Di Tengah Maraknya Korupsi, Penghulu Ini Malah Rajin Laporkan ‘Salam Tempel’ yang Diterimanya ke KPK

1.035 views
penghulu
via Liputan6.com

Kawan Muda, pernah nggak sih kalian kalau sedang mengurus dokumen lalu memberikan uang ‘terima kasih’? Beneran sebagai hadiah loh ya, bukan karena si pegawai yang minta. Nah, hal kayak gini juga bisa disebutkan sebagai gratifikasi.

Gratifikasi adalah pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, tiket perjalan, dan fasilitas lainnya yang diterima di dalam negeri maupun luar negeri baik dengan menggunakan sarana elektronik ataupun tanpa sarana elektronik.

Pemberian hadiah ini bisa termasuk ke dalam tindakan korupsi loh. Penerima atau pemberi hadiah dapat menerima sanksi berupa penjara atau didenda.

Nah, di antara maraknya tindakan gratifikasi, ada sesosok pegawai negeri yang bekerja sebagai penghulu selalu melaporkan amplop ‘terima kasih’ dari warga yang memberikannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penghulu Ganteng Rajin Laporkan Gratifikasi
via liputan6.com

Bapak penghulu ini bernama Abdurrahman Muhammad Bakrie, yang kerap disapa Abdul ini bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA) Trucuk di Klaten, Jawa Tengah. Sebagai penghulu, tentunya sering menerima hadiah dari warganya yang merasa berterima kasih atas pekerjaannya.

Namun, bukannya menerima amplop tersebut, Pak Abdul justru menolaknya, dan mengimbau warga untuk tidak memberikan hal-hal semacam itu di luar uang yang telah ditentukan oleh KUA setempat sebesar Rp 600.000. Uang tersebut sudah termasuk  uang transport dan jasa profesinya.

Bagi Pak Abdul, gaji sebesar Rp 3 juta sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sudah lebih dari cukup untuk membiayai istri dan kedua anaknya.

Lalu, bagaimana jika warga memaksa untuk memberikan hadiahnya?

Sebagai aparatur negara tentu tidak enak jika menolak apa yang sudah diberikan hingga memaksa Pak Penghulu untuk menerimanya. Pak Abdul tentu menerima uang tersebut dan langsung melaporkannya ke KPK setempat.

uang
via merdeka.com

Hingga saat ini, sudah terhitung 59 laporan gratifikasi dari Pak Abdul. Amplop yang diterima berisi mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 200.000 dengan total keseluruhan Rp4.260.000.

Tidak hanya uang, Pak Abdul juga pernah menerima amplop yang berisi surat keterangan sehat. Hal itu tentu membuatnya heran dan tertawa sekaligus karena tidak mengerti mengapa diberikan surat keterangan sehat.

Pak Abdul mengaku tindakannya terinspirasi oleh Khalifah Umar Ibn Khattab. Bijaksana sebagai pejabat atau pelayan masyarakat.

“Saya terinspirasi sosok Umar Ibn Khattab, pernah ada tamu ke rumah Umar Ibn Khattab terkait urusan pribadi. Umar sebagai pejabat kala itu mematikan lampu karena lampu tersebut dibiayai oleh negara. Maka ia merasa tak layak pembicaraan tersebut menggunakan fasilitas negara,” terangnya.

Jadi, apakah kalian masih ingin memberikan ‘hadiah’ kepada pejabat negara?

Sumber : Berbagai sumber