Jenis-jenis orang malas. Kamu termasuk yang mana?

“Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya,” demikian kalimat motivasi yang kerap tertempel di dinding kelas di kebanyakan sekolah.

Tulisan itu biasanya ditulis tangan menggunakan spidol pada sebuah karton. Para siswa menulis itu ketika classmeeting, dan memang lagi ada lomba kerapian kelas. Hari berganti hari, minggu berubah ke minggu lain, dan bulan cepat-cepat memalingkan dirinya kemudian diestafetkan ke bulan selanjutnya.

Warga kelas tanpa menghayati betul maksud dari kalimat nasihat yang legendaris tersebut. Baik itu para siswa maupun guru yang mengajar, hingga wali kelas. Bahkan, sikap tidak menghayati ini mungkin sudah sejak gurunya memerintahkan, hingga ketika para murid menuliskannya secara hati-hati menggunakan spidol itu. Istilah kerennya: sudah sejak dalam pikiran. Maka tak heran bila kebiasaan tak menghayati nasihat yang sudah menjadi umum tersebut, tak memberi dampak apa pun pada diri mereka. Dampak baik, maksudnya. Yang ada, nasihat yang diharapkan agar yang membaca menjadi rajin, malah jadi malas.

BACA JUGA : Ternyata begini penyebab kenapa orang malas cenderung lebih sukses ketimbang orang rajin

Kalau menurut KBBI, malas itu artinya tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu: orang yang lebih senang mengemis daripada bekerja. Tentu, mengemis yang dimaksud KBBI tersebut juga bukan mengemis yang para pembual lakukan di lampu-lampu merah itu. Namun, sikap tidak mandiri dan selalu candu akan bantuan-bantuan orang lain. Kalau KBBI mendefinisikan demikian, maka Kita Muda memberi penawaran berbeda: membedah jenis-jenis orang malas menjadi 4 bagian berikut ini:

1. Orang malas yang sadar kalau dirinya malas, dan ada kemauan ingin berubah.

Iya, Kita Muda juga paham kok, kalau membunuh rasa malas itu enggak gampang. Makanya ketika kemalasan itu menjangkiti diri, ya dimaklumi saja. Itu manusiawi kok. Bahkan motivator-motivator yang kalau lagi ngomong di panggung bisa menggebu-gebu itu, dia juga punya rasa malas loh. Cuma enggak ditampilin aja. Bisa turun pandangan publik ke dia kalau sampai ketahuan malas. Tentu ini juga akan berdampak pada menurunnya job.

Tapi yang lebih baik dari memaklumi rasa malas ialah: menyadari kalau diri sendiri memang malas, dan ada kemauan ingin berubah. Apakah dengan adanya kemauan, langsung bisa berubah begitu saja? Oh, belum tentu. Ini logikanya sama dengan segala rencana yang tak ada jaminan keberhasilannya. Kuasa dari pemilik rasa malas ialah berusaha untuk berubah, dan dari waktu ke waktu mengupayakannya agar tidak malas lagi. Atau minimal, berkurang, lah.

BACA JUGA : Ikuti tips berikut ini, ganti motto hidup kamu dengan ‘Ayo Produktif !’

2. Orang malas yang sadar kalau dirinya malas, tapi enggak ada kemauan untuk berubah.

pemalas
Foto : YouTube

Ada kegawatan memang, orang-orang semacam ini. Dia tahu masalahnya, dia bisa jadi juga paham langkah-langkah mengatasinya, namun tak ada kemauan untuk berubah. Cuek saja. Membiarkan terus-menerus hingga mendarah daging. Rasa malas memang manusiawi. Tetapi kalau dalam diri enggak ada kemauan untuk berubah, lambat laun ini akan jadi kebiasaan, lalu menjadi karakter, kemudian orang-orang akan memberi label ‘malas’ kepada orang tersebut. Maka dari itu, Kita Muda menyarankan agar jadi orang yang kayak gini. Oke ya?

3. Orang malas yang enggak sadar kalau dirinya malas, tapi gampang menerima nasihat.

Orang ini, dengan segala kemalasannya, ibarat batu yang sangat keras. Lebih keras daripada keadaanmu tatkala kadar testosteron sedang meninggi. Sekeras batu, bukan berarti tak bisa dipecahkan. Atau minimal, dibuat cekungan. Kalau mau tahu buktinya, kamu bisa melihat batu-batu besar di sungai yang rutin terkena tetesan air selama bertahun-tahun. Pada bagian yang kerap menjadi landasan tetesan, pasti terdapat cekungan yang merupakan perbuatan dari tetes demi tetes air. Nah, begitulah sifat nasihat.

BACA JUGA : Hal-hal yang tanpa disadari menyebabkan waktu terbuang sia-sia

Manusia yang dengan segala kemalasannya hingga menjadikannya sekeras batu, namun hati dan pikirannya mudah untuk menerima nasihat, petuah-petuah yang meski kebanyakan hanya masuk lewat satu telinga dan keluar lewat telinga lain itu, lambat laun akan ada yang meninggalkan jejak. Perlahan, jejak-jejak yang seiring berjalannya waktu kalau dikumpulin jadi banyak itu, akan merubah dirinya. Termasuk, merubah kebiasaan yang tadinya malas, menjadi rajin.

4. Orang malas yang enggak sadar kalau dirinya malas, dan suka ngeyel tiap dikasih nasihat.

cewek malas
Foto : youqueen.com

Kalau membaca poin nomer 3 di atas, lalu pertanyaannya: apa yang lebih keras daripada batu yang tetes demi tetes air yang konsisten menembak satu titik, tak mempan membuatnya cekung barang sedikit saja?

Kalau ada, dan kamu tahu itu apa, maka itulah jawabannya. Jawaban yang tepat untuk menggambarkan pengandaian pada poin ini. Lha bagaimana, kalau mau digolongkan, ini betul-betul sudah apes-seapes-apesnya manusia. Sudah malas, tak mau dinasihati pula. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga beserta orang yang menaiki tangga tersebut.

Berkaca dari hidupmu yang mulai lahir sampai hari ini, lalu mengamati pergerakanmu waktu demi waktu selama bertahun-tahun, kira-kira kamu termasuk lebih cocok ke poin berapa? Coba sini tulis di kolom komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *