Pelajaran-pelajaran penting dalam menjalankan bisnis yang cuma bisa kamu peroleh di luar sekolah!

Bisnis
Source : Everydayinterviewtips.com

Tak ada ilmu yang tidak penting. Semua ilmu penting. Karena semua bermanfaat bagi sesama manusia. Namun hal-hal yang perlu diakui ialah, ada ilmu-ilmu yang memang secara khusus diajarkan di bangku sekolah atau kuliah. Namun ada juga ilmu-ilmu yang cuma bisa kamu peroleh setelah mengalami serangkaian praktik di lapangan.

Manakah yang lebih baik?

Tidak ada yang lebih baik. Semuanya baik, karena semuanya diperoleh melalui pengalaman yang kemudian dirincikan dalam bentuk konsep-konsep. Kalau Kawan Muda sering memperoleh ilmu-ilmu dari bangku sekolah, bangku kuliah, atau bangku-bangku seminar bisnis, maka sekaranglah saatnya untuk menyeruput ilmu dari mereka-mereka yang telah lebih dahulu mengalami praktik di lapangan. Dan, ini dia:

1. Tak ada yang instan. Termasuk menjadi kaya!

via: WorkingMother.com
via: WorkingMother.com

Ada banyak hal yang mendasari seseorang ingin membangun sebuah bisnis. Selain passion, curiosity, faktor lain ialah karena setelah melihat bahwa rumput tetangga rupanya lebih baik. Ada uang besar yang berputar di sana. Kemudian kita berharap, bila membuka bisnis serupa, maka akan mengalami kemujuran yang sama.

Faktanya?

Tidak! Setiap orang, setiap pebisnis, memiliki kesesuaiannya masing-masing. Ada orang-orang yang telah lalu-lalang ke sana ke mari, mencoba berbagai peruntungan dalam berbisnis, pada akhirnya bisnis yang menguntungkan ialah bisnis yang selama ini tidak ia rencanakan.

Apakah yang demikian sering terjadi? Iya, banget!

2. Membangun dream team!

via: Runtastic.com
via: Runtastic.com

Untuk mimpi yang besar, tentu akan susah sekali apabila dijalani sendirian. Sementara, menunggu untuk menjadi kaya agar bisa merekrut orang-orang terbaik, juga sepertinya hanya akan menjadi hal yang membuang-buang waktu. Itu mengapa, membangun dream team itu tidak mudah. Sangat sulit menemukan orang-orang yang rela bekerja di awal, tanpa bayaran sepeser pun.

Lantas, apa bayaran untuk mereka selama bersama-sama menjalani proses?

Janji bahwa masa depan akan berlangsung lebih cerah untuk mereka semua!

3. Orang terdekatmu yang ternyata berbohong!

via: theenergyproject.com
via: theenergyproject.com

Saat membangun bisnis, kamu akan tahu: siapa orang yang berada di pihakmu, dan siapa-siapa saja orang yang hanya ingin mengambil keuntungan darimu. Ini memang pahit, menyesakkan, tetapi mau tak mau harus diakui kalau ini nyata!

4. Orang-orang terdekat yang meremehkan impianmu.

via: Macleans.ca
via: Macleans.ca

Siapa sih yang gampang percaya dengan apa-apa yang belum mereka lihat? Lihat, bagaimana dulu Alexander Graham Bell saat pertama kali menceritakan mimpinya kepada teman-temannya, bahwa ia ingin membuat telpon? Bukankah banyak orang juga ingin menertawakan? Hari ini, dunia mencatat, kan: siapa yang bisa mewujudkan, dan siapa yang hanya bisa menertawakan.

Kalau Kawan Muda saat ini sedang dalam rangka perjalanan meraih mimpi, pesan Kita Muda sih ditebalkan saja mentalnya. Orang-orang yang demikian akan ada di setiap tempat dalam hidupmu. Percayalah! Jadi, ketimbang menghabiskan waktu untuk turut memperhatikan mereka, atau untuk membuat agar mereka menyesal yakni dengan membuat pembuktian, apalagi sampai membuat perhitungan, bukankah lebih baik sibuk saja merajut mimpi tanpa peduli dengan apa pun hal yang terjadi?

