dari keluarga kaya

 

Beda dari keduanya, tukang ojek yang selain memberi jasa juga fokus kepada value, akan dicari dan didatangi. Bahkan kalau pelanggan merasa puas dengan jasa yang diberikan, mereka tak segan-segan memberikan uang tambahan secara sukarela. Bandingkan dengan tukan ojek yang hanya mengejar uang saja. Mereka sudah susah-susah mencari penumpang, harus rebutan dengan tukang ojek lain pula, eh setelah dapat, sama si penumpang pas dikasih tahu harganya malah ditawar.

3. Saat orang dan uang belum mendatanginya, orang (bermental) kaya akan merintis jalan uang jangka panjang. Sedangkan orang (bermental) miskin akan menghabiskan waktu untuk mencari-cari uang dan orang.

via: linkedin.com

Ya, memang, dalam hidup ini pasti ada saat-saat di mana manusia hadir dalam keadaan nol. Belum punya skil. Lah, kalau skil saja belum punya, bagaimana mau membangun reputasi?

Orang (bermental) kaya dan orang (bermental) miskin memiliki cara berbeda dalam menghadapinya.

Orang (bermental) kaya akan dengan senang hati menempa diri. Mengasah dirinya dengan kemampuan-kemampuan yang membuat dirinya dibutuhkan. Lalu ketika kemampuan telah dikuasai, pelan-pelan ia akan membangun value.

Sementara orang (bermental) miskin, akan bergerak seperti kutu loncat. Ia akan ada di tempat di mana ada uang banyak berputar. Kalau ada uang, ia ada. Kalau uang tak ada, ia pergi. Mencari tempat lain yang menguntungkan. Tak ayal, orang-orang macam ini sering dicap: cuma datang kalau lagi ada perlunya. Atau bahkan pasangannya (suami/istri) akan mengatainya: hanya disayang, kalau sedang ada urusan ranjang!

 

BACA JUGA: Kata siapa jadi karyawan gak bisa kaya? Menjadi karyawan di 8 industri ini bisa bikin kamu berlimpah harta!

 

Oh ya, Kawan Muda, ngomong-ngomong, contoh-contoh yang Kita Muda pakai di atas ialah contoh saja. Tidak ada maksud apa pun. Kamu pun bisa merubah contoh tersebut dengan hal-hal lain, seperti menjadi tukang cukur, menjual makanan, menjadi penulis, dan banyak hal lainnya. Beda contoh, tentu berbeda pula komponen-komponen yang bisa meningkatkan value sebuah produk atau jasa. Gitu!

7 dampak buruk yang terjadi gara-gara adanya rupiah dengan desain baru

Meskipun Reny Eka Putri yang notabene ialah seorang Analis mengatakan bahwa dengan adanya uang desain baru ini inflasi masih terkontrol di level yang rendah (di bawah 4%), dan dampaknya ke market pun tidak terlalu signifikan, ditambah pernyataan dari Rully Arya Wisnubroto (seorang Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk) yang mengatakan bahwa menurut perkiraannya, kebijakan desain rupiah baru ini tidak akan berpengaruh terhadap laju kurs rupiah, namun tetap saja adanya rupiah desain baru ini akan membawa beberapa dampak buruk, di antaranya:

1. Kamu akan melihat, di jalan ada banyak orang yang menawarkan jasa tukar-menukar uang.

via: NUSANTARAnews.co

Siklus ini dimulai dari para pemberi jasa itu berbondong-bondong pergi ke bank untuk menukar uang. Kalau mereka sudah mengantongi banyak uang baru, kemudian mereka akan menggelar tikar di jalan dan membuka lapak yang bertuliskan:

“Menerima penukaran uang rupiah desain baru!”

 

BACA JUGA: 5 alasan mengapa uang sangat menentukan kehidupan cintamu

 

Dampak buruk ini terjadi karena biasanya mereka membuka jasa beginian di pinggir jalan. Tentu ini akan mengganggu pengguna jalan yang lagi pada jalan-jalan atau jongging di trotoar. Jadi biar tak mengganggu pejalan kaki, si pemberi jasa tukar uang mungkin bisa menggelar lapaknya di tengah jalan. Eh, tapi kan nanti bisa ketabrak.

