Stop pura-pura bahagia ketika sedang bersedih! Karena hal negatif ini yang akan kamu dapat jika suka memalsukan perasaan!

6.456 views
via: calgarycounsellors.com

Apakah Kawan Muda suka menyimpan kesedihan dan berpura-pura terlihat bahagia di depan orang lain? Kalau jawabannya iya, kamu harus mengubah kebiasaan dan pandangan tersebut mulai dari sekarang. Berpura-pura bahagia padahal hati kamu mengatakan sebaliknya ternyata tidak baik, lho, bagi kesehatan mental dan emosimu.

via: lelobelmondo.wordpress.com

Menurut Svend Brinkmann, psikolog dari Denmark’s Aalborg University, jangan menjadikan kebahagiaan sebagai patokan emosi yang ideal karena tidak semua situasi bisa dihadapi dengan bersikap bahagia.

Saat bersedih misalnya, jangan mencoba untuk menyembunyikan kesedihan. Mungkin selama ini Kawan Muda selalu diajarkan bahwa kesedihan yang berlarut-larut itu tidak baik. Karena tidak ingin dipandang buruk oleh orang lain, kamu pun memalsukan kesedihan dengan mencoba tersenyum.

via: drmichaels.com

Tapi tahu enggak, ternyata hal ini malah “berbahaya” bagi perkembangan emosimu. Memalsukan perasaan akan membuat emosimu sulit berkembang. Menurut Brinkmann, ketika sesuatu yang buruk terjadi, kamu berhak untuk bersedih dan berpikiran negatif. Karena hanya dengan bersikap begitu Kawan Muda bisa memahami dunia dengan baik.

“Kehidupan ini memang menakjubkan, tapi manusia juga harus menyadari bahwa hidup bisa juga menjadi tragis. Kalau selama hidup kita hanya diizinkan untuk berpikiran positif, saat situasi buruk melanda kita akan luar biasa menyesal dan sedih,” tambah Brinkmann.

via: tapnewswire.com

Eits…ini tidak berarti Kawan Muda enggak boleh move on dari kesedihan dan berbahagia. Boleh kok, asalkan kebahagiaan kamu itu natural dan bukan pura-pura. Kawan Muda juga harus hati-hati nih saat membaca buku motivasi. Karena terkadang buku-buku tersebut malah membuat situasi menjadi runyam, kenapa?


BACA JUGA : 


Dalam buku motivasi selalu tertulis bahwa setiap orang itu punya kemampuan untuk membuat dirinya bahagia. Nah, ketika seseorang yang sedang bersedih atau desperate membaca buku tersebut, mereka akan merasa gagal dan makin menyalahkan diri sendiri karena tak mampu bangkit dari keterpurukan.

via: worldofbuzz.com

Oleh karena itu, Brinkmann menghimbau keras agar setiap orang “berhati-hati” saat membaca buku motivasi. Intinya, emosi itu baik positif maupun negatif sangat penting bagi kita. Kesedihan membantu kita untuk melalui “cobaan” yang ada dan membuat kita semakin kuat. Sedangkan kebahagiaan membuat kita merasa bersyukur dengan hidup yang kita miliki.

So, stop berpura-pura kamu baik-baik saja ya, Kawan Muda 🙂