5. Disiplin, yang ternyata sudah berubah menjadi kebutuhan!

via: EricaYitzhak.net
via: EricaYitzhak.net

Sekolah atau seminar-seminar bisnis pasti akan mengajarimu bahwa disiplin dalam menjalankan bisnis itu penting. Namun kamu kadang tak diberi tahu: mengapa harus disiplin?

Seiring berjalannya waktu, saat Kawan Muda telah terjun ke lapangan, maka pada akhirnya akan tersadarkan bahwa disiplin itu sangat penting. Ia penting bukan sebagai teori, namun untuk dilakoni. Ketika 1 proyek tak kau selesaikan secara tepat waktu, maka proyek-proyek lain akan datang bertumpuk.

6. Pentingnya untuk menjadi pribadi yang rendah hati.

via: eLearningMind.com
via: eLearningMind.com

Dunia tak pernah menyukai orang congkak. Coba saja menjadi sombong, apa pun profesimu. Niscaya orang-orang akan segera menjauhimu, sebutuh apa pun ia denganmu.

Hal ini juga berlaku kalau profesimu sebagai pebisnis. Raja-raja yang memproduksi uang dalam rekeningmu sebetulnya adalah orang-orang yang mungkin kamu anggap secara jabatan ada di bawahmu. Karyawan, misalnya. Bayangkan kalau kamu sombong, merendahkan mereka, lalu mereka sepakat untuk mengatakan: “Ayo kita keluar dari perusahaan Mr. A” Bakal mampus enggak tuh perusahaan kamu. Itu baru karyawan, loh. Kalau konsumen yang engkau khianati, maka hasilnya akan lebih parah lagi. Bisa rusak reputasimu.

7. Jika karyawan hanya memikirkan perusahaan selama 8 jam, maka pebisnis memikirkannya 24 jam.

via: Mexperience.com
via: Mexperience.com

“Enak ya, jadi pengusaha. Bisnisnya jalan, pemiliknya jalan-jalan!”

Kata siapa? Kata-kata sesat, tuh. Sepusing-pusingnya seorang karyawan, jauh lebih pusing bosnya. Emang sih, secara pekerjaan, mereka tak terlihat begitu sibuk. Namun dalam pikirannya, pusing banyak melanda. Kalau pusing seorang karyawan itu hanya berlangsung selama mereka bekerja, maka seorang pengusaha itu pusingnya bisa 24 jam. Lagi makan, kepikiran meeting. Lagi liburan, kepikiran berkas-berkas yang belum ditandatangani. Lagi tidur, kepikiran selingkuhan yang belum dikasih jatah. Macam-macam, lah.

8. Kegagalan demi kegagalan menunggu di depan mata.

via: WorkingMother.com
via: WorkingMother.com

Kebanyakan yang motivator bisnis bagi dalam seminarnya ialah angin-angin surga belaka. Taburan gula-gula. Mereka lupa, bahwa sekali waktu mereka juga perlu memberi brotowali kepada para peserta seminar. Biar apa? Biar mereka mengerti bahwa hidup ini nyata. Bukan sekedar angan-angan yang berisi impian kosong.

9. Tiada kata “menunda pekerjaan” dalam kamus pebisnis!

via: Entrepreneur.com
via: Entrepreneur.com

Ini masih ada kaitannya dengan poin nomor 5 yang Kita Muda paparkan pada artikel ini. Istilah “menunda pekerjaan” boleh dibilang berbandinglurus dengan sikap “tidak disiplin”. Proyek datang dan pergi, sebagaimana uang yang datang dan pergi pula. Menunda 1 pekerjaan, berarti menunda rezeki lainnya untuk datang menghampiri.

10. Ketika hal buruk terjadi, motivasi hanya ada dalam diri.

via: Pieria.co.uk
via: Pieria.co.uk

Pada akhirnya, ketika keterpurukan melanda, maka motivasi hanya ada dalam dirimu. Motivator atau para filsuf mungkin bisa memberimu kata-kata penyejuk untuk memotivasi. Namun karena yang paling tahu kondisi yang sebetulnya ialah diri kamu sendiri, maka motivator sejati, ya diri kamu sendiri.

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.