2. Para warga akan membabi buta memburu uang desain baru.

via: Jateng.MetroTVNews.com

Nah, ini. Kebanyakan warga kita kan pada latah. Jadi kalau ada hal-hal macam desain rupiah baru gini, mereka pasti akan segera memburu secara membabi buta. Mendatangi si pemberi jasa tukar uang yang buka lapak di pinggir jalan itu. Tentu ini akan membuat jalan menjadi ramai, dan lebih mengganggu pejalan kaki, bukan?

3. Kalau udah dapet, cepet-cepetan posting di sosmed.

via: blog.sribu.com

Udah latah, haus eksistensi pula. Beginilah potret kaum kita, Kawan Muda. Mereka begitu ingin menjadi yang pertama dalam hal kepemilikian rupiah dengan desain baru.

 

BACA JUGA: Selalu Punya Uang Tapi Terus Merasa Kurang? 13 Quotes Ini Akan Membuatmu Bersyukur!

 

Jadi dampak buruknya, kamu pasti bakal jenuh melihat timeline yang isinya hanya begitu-begitu saja.

4. Di sosial media, akan banyak bertebaran lawakan: “Maafkan aku yang dulu,” kata uang baru ke uang lama.

via: KerikilBerlumut.com

Dari sekian postingan soal uang baru di sosial media, pasti ada aja lawakan-lawakan yang materinya soal desain rupiah baru ini. Dari sekian lawakan itu, pasti ada lawakan yang kayak Kita Muda tulis pada poin artikel ini. Tapi, ya, kalau enggak ada, berarti Kita Muda doang nih yang bikin lawakan begini. Hehehe.

5. Buat yang mau nikah, mempelai wanita pasti menuntut maharnya harus pakai uang desain baru!

via: MaharUangTegal.Blogspot.com

Hey Kawan Muda yang cowok-cowok, yang pada mau nikah, siap-siap aja ya kalau calon istrimu menuntut mahar yang harus pakai uang rupiah desain baru.

 

BACA JUGA: Ingin keuanganmu sehat? Nggak boros? Gunakan metode “Budget Jar” dalam mengelola keuangan

 

Belum lagi kalau uang itu harus disusun sedemikian rupa membentuk sesuatu gitu. Ribet nggak tuh!

6. Disayang-sayang kalau mau buat beli ini dan itu. Akhirnya jadi ngirit deh.

via: Twicsy.com

Mungkin saat membaca poin ini, kamu bakal berpikir:

“Bukannya ngirit itu dampak yang baik, ya?”

Eit, tunggu dulu. Tunggu dulu. Kita harus pikirkan bagaimana dampak terlalu sayang dengan rupiah desain baru ini. Terlalu sayang kan dampaknya enggak baik kan ya. Yah, namanya juga sayang. Saking sayangnya, perut lapar aja duitnya enggak dipakai untuk jajan. Terus kelaparan. Lalu akhirnya menderita busung lapar. Nah, kan, jadi dampak buruk, kan?

7. Penjual uang mainan terpaksa harus ganti template!

via: UangMainan.WordPress.com

Dulu kalau mau mencetak uang mainan, penjual uang mainan enak. Mereka tinggal ngeklik print doang. Kemudian uang-uang mainan itu akan tercetak dengan sendirinya.

 

BACA JUGA: Agar keuanganmu sehat, ikuti 5 tips mengatur keuangan berikut ini ya

 

Nah sekarang, gara-gara adanya uang desain baru ini bikin mereka harus desain ulang. Kalau kemarin-kemarin waktunya bisa dipakai untuk jualan, sekarang malah waktunya seharian dipakai buat desain doang. Tuh, jadi enggak dapat penghasilan kan!

Untuk kamu yang masih mencari penghasilan tambahan saat akhir pekan, 8 hal ini pasti akrab sekali denganmu

Buat kamu yang masih cari tambahan penghasilan waktu weekend, pernah mengeluh nggak? Atau sering bertanya-tanya kapan waktunya liburan?

Liburan bagimu hanya fatamorgana, kamu sering iri hati melihat teman-temanmu yang bisa bersantai waktu weekend tapi kamu sendiri malah sibuk lembur cari duit tambahan.

Merasa sebal? Iya. Tapi penderitaan itu pada akhirnya tak membuatmu mengeluh terus-menerus. Sepertinya malah sudah jadi kebiasaan. Dulunya mungkin sering mengeluh tapi lama kelamaan cari ceperan (istilah lain dari mencari uang tambahan) pas weekend itu seperti sahabat baik. Ia bisa saja hadir dalam saat-saat dramatis yang bisa menyelematkan isi dompetmu dikala kempis.

