Sudah menjadi kewajiban kepala keluarga untuk menafkahi dan memastikan bahwa istri dan anak-anaknya hidup berkecukupan meski tak selamanya bergelimang kemewahan. Inilah yang membuat Engkong Nur Khalik memilih untuk tetap bekerja di usianya yang kini sudah memasuki satu abad.

Kakek asal Kampung Garon, Bekasi, ini sehari-harinya berjualan abu gosok dan balon di sekitaran Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan. Profesi penjual abu gosok sudah dijalaninya sejak 50 tahun yang lalu—saat itu abu gosok masih banyak dibutuhkan.

via: merdeka.com

Kini, dia  masih setia berjualan abu gosok dan setiap harinya bisa mendapatkan Rp 100.000. Banyak yang trenyuh dan salut melihat kegigihan Engkong Nur Khalik, sehingga mereka menyelipkan uang lebih saat membeli abu gosoknya.

Kisah Engkong Nur Khalik pertama kali dibagikan oleh seorang pengguna Facebook Fauziah Ulfa dan menarik perhatian netizen. Ulfa menceritakan bahwa ada seorang kakek penjual abu gosok di sekitar kampusnya.

via: Facebook Fauziah Ulfa

“Beberapa kali saya temui kakek ini, bahkan beberapa kali pula saya mencari keberadaan beliau. Beliau kakek tua yang giat mengais rezeki, tak peduli tubuh renta, tak peduli sengatan matahari. Berjalan pagi dari rumah membawa gerobak kecil miliknya yang berisi bola kecil dan abu gosok,” tulis Fauziah.

Kakek tersebut mengalami masalah pendengaran dan kala itu perutnya tengah sakit karena beliau hanya makan seadanya (bahkan lebih sering tidak makan padahal dia masih berpuasa). Engkong Nur Khalik minta maaf pada Fauziah Ulfa karena tidak bisa diajak mengobrol banyak.

via: rimanews.com

Anak-anak Engkong Nur Khalik sebenarnya sudah memaksanya untuk kembali ke kampung. Namun kakek ini punya alasan yang kuat kenapa dia bersikukuh tinggal bersama dua anaknya yang bekerja sebagai pemulung, di gubuk pemulung berukuran 3×5 meter.

Engkong Nur Khalik memberikan hasil jerih payahnya untuk biaya berobat istrinya yang terkena diabetes. Dia juga menyisihkan sedikit tabungan setiap harinya agar bisa menyantuni fakir miskin dan anak yatim saat lebaran.

via: yusufmansur.com

Baginya, bisa memenuhi kewajiban sebagai suami dan menolong orang yang kesusahan adalah perkara penting. Berapa pun rezeki yang didapat, dia harus memenuhi kewajiban tersebut sebagai bentuk ibadah.

“Aki-aki ini udah tua, ibarat matahari ini udah lewat ashar mau maghrib, pengin hidupnya tenang,” ucap Engkong Nur Khalik.

via: kompas.com

“Ini rezeki dari mana sih? Dari Allah, engkong wajib bagi-bagi,” katanya.

Usia seringkali dijadikan alasan oleh seseorang untuk bermalas-malasan. Keadaan juga sering dijadikan kambing hitam saat seorang memilih untuk menyerah pada hidupnya. Padahal, jika ada kesempatan, niat serta kemauan, kita tetap bisa memberi manfaat pada orang lain.

Semoga kisah Engkong Nur Khalik bisa menginspirasi kita semua, ya, Kawan Muda 🙂

Sumber: Kompas.com