Sayang, berhentilah memendam emosi sendiri

3.088 views
putus
Foto : www.playbuzz.com

Hai!

Sedikit canggung kah rasanya membaca permintaan dari dirimu sendiri? Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini, namun selalu ku tunda untuk melihat apakah kau akan berubah dengan sendirinya. Tapi tampaknya, tak ada tanda-tanda kau akan berubah. Sedikitpun.

Bagaimana caraku mengatakannya? Ah, baiklah, akan kucoba.

Apa kau tidak merasa sedikit keterlaluan pada dirimu? Ah, tentu kau merasakannya bukan?

Sayang, demi kebaikanmu, jangan menyimpan emosi negatif yang datang. Ya tentu, tentu ada yang harus kau tahan. Masalah itu memang harusnya menjadi rahasia dirimu. Sesederhana saja, apapun itu, kau dan hanya kau yang boleh tahu. Bahkan hal remeh pun kau kunci rapat.

Sayang, mari kita sedikit mengintip isi hatimu. Aduuh, ada amat banyak hal yang kau sembunyikan. Tangismu, marahmu, sedihmu, semua kau telan bulat-bulat. Kau marah, kau telan kembali luapan marahmu sebelum sempat tiba di mulut. Ketika sedih, kau kubur semua rasa luka dalam tangisan diam-diam di gelap malam. Oh Tidak, sayang, kau tidak menyelesaikan masalah. Itu namanya menumpuk masalah. Kau rusak jiwamu tanpa jeda. Lihat hasilnya, ada banyak goresan menganga di tengah sana. Kau selalu merasa sendiri tak berteman. Kau seperti bunga tak berteman di padang gersang. Kau menolak setiap bantuan yang datang. Kau tutupi semua dengan tawa dan senyum. Berpura-pura semuanya sempurna, bersikap biasa seolah tak ada apa-apa, padahal jauh di dalam hatimu, kau berteriak minta tolong setiap saat, mencari satu bahu untuk bersandar. Jauh di dalam dirimu, kau selalu menangis karena tak kuat menahan beban di pundakmu. Setiap kali masalah menerpamu, kau memilih menyendiri, menyunggingkan senyum pada orang lain, seolah tak terjadi apa-apa. Padahal, di dalam hati, kau sudah remuk tak berbentuk. Sesakit apapun yang kau rasakan, kau makan saja semua. Semua orang juga memiliki masalah, namun tak ada yang seperti kau ini.

Aku Lelah! ya aku lelah.

Aku ini bagian dirimu. Tapi aku sudah tak kuat dengan apa yang kau lakukan. Aku juga lelah bersikap sok kuat di hadapan orang lain! Aku juga hampir jadi gila karena tingkahmu!.

Bisakah kita hentikan saja semua ini? Tolonglah…

Sekali ini, lihat benar-benar ke dalam dirimu. Lihat apa yang tertinggal di dalam jiwamu…

Apa kau ingin begini seumur hidupmu?

Merusak jiwa dan hatimu hingga nyaris tak berbentuk lagi?

Apa kau akan terus-terusan kalah melawan semuanya? Tentunya tidak.

Ternyata, ada banyak uluran tangan yang siap membantu. Ada yang sigap menopangmu kala angin kencang hendak menerbangkan tubuh ringkihmu.

Tidak, tidak apa-apa,

ayo kita bersama-sama keluar dari lubang hitam menyeramkan ini.

Tak apa-apa, pelan-pelan saja.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Mereka ada di sana, selalu ada selama ini untuk membantu. Iya, mereka yang kerap kita abaikan. Coba buka matamu sedikit lebih lebar, bukan kau seorang yang berada di posisi ini. Namun ada banyak orang yang merasakan apa yang kau rasa. Dan jika mereka bisa berubah, mengapa kita tidak?

Perlahan namun pasti, kita bisa keluar dari jaring kelam ini. Selangkah demi selangkah, ayo kita meraih uluran tangan mereka. Bersama, kita pasti bisa. Pelan-pelan, mari membiasakan diri untuk mengungkapkan dan menceritakan resahmu. Awan hitam itu perlahan akan pudar, dan matahari akan kembali bersinar.

Obatnya itu sungguh sederhana, berbagi.

Iya, berbagi.