 

BACA JUGA: Merantau ke kota besar untuk bekerja? Ikuti 5 tips ini biar kamu bisa hidup hemat dan survive

 

Kalau dikasih pilihan, tentu nggak mau untuk tetap kerja di waktu libur tapi bukan hanya itu yang dipikirkan. Melainkan kebutuhan hidup yang terus menghimpit, akhirnya mau tak mau  berkerja ekstra demi mencukupi segalanya. Mungkin kamu bahkan sering merasakan 8 hal ini saat bekerja di akhir pekan :

#1. YA! Demi kebutuhan, kamu rela meluangkan waktu libur demi mendapat ceperan yang kadang nggak seberapa

via: papasemar.com

Memenuhi kebutuhan adalah faktor utama kenapa kamu harus kerja lembur pas weekend. Faktor lain-lainnya mungkin karena deadline yang belum kelar,  bahkan karena tuntutan pekerjaan yang membuatmu harus datang ke kantor atau bahkan sekadar meeting.

Meski ceperan yang didapat kadang nggak sesuai ekspektasi tapi mau gimana lagi? Kerja ikut orang tentu resikonya akan seperti ini. Apapun itu, bekerja di akhir pekan adalah hal yang wajib bukan lagi pilihan. Nggak munafik juga karena kamupun butuh uang tambahan.

#2. Apalagi yang kerjanya shift-shift-an, libur seperti nggak libur, kerja tapi jadwalnya berubah-ubah. Sering merasa kesepian apalagi kalau libur pas weekday

Menunda Pekerjaan
Foto : csdnews.com

Kalau kantormu punya sistem kerja shift-shift-an, selamat deh kamu bakalan jadi orang yang nggak tentu liburnya kapan. Jangan berharap juga mendapat libur pas weekend karena itu jarang banget.

 

BACA JUGA: Bingung mencari pekerjaan yang cocok? Tanyakan 5 hal ini sebelum kamu memutuskan akan bekerja di mana

 

Bahkan kamu bakalan ngerasa kesepian, karena di saat liburanmu jatuh pada weekday kamu nggak bisa menikmati waktu libur bersama keluarga soalnya pada masuk kerja. Jangan juga berharap bisa nongkrong bareng temen, karena mereka juga sibuk kerja.

#3. Terkadang bekerja di akhir pekan membuatmu nggak fokus, sering kepikiran kapan kamu bisa istirahat dan bersenang-senang

via: Heavy.com

Jika kamu bekerja 8 jam selama 5 hari, kamu masih punya waktu 2 hari untuk quality time bareng keluarga, pacar atau teman. Tapi karena weekendmu diisi dengan kerja lembur, otomatis kamu akan kehilangan segala hal yang menyenangkan bersama kerabat terdekat.

Tentu itu berimbas pada semangatmu yang tiba-tiba menurun drastis. Bekerja jadi nggak fokus karena masih kepikiran hal-hal menyenangkan yang mestinya kamu lakukan saat itu.

#4. Sering mengeluh sih, katanya akhir pekan itu waktu untuk keluarga. Tapi mau gimana lagi, kamu harus tetap semangat bekerja

via: mobilejazz.com

Disela-sela kerja lemburmu selalu kepikiran orang rumah. Setelah 5 hari kerja seharusnya weekendmu hanya untuk keluarga. Meskipun nggak pergi kemana-mana, hanya sekadar kumpul bersama atau jalan-jalan sore bareng teman.

 

BACA JUGA: Ini dia 7 pekerjaan yang dianggap paling buruk bagi kesehatan. Kamu gak bakal nyangka!

 

Tapi itu semua cuma angan-angan, karena pada kenyataannya kamu masih duduk di meja kantor dan sibuk mengetik kerjaan. Yah!

#5. Setiap ada ajakan main dari teman, kamu cuma bisa nyengir dan janji-janji doang bakalan datang padahal lagi kerja

via: pradux.com

Momen lain yang sering dirasakan orang yang masih kerja pas weekend itu susah banget untuk menetapkan janji hangout. Setiap kali diajak teman, alasan yang sama selalu aja jadi tameng. Kerja, kerja dan kerja.

