Miskin berhati kaya, pemulung dan tukang becak ini sukarela tambal aspal rusak demi selamatkan banyak nyawa.

1.668 views
mbah dul dan mbah sadiyo
Foto : viva.co.id

Ada yang bilang bahwa untuk menjadi bahagia kamu tidak perlu menjadi kaya. Karena bahagia itu milik semua orang. Sama halnya dengan kamu tidak perlu menjadi kaya dahulu untuk memberi atau berbuat baik. Ya, karena siapa pun yang merasa ingin dan “mampu” untuk membantu, silahkan ulurkan tanganmu untuk berbuat kebaikan.

Inilah yang mungkin menjadi alasan Mbah Dul dan Mbah Sadiyo yang secara sukarela menambal jalanan berlubang di daerah tempat tinggalnya. Masih ingatkah Kawan Muda dengan dua yang kakek kisahnya sempat viral ini?

via: viva.co.id

Mbah Dul dan Mbah Sadiyo adalah pahlawan bagi daerahnya masing-masing. Mbah Dul yang sehari-harinya berprofesi sebagai penarik becak, di usianya yang sudah kepala enam bersedia menambal jalan berlobang di daerah Surabaya Utara tanpa mengharapkan imbalan apa pun!

via: liputan6.com

Sama halnya dengan Mbah Dul, Mbah Sadiyo yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung ini merasa terpanggil untuk menambal jalanan berlubang di sekitar tempat tinggalnya di Gondang, Sragen, Jawa Tengah.

Alasan kedua kakek inspiratif ini sungguh mulia, menambal jalan agar tidak membahayakan penggunanya. Mereka berdua pun tak menginginkan imbalan pun tak ingin mengejar ketenaran karena yang mereka lakukan murni untuk ibadah dan atas dasar kemanusian.

via: okezone.com

“Sudah 10 tahunan saya nambal jalan berlobang. Kasihan kalau lubangnya tidak ditambal, banyak orang jatuh kalau melintas. Apalagi lobangnya dalam-dalam dan tidak segera diperbaiki pemerintah,” kata Mbah Dul.

Lalu, bagaimana kedua kakek ini mendapatkan “dana” untuk membeli bahan-bahan yang digunakan untuk menambal jalanan aspal yang rusak? Darimana lagi kalau bukan hasil keringat mereka sendiri. Pekerjaan keduanya boleh dianggap remeh sebagian besar orang, tapi mereka tak pelit dan mau menyisihkan sedikit untuk berbuat kebaikan.

via: kompas.com

“Harapan saya jangan sampai ada orang lain yang terperosok gara-gara lubang jalan, seperti yang pernah saya alami. Maka saya sisihkan sedikit buat beli semen atau pasir,” ujar Mbah Sadiyo.

Meskipun niat kedua kakek ini baik, tak semua suka dengan tindakan mereka dan memilih memandang sebelah mata. Bahkan ada, lho, pengguna jalan yang justru memarahi tindakan keduanya. Padahal, pengguna jalan juga yang nantinya diuntungkan dengan kondisi jalanan yang tak lagi berlubang.

Menanggapi mereka yang suka merendahkan, kedua kakek ini pun memilih tutup telinga. Mereka yang tak ingin disibukkan atau ambil pusing dengan pendapat orang. Keduanya bersikeras akan terus menambal jalan selama masih ada jalan yang berlubang dan membahayakan orang.

via: suarasurabaya.net

“Saya tidak kerja dan tidak digaji siapa-siapa, ini sudah jadi hobi saya tiap malam. Setelah cari rezeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal, buat nutup jalan yang berlobang, ya hitung-hitung abdi saya sebagai warga Kota Surabaya,” kata Mbah Dul.

Kedua kakek ini benar-benar inspiratif ya, Kawan Muda. Di usianya yang senja, mereka masih semangat bekerja meski penghasilan seadanya. Hebatnya lagi, dengan penghasilan yang tak seberapa itu mereka masih mau menyisihkan rezeki dan tenaga untuk kebaikan bersama.

via: liputan6.com

Padahal, kita yang berkecukupan saja terkadang masih mengeluh kurang. Bahkan, beberapa dari kita mungkin lupa menyisihkan sedikit rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Semoga kisah Mbah Dul dan Mbah Sadiyo ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua ya, Kawan Muda.

“Rezeki sudah ada yang mengatur. Ini (menambal jalanan berlubang) saya niatkan untuk ibadah,” ujar Mbah Sadiyo.

Sumber: Kompas.com , Jawapos.com