Kenapa kerja di kantor itu lebih enak ketimbang kerja di rumah?

stress
Foto : www.retained.com.au

Hidup adalah pilihan. Dan pilihan itu berwujud dari mulai hal-hal kecil hingga hal besar yang semuanya memberi dampak tersendiri terhadap kehidupan. Itulah mengapa, hidup ini disebut pilihan. Pilihan itu bisa berupa ‘akan memilih menikah dengan siapa?’, lalu setelah menikah ‘ingin tinggal di mana?’, hingga pertanyaan ‘setelah menikah ingin bekerja di mana dan melakukan pekerjaan apa?’. Semua itu harus dipilih. Karena kalau tidak dipilih, maka kehidupan yang akan memilihkannya. Pilihan itu bisa lebih baik, namun kebanyakan lebih keji.

BACA JUGA : Kamu yang ingin cepat kaya, profesi-profesi dengan gaji tinggi ini bisa jadi pilihanmu

Saat bekerja pun manusia kembali dihadapkan dengan pilihan: akan bekerja full time di kantor, atau freelance yang bebas mengerjakannya di manapun? Semua memiliki kelebihan dan kekuranga masing-masing. Orang-orang kantora kerap iri dengan penulis, komikus, youtuber, selebgram/selebtweet/selebfacebook yang bebas bekerja di manapun. Bahkan, seringkali income yang mereka peroleh, mengalahkan pekerja kantoran yang bekerja full time. Di situlah kecemburuan muncul. Padahal, menjadi pekerja freelance itu tak seenak yang orang-orang kantoran bayangkan. Banyak hal-hal yang orang kantoran enggak ngerti, bahwa setiap pekerjaan itu memiliki tingkat kesusahannya masing-masing. Termasuk pekerja freelance. Dan, kali ini Kita Muda akan membahasnya:

1. Karena pekerja freelance bebas menyelesaikan pekerjaannya di manapun, ia jadi mengira bahwa setiap tempat adalah kantornya.

via: xworkinternational.com
via: xworkinternational.com

Susah kan, kalau sampai punya perasaan bahwa setiap tempat ialah kantor. Kafe yang seharusnya tempat indah untuk ngopi-ngopi dan ghibah teman yang lain, malah harus ditatap menjadi kantor. Mall yang seharusnya sebagai tempat jalan-jalan bagi kaum fakir namun berharap bisa cuci mata, akhirnya tetap saja menjadi kantor bagi para pekerja freelance.

Jadi, nikmat mana yang kamu dustakan, pegawai kantor? Bagimu, kantor hanya tempatmu bekerja saja loh. Dan rumah, kalau sampai ada lemburan. Tetapi paling tidak, kamu masih bisa melihat kafe, kebun binatang, mall, pantai dengan sebagaimana mestinya.

2. Waktu kerjanya memang fleksibel. Ini justru menyebabkan sebuah pekerjaan diselesaikan pada jam-jam yang sudah tak semestinya manusia bekerja. Tak jarang kalau mereka sering insomnia.

via: mobilejazz.com
via: mobilejazz.com

Freelance bisa tidur kapan saja. Termasuk siang hari, tatkala orang-orang kantoran tengah sibuk bekerja. Namun, pada malam hari orang-orang kantoran bisa tertidur pulas. Sementara para pekerja freelance berpusing ria berjibaku menyelesaikan pekerjaannya seraya terkantuk-kantuk. Tak jarang, kalau pekerja freelance kerap menderita insomnia.

3. Jawaban “kerja di rumah” membuat orang-orang memandang rendah. Mereka sering mengecap para freelance itu pengangguran. Tak pantas menikahi anaknya!

via: www.huffingtonpost.com
via: www.huffingtonpost.com

Jaman memang sudah modern. Segala sesuatu memang sudah terkomputerisasi. Pekerjaan pun bisa dilakukan secara remote. Namun bukan berarti, seluruh kemajuan itu berbandinglurus dengan mindset orang-orang dalam memandang pekerja freelance.

Calon mertua tak akan peduli dengan freelance yang income bulanan bisa mencapai Rp 50 juta. Tetapi ia lebih peduli kepada tentara bergaji Rp 1,7 juta atau PNS dengan gaji serupa. Imbasnya, para pekerja freelance hanya bisa memacari saja. Namun tak diizinkan menikahi. Nyesek!

4. Pekerja kantoran, setiap hari bisa bertatap muka langsung dengan manusia. Sedangkan pekerja freelance, belum tentu. Ia hanya bisa bertatap muka dengan klien. Itu pun kalau si klien tak order secara online.

via: www.fastcompany.com
via: www.fastcompany.com

Para pekerja kantoran, setiap hari bisa bertemu atasan, rekan kerja, dan bawahan. Terkadang, kalau sedang ada tamu kunjungan, ia bisa bertemu dengan orang-orang baru.

Hal-hal semacam itu tak akan bisa ditemui oleh para pekerja freelance. Mereka jarang berinteraksi langsung dengan manusia. Isi hidupnya hanya dunia maya dan dunia maya saja. Paling-paling, ia bisa bertemu langsung dengan manusia tatkala ada klien. Itu pun kalau si klien tak order secara online.

5. Sering dianggap “pengangguran” padahal di rumah seharian bekerja.

via: turbotax.intuit.com
via: turbotax.intuit.com

Seluruh pegawai freelance di muka bumi ini mungkin pernah mengalami hal semacam ini: dituduh pengangguran! Lalu kalau Kawan Muda bisa memperoleh kekayaan dari bekerja freelance tersebut, kemudian uangnya dipakai untuk membeli ini dan itu, isi pikiran tetangga sudah semakin tak jelas. Ada yang bilang nyimpen tuyul, lah. Nyimpen jin, lah. Babi ngepet, lah. Dan banyak lagi.

Kawan Muda di sini ada yang pekerja kantoran? Bagaimana, setelah membaca nasib para teman-teman yang bekerja secara freelance? Ternyata, bekerja freelance tak semenyenangkan yang dipikirkan, bukan?

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.