Kadang beberapa teman jadi nggak percaya, kamu beneran kerja apa cuma php?. Soalnya tiap kali diajak keluar pas weekend selalu nggak bisa. Di situ kamu cuma bisa nyengir sambil mengelus dada aja, aslinya juga kepingin ikutan tapi apa daya deadline selalu menghantui.

#6. Jangan berharap ada acara dinner romantis malam minggu bersama pacar. Yang ada kamu langsung terkapar habis pulang kerja

tidur siang
Foto : www.wellnessalbertamag.com

Katanya punya pacar tapi kok nggak pernah malam mingguan?

Buat kamu yang udah punya pacar tapi masih kerja pas malam minggu, pertanyaan ini udah jadi angin lalu di telinga kamu.

 

BACA JUGA: Tutorial pencitraan di media sosial biar kamu terlihat udah kerja, meski aslinya masih nganggur!

 

Merasakan romantisnya dinner bareng pasangan, kencan berdua hingga larut malam, nonton atau ngasih surprise ke si doi, cuma angan-angan belaka gaes. Yang ada, dibenakmu sekarang adalah gimana caranya segera lepas dari kerjaan dan buru-buru tepar di kasur yang empuk. Melepas penat dan lelah setelah seminggu full diforsir kerja.

#7. Jenuh adalah satu kata yang menggambarkan segala tuntutan kerjaan tapi kamu nggak ada kesempatan untuk melepasnya

via: LeadersInstitute.com

Kalau ditanya, kamu capek nggak? Jenuh nggak? Jawabanmu udah pasti jelas…JENUH BUANGET.

Ada kalanya kamu menginginkan istirahat sehari aja, atau diberi kesempatan untuk liburan seminggu aja itu udah BONUS. Terselip pikiran jahat ketika otakmu buntu, misalnya alasan sakit atau nggak ngangkat telpon dari atasan biar nggak disuruh gantiin meeting.

Tapi, pikiran buruk itu kadang bikin kamu takut sendiri dan pada akhirnya nggak bisa lepas dari kenyataan kalau kamu harus tetap menjalani rutinitas itu sebuntu dan sejenuh apa pikiranmu.

#8. Meski begitu kamu juga sadar, kalau dikerjakan setengah hati bisa merugikan diri sendiri. So, nikmati ini semua demi masa depan

bekerja
Foto : resveralife.com

Tentu bekerja pas weekend itu banyak resiko dan halangannya. Mulai dari jenuh, bekerja jadi setengah-setengah, banyak mengeluh kadang bikin badan ngedrop. Tapi itu semua kalau nggak dijalani sedikit demi sedikit bisa makin menumpuk lalu merugikan diri sendiri.

 

BACA JUGA: 17 Pekerjaan maut di belahan dunia

 

Yang namanya hidup mungkin memang harus usaha lebih karena pengorbanan nggak akan mengkhianati hasil. Ini semua demi masa depan, dari pada meratapi nasib ada baiknya kamu syukuri dan mencoba untuk bersahabat dengan keadaan.

SEMANGAT !!!

 

Alasan mengapa orang kaya bertambah kekayaannya, dan orang miskin semakin miskin

“Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,”

Kawan Muda pernah mendengar potongan lagu di atas? Kalau sudah, ngomong-ngomong, lirik lagu di atas banyak benarnya juga. Lalu bila ada pertanyaan: mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya ada pada caranya mencari uang. Orang miskin berpikir bahwa kaya itu berarti punya uang banyak. Sementara orang kaya, berpikir bahwa kaya itu ditandai dengan seberapa banyak investasi yang dimiliki.

Hal lain yang membedakan antara orang kaya dengan orang miskin, terletak pada mental dan kebiasaan keduanya. Lantas, seperti apa perbedaan antara mental orang kaya dan mental orang miskin? Mari kita bedah satu-satu!

1. Kemiskinan, salah satunya disebabkan karena mereka gagal mengatur uang.

via: money.usnews.com

Pada sebuah film dokumenter yang rilis pada tahun 2005 menunjukkan seorang gelandangan yang diberi uang sekitar 1,4 milyar. Ia dibebaskan untuk melakukan apa pun dengan uang tersebut. Setelah 6 bulan, apa yang terjadi? Uangnya habis dan ia kembali menjadi gelandangan. Ini menunjukkan bahwa mereka gagal mengatur uang.

