Berbahagialah sewaktu-waktu, tanpa harus menunggu segala sesuatu menjadi lengkap dan sempurna

Berbahagia adalah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, siapa pun kamu, berhak memperolehnya. Mau kaya, miskin, cakep, sebaliknya cakep (mau bilang jelek enggak enak, hehehe), dan hal-hal lainnya. Banyak orang ingin sekali hidup bahagia, ada yang sampai harus bekerja dengan gaji sekian, atau operasi plastik dengan bentuk muka yang mirip dengan artis Korea, dan banyak lagi.

Tapi sebetulnya, bahagia itu apa sih? Bagaimana cara memperolehnya? Apakah di internet ada tutorialnya?

Bahagia? Ya bahagia saja. Tak perlu ribet-ribet. Cara memperolehnya? Ya diupayakan. Sebagaimana kalau ingin kaya, upayanya ialah bekerja. Maka menjadi bahagia pun juga ada upayanya. Tutorial di internet? Ya jelas ada. Kalau Kawan Muda minta link tutorialnya, ya yang lagi kamu baca ini. Hehehe.

 

BACA JUGA: 10 hal yang harus kamu hapus demi memperoleh kebahagiaan hakiki dalam hidup

 

Tapi sebetulnya bukan tutorial, sih. Lebih ke “hal-hal yang bisa menyebabkan kamu bahagia”, dan “apa hal-hal yang membuatmu tak berbahagia”. Apa saja? Mari kita baca!

1. Mulailah dengan kesadaran bahwa hidup ini cuma sekali, dan tak ada gunanya berbanyak-banyak meratapi.

via: WorkingMother.com

“Hidup itu cuma mampir minum,” kata seorang bijak. Ya, memang begitulah pengandaiannya. Hidup ini memang hanya sekelebat. Sebentar saja. Hidup rata-rata manusia hari ini tak sampai 200 tahun. Bisa tembus 100 tahun aja sudah sujud syukur kok.

Nah, karena hidup ini pendek sekali, maka sama sekali tak ada gunanya bila Kawan Muda berbanyak-banyak meratapi. Jangan sibukkan diri dengan hal-hal tak berguna yang hanya menghabiskan banyak energi. Seperti meratapi nasib, misalnya. Bukankah manusia ini hadir ke bumi dalam keadaan 1 paket utuh? Jadi, mengapa harus menyesali segala sesuatu? Lebih baik, fokus kepada solusi untuk mengatasi.

2. Berusahalah untuk tak menjadi pengeluh dan tukang komplain.

dewasa
Foto : vemale.com

Betapa ruwet isi otaknya orang-orang yang suka mengeluh dan komplain. Kok penulis bisa tahu? Ya karena penulis pernah jadi orang yang demikian. Tapi, beneran deh.

 

BACA JUGA: Surat untuk lelaki masa laluku yang sedang berbahagia

 

Jadi orang yang suka mengeluh dan gemar komplain itu sama sekali enggak ada untungnya. Waktu yang engkau habiskan untuk mengeluh dan komplain itu kalau dialokasikan untuk hal lain – seperti mengatasi masalah yang dikeluhkan – malah bisa untuk menyelesaikan masalah.

3. Lepaskan kekesalanmu untuk hal-hal yang memang telah berlalu.

gunung batu jonggol
Foto : Instagram @ghazarifai_313

Kalau Kawan Muda lagi ngetik di laptop, terus salah nulis, bisa tuh pencet shortcut “ctrl + Z” alias undo, yang fungsinya untuk mengembalikannya ke posisi semula. Tapi, hidup tidak bisa begini, Kawan Muda. Engkau tak bisa tekan undo untuk hal-hal yang telah berlalu. Senyata-nyatanya waktumu, ya saat ini. Saat engkau membaca tulisan ini. Tadi atau nanti, itu sudah bukan lagi kuasamu. Apalagi kok kemarin dan besok. Jadi kalau memang sudah berlalu, ya relakan. Lalu kalau hari esok ingin lebih baik, ya hari ini hendaklah berbuat sebaik mungkin. Sesederhana itu? Ya, sesederhana itu.

4. Jangan membiasakan diri untuk harus berbahagia dengan syarat. Berbahagialah, sekarang!

Banyak orang sering memberi keharusan pada diri mereka bahwa berbahagia itu harus dengan syarat, misalnya:

“Aku akan bahagia, kalau aku sudah bisa bekerja dengan penghasilan minimal 10 juta per bulan!”

Atau,

“Hidupku pasti enggak bakal ada sedih-sedihnya, kalau Raline Shah jadi isteriku!”

Dan hal-hal lainnya, yang pada intinya mengharuskan adanya syarat untuk berbahagia.

 

BACA JUGA: Pasangan yang bahagia adalah pasangan yang nggak suka pamer kemesraan di Media Sosial

 

Padahal, Kawan Muda, kalau mau bahagia mah bahagia aja. Enggak perlu nunggu adanya syarat yang harus dicapai. Ada baiknya, bilang begini:

“Saat aku berusaha, aku akan berusaha dengan bahagia. Kalau berhasil, aku pasti bisa lebih bahagia. Kalau gagal? Ya sedih sebentar itu manusiawi. Tapi aku akan sedih sebentar saja. Lalu kembali menjalani hari-hari dengan penuh bahagia. Karena bagiku, bahagia bisa sewaktu-waktu. Tanpa harus menunggu segala sesuatu menjadi lengkap dan sempurna.

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.