Hidup ini wang-sinawang. Saat kamu mikir hidup orang lain enak, mereka yang menjalani belum tentu merasa demikian. Begitu pula sebaliknya!

Beberapa dari kita mungkin tumbuh menjadi manusia yang gemar membanding-bandingkan. Bisa jadi itu bermula dari didikan orangtua yang ketika teman sebayamu lebih berprestasi, orangtua dengan mudahnya akan berkata:

“Tuh, si A dapet ranking 1 di sekolah. Masa kamu yang bayarnya sama, makannya sama, sekelas pula, bisa sampai kalah!”

Maksud orangtua mungkin baik, yakni biar si anak bisa lebih terpacu untuk meraih prestasi. Tetapi dampak dari perlakuan semacam ini buruk sekali. Anak akan belajar untuk membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Fatalnya, kalau mereka rutin melakukannya hingga dewasa! Maka mereka akan menjadi makhluk yang minder, selalu merasa di bawah orang lain. Karena setiap melihat orang lain, yang selalu ia perbandingkan ialah kelebihan mereka vs. kekurangan diri sendiri. Ya jelas bikin minder, lah. Maka dari itu…

1. Patokannya bukan pada sedikit atau banyaknya yang dimiliki. Tetapi terletak pada kecukupannya. Karena sedikit yang disyukuri, lebih baik ketimbang banyak namun selalu merasa kurang.

bersyukur
Foto : begy.blogspot.com

Sedikit dan banyak itu hanya tentang hal-hal yang bisa kamu simpan. Sementara bisa berbahagia dengan seberapa yang kamu miliki, itu merupakan urusan yang berbeda.

 

BACA JUGA: Dari mana pun kampusmu, berapa IPK-mu, 6 perusahaan ini jauh lebih mementingkan soft skil-mu!

 

Jadi mulai sekarang, jangan lagi menggunakan jumlah sebagai patokan. Selalulah berfokus dengan bagaimana respons yang kamu berikan, dari seberapa banyak hal-hal yang kamu peroleh tersebut.

2. Karena suratan takdir untuk setiap orang berbeda-beda, sudah semestinya menerima apa pun pemberian Tuhan secara utuh.

via: www.huffingtonpost.co.uk

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan selalu menganggap bahwa orang lain selalu lebih beruntung, adalah sikap-sikap yang sama sekali tanpa adanya pemahaman bahwa suratan takdir setiap manusia berbeda.

Pasti Kawan Muda pernah melihat, kan, orang yang berjuang di suatu bidang dan mereka berhasil? Namun pada saat yang sama, juga pernah melihat orang yang berjuang keras namun gagal. Ada juga orang yang mengerahkan sedikit saja, mereka sudah berhasil. Hukum manusia untuk berdoa dan berusaha adalah kewajiban. Namun mengenai hasil, urusannya sudah ada pada suratan takdir dari Tuhan.

3. Tak ada manusia yang betul-betul sama di dunia ini. Bisa jadi, masalah yang pernah engkau atasi, terlampau sulit jika harus ditangani oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya.

via: Lifehack.org

Bahkan orang yang terlahir kembar sekali pun, mereka adalah 2 pribadi yang berbeda. Memiliki pemikiran serta perasaan yang berbeda pula. Jadi jangan menganggap bahwa ketika seseorang mampu meraih sesuatu, maka berarti kamu gagal. Tidak!

 

BACA JUGA: Merasa bad mood dalam menjalani hari? Atasi saja dengan cara-cara ini!

 

Karena pada saat ini juga, ada hal-hal yang dengan mudah bisa engkau pecahkan, namun orang lain harus memeras otak hingga membanting tulang untuk melakukannya.

4. Sedikit sekali yang kita tahu tentang orang lain. Sayangnya, mereka hanya menampakkan kebaikannya. Sehingga itu acapkali engkau perbandingkan dengan kekuranganmu.

via: 99PCWallpapers.com

Siapa sih orang yang bersedia diungkap aibnya? Tidak ada! Kecuali ia ingin mencari sensasi dari aib yang ia sebar tersebut. Tapi percayalah, bahwa harga dirimu jauh lebih mahal, ketimbang dampak yang diberikan oleh sensasi tersebut.

Karena orang-orang cenderung menampakkan apa yang baik darinya, itu mengapa yang tampak hanyalah kelebihannya saja. Ini sama sekali tidak salah, karena setiap orang ingin selalu dikenal baik. Yang menjadi masalah ialah bila seluruh kelebihannya yang tampak itu, engkau anggap sebagai kesempurnaan pribadinya. Lantas, itu engkau gunakan untuk perbandingan dalam dirimu. Yah, jelas jadi minder, dong. Jadilah realistis. Mereka yang sering terlihat baik itu, juga punya kekurangan. Pasti!

5. Selalu menjerumuskan diri dalam lembah perbandingan, adalah cara termudah untuk minder. Karena mensyukuri apa yang ada pada diri, ialah kunci dari percaya diri.

via: Inside.Envato.com

Jika kamu ingin terus merasa minder, bandingkan saja dirimu dengan orang lain. Niscaya engkau akan semakin minder dalam menghadapi hidup.

 

BACA JUGA: 7 software yang bisa bikin kamu semakin produktif dalam menjalani hari-hari

 

Tapi kalau Kawan Muda ingin menjadi pribadi yang percaya diri, belajarlah untuk senantiasa mensyukuri apa yang telah dimiliki. Lalu pada saat yang sama, sembari mengejar kualitas-kualitas yang ingin kamu capai.

6. Sebetulnya, musuh sejatimu ialah dirimu sendiri. Yaitu kualitas dirimu yang lalu vs. kualitas dirimu hari ini.

via: hdwallpapersrocks.com

Berkompetisi dengan orang lain hanya akan membuatmu capek. Kalaupun kamu lebih baik, kebaikanmu hanya akan selangkah saja. Lalu terhenti di situ. Menunggunya jalan kembali. Kalau suatu hari engkau mendapatinya selangkah lebih baik darimu, engkau berusaha untuk setingkat di atasnya lagi. Dan seterusnya. Sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Mulai sekarang, jadilah orang yang merasa bahwa musuhmu adalah kualitas masa lalumu. Jika masa lalumu lebih baik daripada hari ini, berarti sekarang engkau mengalami penurunan. Namun bila sebaliknya, berarti engkau mengalami peningkatan. Dan, pekerjaan seperti ini tak akan pernah terasa lelah. Karena musuh sejati, ialah dirimu sendiri.

7. Terlalu sering fokus pada kelebihan diri juga tak baik, karena bisa memunculkan sikap sombong. Sekali-kali, jangan lupa untuk melihat ke bawah.

Kalau sudah bisa menjadi pribadi yang percaya diri, bukan berarti terus-menerus fokus kepada diri sendiri. Karena bisa-bisa, nanti jadinya malah sombong.

 

BACA JUGA: Sering ragu dengan diri sendiri? Mungkin kamu tergolong orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata

 

Kalau Kawan Muda sudah merasa memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sekali-kali perlu untuk menengok ke bawah. Supaya engkau bisa mengerti tentang bersyukur.

Written by Ahmad Mufid

Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.