2. Orang kaya gemar menambah aset dan investasi, sementara orang miskin rajin membuat keputusan bodoh yang semakin memperburuk kondisi finansialnya.

via: papasemar.com

Lagi-lagi berbicara tentang mental. Orang kaya percaya bahwa kekayaan itu dihitung dari seberapa banyak aset yang dimiliki. Dari aset itu, berapa omset yang dihasilkan. Dari omset tersebut, berapakah laba yang masuk.

 

BACA JUGA: Meneladani 9 kebiasaaan Mark Zuckerberg, biar kamu cepat kaya

 

Berbeda dengan orang miskin yang rajin membuat keputusan bodoh yang semakin memperburuk kondisi finansialnya. Mereka tahu kalau rejeki terkadang datang dari relasi, namun tak kunjung membangun relasi. Mereka lebih suka mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sifatnya jangka pendek. Kalau ada peribahasa, maka yang tepat bagi mereka adalah: lebih besar pasak daripada tiang. Bagaimana tidak, mereka lebih suka terlihat kaya padahal uang tak ada. Ketimbang terlihat apa adanya sesuai kondisi keuangannya.

3. Bagi orang kaya, tak punya uang hanyalah keadaan sementara. Namun bagi orang miskin, tak punya uang ialah akibat dari mentalnya.

via: cirencester-baptist.or

Apa yang orang miskin miliki untuk menghasilkan uang? Jawabannya adalah waktu dan tenaga. Waktu bisa dipakai untuk mencari relasi, membangun bisnis, mengasah skil, dan banyak lagi. Sementara tenaga berperan untuk mengeksekusi ketika kesempatan hadir. Namun faktanya, mereka lebih banyak menggunakan waktu dan tenaganya untuk khawatir tentang:

“Besok makan apa?” “Bagaimana nasib saya besok?” Dan banyak lagi. Berbeda dengan orang bermental kaya. Mereka menganggap bahwa tak punya uang itu cuma keadaan sementara. Ia masih punya waktu dan tenaga, lalu mengisinya dengan hal-hal yang tak dilakukan oleh orang-orang bermental miskin.

4. Siklus keuangan yang berbeda, antara orang bermental kaya dengan orang yang bermental miskin.

via: Walletline.com

Jika orang bermental miskin diberi uang, maka hanya 1 hal yang akan mereka lakukan: membuangnya. Menghabiskannya. Yang sama sekali (tempat membuang uang itu) tak akan menghasilkan uang baginya.

 

BACA JUGA: Kita harus sukses, meski tidak terlahir dari keluarga kaya

 

Orang bermental kaya melakukannya dengan cara yang berbeda. Mereka membuang uang dalam bentuk aset atau investasi. Seperti, ketika sedang bekerja, uang dari gaji dibagi dua: pertama untuk kebutuhan, dan kedua untuk membuka bisnis. Besar atau kecil suatu bisnis, itu hanya urusan skala saja. Karena yang paling penting dari itu semua adalah mental. Jika sejak keuangan masih kecil saja sudah memiliki mental kaya, maka perkembangan dari aset-aset itu hanya soal menunggu waktu saja.

Hal yang perlu Kawan Muda ingat dari mental orang kaya dan mental orang miskin adalah, orang miskin selalu tergiur dengan jumlah uang, sementara orang bermental kaya melihat uang sebagai value.

5. Orang kaya berpikir jangka panjang, dan orang miskin berpikir jangka pendek.

via: businessinsider.com

Seperti yang Kita Muda tulis di atas, bahwasanya bagi orang kaya, uang adalah aset. Setelah mendapat uang, mereka berpikir jangka panjang: bagaimana agar uang ini menjadi berkali lipat? Maka mereka berbisnis, maka mereka berinvestasi.

Sedangkan orang miskin pikirannya selalu jangka pendek. Mereka ingin cepat mendapatkan uang, agar dapat menghabiskannya dengan cepat pula. Saat mereka diberi uang, fokus mereka ialah beli ini dan itu. Membeli sesuatu yang sama sekali tak memiliki nilai tambah. Seperti membeli kendaraan terbaru, gadget terbaru, membeli rumah saat sudah punya rumah. Intinya, mereka lebih suka membeli sesuatu yang dasarnya ialah keinginan. Bukan kebutuhan.

