Apapun pekerjaanmu, memperjuangkan kesuksesan adalah kewajibanmu!

Sukses
Foto : www.ad2inc.net

Sukses adalah keberhasilan seseorang dalam menggapai pencapaian tertentu. Pada setiap bidang dalam hidup ini, berbeda bidang tentu berbeda pula standar kesuksesannya. Sebagai contoh, standar sukses seorang akademisi itu terjadi tatkala sanggup meraih gelar. Baik itu gelar S1, S2, S3 dan juga gelar lain seperti Professor.

BACA JUGA : Sukses itu mudah, jika 6 pemikiran ini selalu ada pada dirimu!

Lalu, seperti apakah yang tidak sukses dalam akademisi?

Ya, yang tidak mencapai itu, lah. Kemudian contoh lain: katakanlah usaha kecil-kecilan itu bisa disebut sukses, apabila telah mencapai laba bersih 100 juta rupiah. Lalu usaha menengah, laba bersihnya 1 milyar. Dan usaha besar, tak terhingga. Berarti, kalau ada orang bilang usaha kecil-kecilan, dan untungnya belum ada 100 juta, berarti dia belum bisa dikatakan sukses dalam membangun usaha kecil-kecilannya. Itu berlaku pula untuk usaha menengah dan besar pula.

Dan contoh-contoh lainnya yang serupa.

BACA JUGA : 6 Hal sepele yang sering terabaikan tapi ternyata bisa juga mengantarkan kita pada kesuksesan

Di atas tadi ialah contoh-contoh yang disebut “sukses” dalam bidangnya masing-masing: yakni sanggup mencapai batasan yang ditentukan. Jadi, mencapai “sukses” itu sebetulnya merupakan pekerjaan manusia seumur hidup. Karena setelah menggapai suatu kesuksesan, maka pencapaian lain sudah menghadang di depan mata, meminta agar segera diraih. Itu mengapa manusia harus memilih, setidaknya satu bidang dalam kehidupan. Dan karena ragam pencapaian telah dipersempit, maka sebuah keharusan baginya untuk memberdayakan segala hal agar sanggup meraih kesuksesan. Kawan Muda, inilah yang bisa kamu lakukan:

Rajin itu baik. Tetapi, apalah arti rajin kalau hanya sekali saja? Rajin butuh ketekunan yang berulang.

membaca buku
Foto : news.okezone.com

Kita Muda kembali mengingatkan, kalau “sukses” itu ada di berbagai bidang. Untuk poin ini, mari kita pakai ukuran “rajin” pada seorang akademisi.

Apabila seorang akademisi ingin mencapai sukses, langkah pertama bagi orangtuanya ialah bertanya apa bidang yang ingin anaknya tekuni. Kalau sudah, lalu orangtuanya memasukkan kuliah anaknya ke jurusan tersebut. Maka ukuran “rajin” di sini terlihat dari: apakah ia mengerjakan tugas-tugas dengan baik? Apakah ia rajin masuk kuliah? Apakah ia gemar mencatat materi, dan menanyakannya kepada dosen, mengenai materi yang belum ia pahami? Dan seterusnya.

BACA JUGA : 7 Hal yang selalu dihindari orang-orang sukses. Boleh kamu tiru, agar suksesnya menular padamu

Nah, tindakan yang masuk kategori “rajin” di atas tentu tak akan berarti, kalau hanya dilakukan saat semester satu dan dua saja. Ia butuh perulangan secara tekun. Sampai berapa kali? Ya, tentu sampai ia mampu meraih batasan yang ditetapkan – misal, gelar sarjana.

Semangat dan pantang menyerah, wujudnya bukan tertuang pada perkataan. Melainkan, tindakan.

traveler
Foto : www.tripdesigners.co

Jika pada poin sebelumnya dituliskan bahwa jadi “rajin” itu mudah, dan mempertahankan “rajin” itu susah, maka untuk menjaga “rajin” dari waktu ke waktu hingga tujuannya tercapai, dibutuhkan formula yang namanya ‘semangat’ dan ‘pantang menyerah’.

Semangat, bentuknya ialah “rajin” yang terus-menerus dipertahankan sampai tercapainya tujuan. Kemudian pantang menyerah, bentuknya ialah: bangkit dan bangkit kembali saat jatuh atau gagal. Yah, perlu disadari bahwa “rajin” tak selalu mendatangkan kesuksesan. Adakalanya gagal datang. Sebetulnya, ia bukan gagal. Ia adalah dampak dari kebelumtahuan akan cara yang lebih jitu.

Sukses seringkali membutuhkan kemampuan lain seperti: pandai berbicara di depan umum. Belajarlah!

kursus bahasa
Foto : academicenglish.ac.id

“Kalau aku seorang pebisnis, untuk apa aku harus belajar untuk berbicara di depan umum?”

Kalimat di atas mungkin akan terucap oleh pengusaha-pengusaha yang belum mengerti arti pentingnya skil berbicara di depan umum. Kelihatannya mungkin memang tak dibutuhkan. Namun pada praktiknya, seorang pengusaha tentu harus briefing di depan para karyawannya, presentasi di depan klien, mengemukakan rencana usahanya di depan para kolega, dan banyak lagi. Itu semua butuh skil berbicara di depan umum.

“Ah, aku bisa membayar juru bicara untuk melakukannya.”

Yah, memang. Tetapi, jangan salahkan sang juru bicara, apabila kemudian isi kepalamu tak bisa dijelaskan dengan baik oleh orang lain. Karena walau bagaimana pun, tetap lebih nikmat menyampaikan isi pikiranmu sendiri.

Sama halnya dengan kemampuan berbicara di depan umum. Dalam berbisnis, sifat ramah dan jujur juga harus dimiliki oleh seorang pebisnis.

bekerja
Foto : www.superiorofficeinteriors.co.uk

“Untuk apa menjadi orang yang ramah dan jujur dalam berbisnis? Untuk apa menjadi orang yang ramah dan jujur dalam bidang akademisi?”

Silakan saja mengingkari dua hal itu dalam menjalankan bisnis, akademik, atau bidang lain dalam hidupmu. Lihat, betapa orang-orang akan segera menjauhimu.

Sifat ramah adalah pembuka bagi orang lain agar bersedia membaur denganmu. Lalu berbicara mengenai proyek apabila engkau pebisnis, tentang beasiswa jika kau seorang akademisi, dan banyak lagi. Tampaknya, ini tak berkaitan. Tapi, sukses dalam bidangmu sangat dipengaruhi dua hal ini.

Semua hal di atas tak akan bisa terjadi tanpa adanya niat yang besar untuk meraih, dan melaksanakannya secara sungguh-sungguh.

pebisnis
Foto : www.chainimage.com

Ya, semua hal baik bisa dicapai apabila diawali dengan niat. Tanpa adanya niat yang sungguh-sungguh, segalanya kosong. Tak berarti. Maka ketika engkau ingin mencapai sesuatu, luruskanlah niat. Bukan untuk memperkaya diri, bukan untuk membodohi orang lain, melainkan ingin lebih mendatangkan banyak kebermanfaatan bagi sesama.

Kawan Muda, selamat mencoba. Semangat ya!

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.