Mau ngapain setelah kuliah? 3 dilema yang dialami mahasiswa setelah lulus dan cara mengatasinya

4.246 views

Masa-masa mengerjakan skripsi, kamu pasti ingin cepat-cepat kelar dan mengahiri segala kegilaan ini. Kamu berharap skripsi segera di acc dosen supaya bisa sidang dan dinyatakan lulus. Wisuda menjadi momen paling ditunggu-tunggu karena kamu akan terbebas dari kewajiban membaca buku-buku pelajaran dan ujian.

Wisuda memang membebaskanmu dari bangku kuliah, tapi apa yang akan kamu lakukan setelahnya? Kehidupan setelah kuliah itu jauh lebih sulit dan butuh mental baja untuk menghadapi masa transisi dari kehidupan kampus ke dunia “luar” yang sesungguhnya.


BACA JUGA: 10 soft skill yang wajib kamu miliki di luar teori perkuliahan


Setidaknya ada 3 dilema yang akan kamu rasakan setelah lulus, atau mungkin kamu tengah mengalaminya sekarang. Melalui artikel ini, Kita Muda akan membahasnya satu per satu dan memberikan sedikit solusi agar Kawan Muda mampu melewatinya.

1. Tahun pertama memasuki dunia kerja, kamu akan merasa bosan dengan rutinitas.

via: shutterstock

Dunia kerja yang kamu bayangkan akan seru karena kamu akan mendapat kebebasan sepenuhnya sebagai orang dewasa ternyata enggak seindah itu. Melakukan hal yang itu-itu saja di kantor—duduk selama sembilan jam dalam lima hari—perlahan-lahan akan membuatmu bosan.

Kamu mungkin memiliki pekerjaan yang telah kamu inginkan sejak lama. Namun, karena harus bekerja di bawah perintah orang lain, berinteraksi dengan orang baru, dan setiap harinya melakukan hal yang sama lagi dan lagi, kamu pun mulai merindukan kebebasan. Kebebasan masa kuliah dulu untuk melakukan apa yang kamu inginkan saat kamu menginginkannya.


BACA JUGA: Merasa kuliah salah jurusan? Jangan nyesel! Ini dia 5 pekerjaan “kece” yang gak peduli jurusan


Solusi:

Kamu enggak perlu khawatir karena dirimu bukanlah satu-satunya yang merasa begini. Semua orang mengalami hal yang sama denganmu. Agar situasi tidak bertambah runyam, ada baiknya hindari mengeluh tentang kondisimu. Coba untuk “kabur” sejenak dari rutinitas dengan mengambil liburan singkat; manfaatkan waktu cutimu.

Jika kamu benar-benar enggak kuat dengan lingkungan kerja sekarang, jangan ragu untuk resign. Tapi ingat, kamu harus memikirkannya dengan matang. Jangan sampai kamu memutuskan resign tapi masih belum tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.

2. Memutuskan untuk kuliah S2 karena ingin lari dari kenyataan

via: law.georgetown.edu

Melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 itu sah-sah saja, kok. Malah bagus karena kamu bisa memperdalam bidang keilmuan dan berkontribusi lebih jauh di bidang yang kamu ambil. Namun, kalau alasan mengambil S2 adalah karena kamu terlalu takut menghadapi dunia kerja atau enggak kunjung mendapatkan pekerjaan (dan mau cari aman), lebih baik jangan pernah memutuskan untuk S2.

Melanjutkan S2 itu adalah keputusan yang besar dan harus dipikirkan matang-matang. Kalau hanya untuk kabur dari kenyataan, tidakkah kamu berpikir berapa banyak waktu dan biaya yang kamu sia-siakan?


BACA JUGA: 8 Alasan mengapa kamu harus MERANTAU dan KULIAH ke luar negeri


Solusi:

Coba lihat dari berbagai sudut pandang, seberapa penting sih kamu harus melanjutkan S2? Jika kantormu yang sekarang mengharuskan untuk menempuh pendidikan S2, maka kamu harus melakukannya. Jika pekerjaan yang kamu inginkan memiliki kualifikasi S2, kamu juga boleh melakukannya.

Di luar itu—alasan-alasan mulai dari gengsi, bosan bekerja, hingga ingin mendapatkan gaji besar karena bergelar master—jangan pernah berpikir untuk mengambil S2. Ingatlah pelajaran penting saat kamu kuliah S1: kuliah itu enggak mudah dan tanggung jawabnya besar.

3. Kamu merasa tidak punya keahlian yang dibutuhkan untuk dunia kerja sesungguhnya

via: catherinescareercorner.com

Dewasa ini, banyak perusahaan yang enggak terlalu memikirkan gelar. Mereka memilih untuk mencari lulusan dari berbagai jurusan dan melatihnya dari nol.  Sebenarnya, kondisi seperti ini menguntungkan karena semua orang dari jurusan apa pun memiliki kesempatan yang sama.

Di sisi lain, cara seperti ini juga menimbulkan dilema: “Bagaimana kalau ada pelamar yang memiliki skill di bidang itu? Pasti mereka akan menjadi prioritas”. Rasa khawatir mulai muncul karena kamu enggak memiliki skill sama sekali. Kamu pun mulai pesimis dan takut kalau enggak bisa mendapatkan pekerjaan.


BACA JUGA: Berniat kuliah sambil kerja? 10 pekerjaan dengan waktu fleksibel ini adalah pilihan yang pas buat kamu


Solusi:

Mendaftar suatu pekerjaan tertentu dengan keahlian tertentu enggak selamanya mengharuskan kamu untuk kuliah di bidang itu. Pengecualian untuk profesi-profesi seperti dokter, pengacara, polisi, dsb. Nah, untuk skill tambahan yang bisa memperindah CV, kamu bisa mempelajarinya secara otodidak. Kamu bisa memanfaatkan internet atau membeli buku tutorial. Apa gunanya internet kalau enggak dimanfaatkan untuk hal-hal positif?