5 alasan mengapa uang sangat menentukan kehidupan cintamu

Katanya sih cinta nggak bisa dibeli pakai uang. Serius? Berkaca dari pengamalan banyak orang, uang ternyata punya andil besar lho dalam menciptakan atau menghancurkan suatu hubungan! Nggak Cuma hidup aja yang susah kalau nggak punya uang; hubungan cintamu juga bisa berantakan.

Riset yang dilakukan oleh Texas Tech University juga mengungkapkan bahwa kondisi keuangan sangat menentukan tingat kebahagiaan suatu hubungan. Emang mustahil banget kalau kamu cuma mengandalkan cinta; masih tahap PDKT saja kamu butuh uang. Nggak heran kalau kita sering dengar ucapan ‘makan tuh cinta’.

Biar Kawan Muda nggak bertanya-tanya, kok bisa uang bisa punya efek fantastis begitu buat hubungan cintamu, ini nih penjelasannya:

1. Masa-masa PDKT bakalan sulit kalau kamu nggak punya uang. Pengorban untuk mendapatkan hatinya butuh uang.

via: relationship341.files.wordpress.com

Kawan Muda jangan salah ya, meski cuma PDKT aja, nggak mungkin lho dilakukan dengan tangan hampa. Kamu pasti bakal ngajak si dia jalan atau kasih sesuatu supaya menarik perhatiannya. Hmm, apalagi kalau PDKT-nya udah ke keluarga si dia, pasti kaan harus bawa sesuatu.

Uang yang kamu keluarkan akan sebanding dengan perjuanganmu. Kalau kamu nggak memikirkan cara unik buat dapetin hati dia, gimana bisa saingan ama yang lainnya?

2. Kalau kamu sudah resmi pacaran dengannya, uang menentukan progres hubunganmu dengannya

via: careergirldaily.com

Udah bukan rahasia kalau pacar bakalan kelihatan belangnya kalau udah jadian. Kalau ternyata pacarmu nggak pandai mengatur uang atau parahnya suka menghamburkan uang nggak jelas, itu bakal mengubah pandanganmu ke dia.

Coba mikir deh kalau kamu pingin hubungan yang serius, kebiasaan borosnya bakal bikin bangkrut. Uang akhirnya bisa membuat kamu memilih buat lanjut atau nggak sama dia.

3. Setelah menikah, uang dapat menunjukkan bagaimana prioritas dan pengorbananmu untuk pasangan.

via: healthycounselingcenter.com

Berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk membahagiakan pasangan dan membangun hidup yang baik, menunjukkan kalau kamu rela berkorban untuk pasanganmu. Kalau kamu tidak mampu, bagaimana kalian akan mengatasinya?

Kondisi keuangan yang tidak begitu baik setelah menikah juga lebih rentan menimbulkan permasalahan; dari pertengkaran kecil hingga selingkuh!

4. Uang bisa menimbulkan pertengkaran hebat dan membuat hubungan menjadi renggang bahkan berakhir.

via: berkeleysciencereview.com

Cek-cok kecil antara kamu dan pasangan (yang terjadi tiap hari) layaknya bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu. Apalagi kalau ada pihak yang memilih selingkuh karena nggak tahan atau merasa tersaingi dengan kondisi keuangan pasangan.

5. Hubunganmu dengan seseorang bisa berubah jadi canggung dan aneh gara-gara uang

via: allaboutmymarriage.blogspot.com

Mungkin, kamu (atau pacarmu) merasa dimanfaatkan karena harus mengeluarkan banyak uang dalam hubungan kalian. Tapi karena sudah pacaran terlalu lama dan nggak bisa lepas darinya, kamu cuma bisa menyimpan pikiran negatif tentangnya. Nggak enak kan di satu sisi sayang tapi di sisi lain merasa dimanfaatkan?

6. Terlepas dari itu semua, uang juga bisa membuatmu makin dekat dengan pacar atau pasanganmu.

via: weddingvacations.com

Seperti yang udah dijelaskan sebelumnya, mendapatkan hati pasangan butuh perjuangan. Jumlah uang dalam dompet atau rekeningmu akan menentukan apakah kamu akan menang dalam mendapatkan hati si dia atau nggak. Dalam kondisi keuangan yang cukup, kamu akan terhindar dari tuduhan kalau kamu orang yang perhitungan atau pelit, hehe.

