Dicemooh Sejak Kecil, Kini Ia Berhasil Menjadi Pelukis yang Sukses

Ketika orang-orang melihat penyandang disabilitas, tentu akan mendapatkan respon positif dan negatif. Ada yang merendahkannya atau bahkan memberinya semangat dengan selalu membantunya.

Ketika sadar kita memiliki kekurangan, dari dalam diri pun juga akan ada yang merespon negatif atau positif. Misalnya, “aku enggak bisa gambar, ngapain aku gambar?” atau justru “karena aku nggak bisa gambar, aku harus lebih giat menggambar.”

Jadilah seperti Pak Sabar yang tetap bersemangat mengerjakan lukisan-nya dengan kekurangannya itu. Bahkan beliau memiliki galeri pribadi.

pelukis disabilitas
via rappler.idntimes.com

Pak Sabar terlahir tanpa dilengkapi kedua tangannya, namun hal ini tidak membuatnya minder dalam menekuni seni melukis. Meskipun saat akan mendaftar sekolah, banyak yang menolak dirinya karena kekurangannya itu.

Beliau mulai menggambar sejak duduk di Taman Kanak-kanak (TK). Ketika ayahnya melihatnya menggambar menggunakan kapur sekolah, Ayahnya menganggap itu adalah sebuah bakat dan kemudian mendukungnya untuk melanjutkan bakatnya itu.


BACA JUGA:


Sejak saat itu, Pak Sabar, mulai mengikuti berbagai lomba menggamba tingkat kota ataupun provinsi.

Karena keunikannya itu, saat kelas 4 SD beliau dilirik Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) yang giat mengasah bakat-bakat para penyandang disabilitas di bidang melukis. Kemudian beliau mengikuti pameran lukisan AMFPA di Kota Taipe, Taiwan.

Pak Sabar mulai mendapatkan bayaran untuk lukisannya saat beranjak kelas 5 SD yang dibeli seharga beberapa ribu rupiah saja. Seorang wartawan juga pernah membeli lukisannya seharga Rp150 ribbu di tahun 1990. Bahkan guru dan teman-temannya antusias mendukungnya.

Karena lukisannya, Pak Sabar pernah diundang oleh mendiang Ibu Tien Soeharto sebagai Ibu Negara Indonesia saat itu.

Aktivitasnya di AMFPA pun telah diakui dunia. Beliau dituntut untuk menghasilkan 15 – 20 lukisan setahun, karena AMFPA menggandeng produsen kartu perangko dan ucapan untuk diterbitkan di seluruh dunia.

pelukis disabilitas
via saungkelir.wordpress.com

Keberhasilannya menjadi pelukis kaki tak lepas dari peran Rachmad Husein. Rachmad yang notabene pelukis jebolan kampus ASRI Yogyakarta menempa kemampuan Sabar selama puluhan tahun.

Hal tersulit yang dilaluinya saat melukis adalah jika ukuran kanvasnya lebih dari 170 sentimeter.

Sumber : IDN Times

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *