7 Alasan kenapa kamu di usia 20-an harus punya ambisi

ambisi
Foto : lam-network.com

Kalau mendengar kata ‘ambisi’ banyak dalam pikiran orang-orang yang fokusnya mengarah kepada keburukan nan kemungkaran. Padahal, ambisi itu bisa baik wujudnya, bisa pula buruk bentuknya. Semua bergantung kepada manusianya: bagaimana ia akan mengarahkan ambisi tersebut. Kejahatan yang sukses, bisa terjadi karena ambisi. Prestasi yang besar, juga terwujud karena ambisi. Sungguh, begitu dahsyatnya kekuatan sebuah ambisi. Tapi karena pembaca Kita Muda ini adalah perkumpulan orang-orang baik, maka sudah jelas kalau ambisi para pembaca sekalian adalah ambisi positif untuk meraih kesuksesan, betul tidak?

BACA JUGA : 7 Hal yang selalu dihindari orang-orang sukses. Boleh kamu tiru, agar suksesnya menular padamu

Manusia itu ada masanya. Ia tidak bisa selalu berlaku sama pada semua masa. Kecil adalah masa belajar, muda adalah masa memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini, dan tua adalah masa menuai atas apa yang telah diperjuangkan selama ini. Maka jelaslah sudah, bila engkau ingin sekali sukses, perjuanganmu harus dirintis sejak usia 20-an. Mengapa pada usia itu kamu patut memiliki ambisi? Kita Muda punya jawabannya berikut ini:

1. Bila bakat ialah desain sampul, maka ambisi adalah isinya.

membaca buku
Foto : news.okezone.com

Ibarat buku: ambisi itu isinya, dan bakat itu sampulnya. Keindahan sampul, tak akan berarti apa-apa kalau tidak ada isi yang menarik. Orang mungkin akan membelinya, tapi setelah tahu kalau isi di dalamnya ternyata sampah, maka dengan senang hati ia akan menyebarkannya kepada seluruh umat di muka bumi ini. Jadi, penting sekali adanya perpaduan antara isi yang bagus dan sampul yang keren. Sama pentingnya dengan perpaduan antara bakat yang dimiliki, serta upaya tiada henti dalam memaksimalkannya. Lantas, apa bahan bakar yang bisa mendorong bakat yang tadinya biasa, hingga naik ke level yang lebih tinggi? Jawabannya, apalagi kalau bukan ambisi.

BACA JUGA :

2. Ambisi baik menuntun kepada cara hidup baik. Lalu, cara hidup baik lebih banyak didekati oleh nasib baik.

produktif
Foto : Wovgo

Ambisi baik yang sejak usia 20-an telah kamu bentuk itu, membuat kamu menjadi terbiasa. Kemudian kebiasaan-kebiasaan berambisi baik itu menghadirkan cara-cara baik menjalani hidup, hingga pada akhirnya ganti nasib baik yang mendekatinya.

3. Hidup ini kompetisi. Jika tidak berambisi menang, maka sama dengan membantu pihak lain agar menang.

traveler
Foto : www.tripdesigners.co

Kalau jaman purbakala dahulu mungkin logikanya: “membunuh, atau dibunuh.” Namun karena kita sudah hidup di zaman yang sudah jauh lebih modern, maka diganti menjadi: “barangsiapa tidak berambisi menang, niscaya ia sedang membantu pihak lain agar menang.” Setiap orang memang akan menghadapi titik-titik dalam hidup di mana ia berada dalam posisi untuk membantu pihak lain agar menang. Namun tanpa ambisi, posisinya hanya selalu di situ-situ saja. Tak beranjak ke mana-mana. Hanya dengan ambisi, lah, kamu yang tadinya membantu orang lain agar menang, berubah menjadi kamu yang dibantu orang agar menang. Meski sebetulnya, sampai kapanpun manusia akan saling membantu satu sama lain. Jadi, membantu dalam konteks ini ialah naik level: yang tadinya membantu orang lain untuk menang kecil, sekarang kamu dibantu orang, dan memperjuangkan dirimu dengan membantu orang, agar memperoleh kemenangan bersama yang jauh lebih besar!

4. Ambisi dapat menggali potensi.

kerja keras
Foto : ronalvesteffer.com

Tentu akan berbeda jalan hidup mereka-mereka yang berprinsip:

Aku ingin mencapai ini, aku ingin mencapai itu.

Dengan orang yang berprinsip:

Ah, aku hidupnya mau ngalir aja, lah. Seperti air beserta kekuning-kuningannya yang mengambang itu.

Orang yang mengalir, upayanya begitu-begitu saja, tetapi harapannya kayak mereka-mereka yang pasang target. Ya jelas enggak bisa. Ngimpi itu namanya. Sementara orang yang selalu pasang target dalam hidupnya, selalu menggunakan waktu-waktu yang ada untuk bergerak maju. Ia memikirkan konsep, ia merencanakan sesuatu, ia mengeksekusi rencana. Bila gagal, coba lagi. Bila berhasil, terus berinovasi. Begitulah isi pikiran manusia-manusia yang pasang target.

5. Memiliki ambisi sama dengan mendidik diri untuk membangun pribadi.

di atas gunung
Foto : twistedredladybug.blogspot.com

Ambisi itu tidak cukup hanya dipikirkan, lalu diperbincangkan kepada yang lain. Tidak. Ia harus direncanakan, lalu dieksekusi. Eksekusi yang biasa, tentu menghasilkan hasil yang biasa. Eksekusi yang jarang-jarang, tentu tak memberi hasil yang rutin. Makanya, untuk meraih ambisi, dibutuhkan disiplin, kreatif, ulet, tekun, konsisten dan berjiwa baja. Itulah karakter-karakter yang kemudian akan terbentuk ke dalam pribadi setelah memutuskan untuk memelihara ambisi dan mencapainya.

6. Ambisi yang tercapai itu layaknya “pendaki yang berhasil sampai di puncak Everest.”

Himalaya - Everest
Foto : www.natureflip.com

Begitulah analogi yang sepertinya pas. Everest merupakan sebuah pegunungan Himalaya di Nepal/Tibet dengan ketinggian 29,035 ft / 8,850 m. Tentu, gunung dengan setinggi itu hanya bisa dicapai oleh mereka-mereka yang memiliki ambisi untuk sampai ke puncak. Bagi yang tak memiliki ambisi? Ia akan balik badan dan kembali turun, sebelum meraih puncak. Ya, itulah sifat sebuah ambisi: memberi kebahagiaan tatkala tujuan telah tercapai.

7. Ambisi membuat hidup semakin menyala-nyala.

persahabatan
Foto : www.spectator.co.uk

Ambisi tak berarti apa-apa tanpa dukungan waktu. Karena waktu adalah komponen paling penting dalam pencapaian tujuan. Maka apabila waktu dan ambisi adalah satu kesatuan yang penting dalam rangka mewujudkan rencana, sudah jelas hidup orang tersebut akan penuh rencana yang menyala-nyala.

Ini harus selesai tanggal sekian, karena setelah tanggal itu, kita sudah harus fokus ke rencana lain,” begitulah kurang lebih kalimat orang-orang berambisi. Waktu demi waktunya memang diliputi kecemasan akan pertanyaan: tercapai enggak ya? Namun kecemasan itu bergerak ke arah yang lebih baik. Arah yang membuat pikiran lebih mampu bergerak maju.

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.