***

Nah, lho! Kawan Muda sekarang percaya kan kehidupan cintamu bakal adem ayem kalau ada uang? Eits, ini nggak berarti cuma orang yang berduit saja ya yang boleh merasakan cinta. Semua orang bisa, asalkan punya strategi mengatur keuangan agar melancarkan kehidupan cintanya.

Kebingungan-Kebingungan yang Cuma Dialami Oleh Anak SMA

Bingung adalah kepastian semua umat. Semua manusia pernah bingung, sebagaimana semua manusia pernah salah. Jadi kalau Kawan Muda saat ini sedang bingung, jangan kuatir, ada banyak orang-orang bingung lainnya di luar sana. Ada bingung yang kemudian diatasi dengan solusi, namun ada juga bingung yang sampai sulit dipecahkan hingga akhirnya si bingung itu memilih untuk menyusuri jalanan sembari ngomong dan ketawa-ketawa sendiri. Kamu termasuk orang bingung yang mana, Kawan Muda?

Setiap usia dan setiap lingkungan, memiliki kebingungannya sendiri-sendiri. Kalau kamu seorang pejabat publik, maka bingungmu di seputar kerjasama nasional dan internasional, ketahanan pangan, konflik antar daerah, serta hal-hal lainnya. Kalau kamu seorang pengusaha, maka bingungmu ada di sekitar demand and supply, laba menurun, omset meroket, yang gitu-gitulah pokoknya. Tapi kalau kamu anak SMA, berarti bingungnya sekitar hal-hal ini:

1. Lulus SMP, bingung: “Enaknya sekolah di SMA mana ya?”

via: Flickr.com
via: Flickr.com

Yah, itulah kebingungan ketika (akan) menjadi anak SMA. Tuh, belum jadi anak SMA aja udah bingung. Saat kebingungan ini melanda, hal yang dilakukan kemudian ialah mencari tahu informasi seputar SMA-SMA yang akan dimasuki. Lalu mempersiapkan syaratnya, dan mengikuti tesnya. Kalau diterima, maka perjalanan pencarian terhenti. Tapi kalau enggak diterima, kegiatannya: daftar terus, tes terus, daftar terus, tes terus. Gitu melulu sampai dinosaurus hidup lagi.

Setelah ke sana-kemari mendaftar dan ikutan tes, kemudian tak ada SMA yang menerima, akhirnya sekolah di STM. Selamat!

2. Pas udah sekolah, bingung lagi: “Pilih jurusan apa ya?”

via: ChakraCenter.org
via: ChakraCenter.org

“IPA, IPS, IPA, IPS, IPA, IPS, IPA, IPS, IPA, IPS, IPA, IPS, ………” kata seorang anak SMA, sembari mencabut uban dari kepala kakeknya. Hingga habis. Gundul! Yah, memang itulah keresahan selanjutnya yang dialami oleh anak SMA kalau sudah sekolah.

Si Kakek yang tadi ubannya dicabuti itu pun kemudian berkomentar:

“Kamu itu dari tadi kenapa sih, kok bilang ‘IPA, IPS, IPA, IPS, IPA, IPS’ melulu? Kamu kan anak STM!”

Si cucu yang masih seusia SMA (padahal anak STM) itu lalu sadar. Namun si kakek menyesal: ternyata uban-ubannya dihabisi tanpa guna!

3. Setelah lulus, bingungnya: “Kuliah dulu atau kerja dulu ya?”

via: NoPayMBA.com
via: NoPayMBA.com

Ini hampir pasti menjadi kebingungan seluruh anak SMA kalau mereka sudah lulus. Bahkan, ada yang kebingungan tersebut bisa sampai membawanya kepada sebuah dilema lainnya:

“Mau kuliah, tak ada biaya. Mau kerja, tak ada skil. Aku harus ngapain?”

Sementara pada saat yang sama, ada yang sedang bingung, tapi pilihan bingungnya enak semua:

“Mau kuliah, ada biaya. Mau kerja, ada skil. Aku harus pilih yang mana?”

Dan, keluhan itu cuma bisa dilakukan oleh anak STM.

