Pameran Baju Terakhir Korban Pemerkosaan: Bukan Perkara Pakaian yang Tak Senonoh. Pelakunyalah yang Berotak Bejat!

13.777 views
Berbagai sumber

Beberapa waktu lalu di Brussels, Belgia, digelar pameran yang memajang sejumlah pakaian yang dikenakan para korban pemerkosaan, tepat saat terjadinya peristiwa naas tersebut. 

Pakaian yang dipamerkan dipinjam dari korban pelecehan dan pemerkosaan dengan tujuan agar masyarakat tahu apa yang dirasakan korban setelah dilecehkan.Tak bisa dipungkiri bahwa problematika perempuan masih sangat kompleks meskipun kini kita hidup di dunia yang telah menjunjung kesetaraan.

Ya, setiap masalah yang muncul, jika itu melibatkan perempuan, pasti perempuanlah yang dikambinghitamkan atau disalahkan. Kita ambil contoh saja pada kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya.

Kawan Muda masih ingat perkataan mantan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo ‘Foke’ saat menanggapi kasus pemerkosaan karyawati di angkot pada 2011 silam? Foke jelas-jelas melarang perempuan mengenakan rok mini saat naik angkot agar tidak mengundang ‘nafsu bejat’ kaum adam. Padahal, yang bernafsu adalah mereka yang berotak bejat, bukan perkara korban pakai rok mini, baju ketat, dan lain sebaginya.

Toh, ada lho perempuan yang mengalami pelecehan seksual atau pemerkosaan, padahal baju yang dikenakannya saat peristiwa itu terjadi sangatlah sopan. Kalau sudah begini, apakah kita masih akan menyalahkan baju perempuan?!

Pameran bertajuk “What Were You Wearing?” yang digelar di Brussels itu juga bertujuan membuka mata kita semua bahwa pelecehan atau pemerkosaan tak selamanya terjadi karena pakaian yang dikenakan korbannya!

via: rearfront.com

Dalam pameran tampak berbagai pakaian, mulai dari pakaian lari, gaun, piyama, serta pakaian sehari-hari yang jauh dari label ‘seksi’ atau ‘menggoda’ seperti yang selama ini dipikirkan masyarakat.

via: wionews.com

Sungguh miris, selama ini masyarakat luas terkesan menyalahkan korban pemerkosaan hanya karena pakaian yang dikenakannya. Apa sih salah pakaian?

via: contentodays.com

Kalau si pelaku tidak berotak bejat dan mesum, hal tersebut tak akan terjadi. Memakai pakaian seperti apa pun itu, di tempat yang sepi sekalipun, jika orang yang melihat tak berotak mesum, kejadian buruk seperti pelecehan atau pemerkosaan tak akan pernah terjadi.

via: contentodays.com

BACA JUGA:


Ya, kekerasan terjadi karena cara pandang laki-laki yang melihat perempuan hanya sebagai obyek seksual. Dan menyudutkan korban pemerkosaan, malah membuat mereka tertekan dan menyalahkan diri sendiri. Padahal mereka korban, lho!

via: trouw.nl

Mengutip Liesbeth Kennes dari organisasi CAW East Barabant, “Hanya ada satu orang yang bertanggung jawab dan dapat mencegah terjadinya perkosaan, yaitu pelaku perkosaan itu sendiri”.

via: rearfront.com
via: rearfront.com

Pameran ini menjadi tamparan sekaligus pelajaran bagi kita semua bahwa kebiasaan menyalahkan korban pelecehan seksual atau pemerkosaan (victim blaming) harus dihentikan mulai sekarang. Tindakan ini hanya membuat korban semakin sengsara, mereka pun enggan berbicara tentang kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan yang dialaminya.

Dan ini berpotensi menjadikan mereka korban untuk kedua atau bahkan ketiga kalinya. Tak hanya itu saja, menyalahkan pakaian yang dikenakan korban secara tidak langsung memberikan pembelaan kepada pelaku. Sekarang coba kita merenung, apakah ada orang yang memakai pakaian tertentu dengan tujuan dia ingin diperkosa?

Tak ada yang menginginkan itu terjadi, tapi pelaku lah yang membiarkan semua itu terjadi…

Sumber: Kompas, Femina