Hebat! 4 miliader ini memilih hidup sederhana dan jauh dari kemewahan.

Siapa yang tak ingin menjadi sukses dan kaya raya? Adalah hal yang wajar saat manusia memiliki keinginan untuk hidup mapan dan berkecukupan. Kebahagiaan memang tak dapat dibeli dengan uang, tapi uang bisa mewujudkan apa pun yang kamu inginkan dan membuatmu bahagia.

Menjadi orang kaya membuatmu memiliki kesempatan untuk keliling dunia, naik mobil yang paling mahal, menikmati indahnya kapal pesiar atau plesir dengan jet pribadi. Membeli barang-barang yang kamu inginkan tanpa harus menimbangnya dua kali. Menyenangkan bukan? Itulah sebabnya orang-orang berambisi menjadi kaya dengan berbagai macam cara, dari yang jujur hingga kotor sekalipun.

Kalau Kawan Muda memiliki pemikiran ingin menjadi sukses dan kaya agar bisa menikmati hidup dengan bermewah-mewahan, lebih baik kamu mengubahnya mulai dari sekarang. Untuk apa kamu memamerkan kekayaan dan menghambur-hamburkannya? Apakah kamu menjadi seseorang yang lebih baik dengan seperti itu?

 

BACA JUGA: Meneladani 9 kebiasaaan Mark Zuckerberg, biar kamu cepat kaya

 

Nah Kawan Muda, di artikel kali ini Kita Muda akan membagi kisah para miliader yang tetap memilih hidup sederhana  dan bahkan ada yang meninggalkan kekayaan mereka. Kisah mereka yang inspiratif ini menjadi pelajaran bagi  kita semua bahwa menjadi orang kaya itu haruslah tetap sederhana.

1. Nicholas Berggruen, miliader dermawan yang tak suka pesta dan tak punya rumah mewah.

via: bloomberg.com

Di tahun 2000, Nicholas Berggruen mengambil keputusan berani dengan menjual semua rumah mewah dan perabotan mahal di dalamnya. Menurut investor sukses ini, dia tak mau lagi terbebani dengan harta yang dia miliki. Setelah menjual rumahnya, dia hidup berkelana sambil terus melakukan kegiatan sosial.

Nicholas memutuskan meninggalkan kehidupan mewahnya dan menggunakan uangnya untuk disumbangkan di berbagai kegiatan amal sosial di berbagai daerah. Menurut Nicholas, kekayaan bukan tentang berapa uang atau barang yang kamu miliki, tapi apa yang telah kamu berikan untuk kebaikan dunia.

2. Karl Rabeder, berjuang keras menjadi miliader dan berhasil mencapainya. Tapi, dia malah tak bahagia…

via: Lidovky.cz

Pengusaha dari Telfs, Austria, ini memiliki kehidupan yang serba terbatas saat kecil. Akhirnya dia bertekat untuk menjadi orang kaya dan apa yang diinginkannya terkabul. Sayang, menjadi orang kaya malah tak membuatnya bahagia.

 

BACA JUGA: Alasan mengapa orang kaya bertambah kekayaannya, dan orang miskin semakin miskin

 

Karl kemudian memutuskan menjual semua propertinya dan membagikan uangnya untuk amal. Bagi Karl, uang itu kontraproduktif dan menghalang-halangi kebahagiaan yang datang. Dia tak ingin bekerja keras layaknya “budak” untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tak dibutuhkan atau diinginkannya.

3. Yu Youzhen, pebisnis kaya yang tak malu jadi petugas kebersihan.

via: inquisitr.com

Perempuan asal Tiongkok ini sebenarnya seorang pebisnis yang memiliki properti senilai 1,5 juta dolar atau setara 10 miliar! Kekayaan tersebut tak lantas membuatnya duduk di rumah dan bermewah-mewahan.

Setiap hari dia bangun pukul tiga pagi untuk menyapu jalanan di distriknya. Ya, dia bekerja sebagai petugas kebersihan. Apakah dia kurang puas dengan hartanya? Jawabannya tidak. Yu Youzhen bekerja sebagai petugas kebersihan untuk memberikan contoh pada kedua anaknya agar tak bermalas-malasan menghabiskan kekayaan orang tua.

Baginya, pekerjaan itu tak melulu soal gaji tapi bagaimana dia belajar fokus. Saat seseorang bermalas-malasan dalam bekerja (karena sudah merasa kaya), maka dia tak akan lagi fokus dan hal tersebut akan memunculkan banyak kebiasaan buruk.

4. Graham Pendrill, setelah berkunjung ke Kenya dia memutuskan untuk hidup miskin dan tinggal di sana.

via: Source.ba

Graham Pendrill adalah pengusaha asal Inggris yang terbilang sangat sukses. Dealer barang antik yang hartanya berlimpah ini tinggal di rumah yang sangat megah. Penampilannya pun layaknya orang kaya pada umumnya. Namun, semua itu berubah saat dia mengunjungi Kenya, salah satu negara miskin di Afrika.

 

BACA JUGA: Mengapa uang rajin mendatangi orang kaya dan malas mengunjungi orang miskin?

 

Pendrill langsung menjual rumah megahnya. Seluruh hartanya dia sumbangkan dan pindah ke Kenya. Pendrill melakukan semua ini karena tak tega melihat kondisi suku Masai (suku di Kenya) yang hidup dengan fasilitas perairan yang terbatas. Dia juga tak tega melihat kemiskinan yang ada di sana.

**

Hidup itu kedepannya kita tak akan pernah tahu. Mungkin saja hari ini kita kaya raya, tapi besok atau bahkan dalam hitungan detik semuanya lenyap tak berbekas.

Oleh karena itu, saat Kawan Muda berada di atas jangan pernah berniat untuk pamer atau menyia-nyiakan uang demi gengsi semata. Menjadi kaya itu boleh, tapi hidup sederhana adalah sebuah keharusan kalau kamu ingin bahagia.