4. Setelah lulus, bingung lainnya: “Mending kuliah, atau nikah? Atau kuliah sambil nikah?”

nikah-atau-kuliah

Ada juga jenis kebingungan anak SMA yang baru lulus, yang bingungnya seperti pada poin ini. Kejadian ini lebih sering terjadi pada cewek, sih. Meskipun aslinya, cowok-cowok seusia SMA juga ada yang mengalami. Cuma, populasinya banyak cewek.

Kalau Kita Muda sih menyarankan, mending lihat lebih jauh ke diri sendiri. Apa yang paling urgent dalam dirimu. Kalau kamu susah menjaga napsu, dan kerap menghabisi tisu-tisu, ya lebih baik menikah dahulu. Tapi kalau napsumu tak menggebu-gebu, dan kamu masih sanggup untuk menjaganya, terus ditambah ada biaya pula, maka mending kuliah. Gunakan masa mudamu dengan baik. Karena kamu tak akan pernah bisa mengembalikan waktu yang telah terpakai.

Tapi, Kita Muda ingetin nih: jangan pernah kuliah sambil nikah. Ya, bukan apa-apa. Bayangin, kalau kamu kuliah sambil nikah, kan kasihan dosen dan para mahasiswa yang lagi di kelas. Dosen lagi jelasin materi, tiba-tiba di kelas ada yang teriak:

“Saya terima nikahnya, Warsinah binti Bapak Tohir, dengan mas kawin seperangkat alat salat, dibayar, TUNAI!”

Kan jadi awkward suasana kelas.

5. Kalau kuliah, bingungnya: “Kuliahnya jurusan apa ya?”

via: Magique.com
via: Magique.com

Sekolah, udah lulus. Biaya, ada. Rencana kuliah, direstui. Tapi masih aja ada kebingungan yang melanda. Ya, mau ambil jurusan apa. Menurut Kita Muda, ini adalah kebingungan yang harus ada perbincangan lebih lanjut, dan lebih banyak. Karena sekali saja kamu salah ambil jurusan, nyeseknya bersemester-semester. Sampai lulus. Kerja di bidang itu. Nyeseknya sampai tua!

Jadi, kalau Kawan Muda bingung soal jurusan kuliah, ada baiknya cari tahu tentang kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri terlebih dahulu. Lebih baik memoles apa yang sudah lebih, agar menjadi cemerlang. Bukan menambal yang kurang,karena hanya akan menjadikan semuanya berimbang. Sehingga bikin kamu jadi orang rata-rata.

6. Kalau nikah, bingungnya: “Nikahnya sama siapa ya?”

via: HuffingtonPost.com
via: HuffingtonPost.com

Waini. Udah berunding alot sama keluarga, dan setelah disepakati untuk pilih menikah, eh malah bingung: nikahnya sama siapa? Kan, enggak asyik. Ini sama aja kayak niat pengin banget kenyang, tapi enggak ada yang bisa dimakan. Jadi kalau setelah lulus SMA kamu ingin sekali menikah, pastikan dulu kalau ada orang yang akan kamu nikahi. ITU!

8 barang yang sering cewek pinjem dari cowoknya yang kayaknya enggak bakal dikembaliin

cewek

Cowok yang baik seringkali ingin memanjakan ceweknya dalam banyak hal. Sehingga, mereka kerap tak begitu peduli: sudah berapa banyak hal-hal yang ia berikan kepada ceweknya? Tak heran kalau cowok kebanyakan luput kalau ada hal-hal penting miliknya yang terbawa oleh ceweknya. Oh ya, ini yang Kita Muda bahas, cowok yang modal, ya. Bukan cowok yang kalau makan bareng bayarnya patungan. Continue reading “8 barang yang sering cewek pinjem dari cowoknya yang kayaknya enggak bakal dikembaliin”

Pelajaran-pelajaran penting dalam menjalankan bisnis yang cuma bisa kamu peroleh di luar sekolah!

Bisnis

Tak ada ilmu yang tidak penting. Semua ilmu penting. Karena semua bermanfaat bagi sesama manusia. Namun hal-hal yang perlu diakui ialah, ada ilmu-ilmu yang memang secara khusus diajarkan di bangku sekolah atau kuliah. Namun ada juga ilmu-ilmu yang cuma bisa kamu peroleh setelah mengalami serangkaian praktik di lapangan. Continue reading “Pelajaran-pelajaran penting dalam menjalankan bisnis yang cuma bisa kamu peroleh di luar sekolah!”