Sepucuk surat untuk diri sendiri yang masih sering mengeluh

Yogyakarta, 2 Agustus 2016

Dear Mimin,

 

Aku tahu. Kamu pasti bingung menerima surat dariku ini. Bukan, aku bukan alien, bukan pula kembaranmu. Aku adalah kamu yang berasal dari masa depan, tepat 10 tahun dari sekarang. Tidak usah mencemaskanku. Aku baik-baik saja di sini.

Masih bingung mengapa tetiba ada surat untukmu? Aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menghubungi seseorang di masa lalu. Dan aku putuskan menghubungimu. Saat menulis surat ini, usiaku 33 tahun dan kamu 23 tahun.  

Meski aku baik-baik saja, perlu aku sampaikan jika keadaanku saat ini sepenuhnya tergantung padamu. Apa yang kamu lakukan, aku ikut pula menanggung akibatnya. Apa yang kamu tanam, kelak aku yang memanen.

Aku tidak punya banyak waktu bercerita panjang lebar tentang keadaanku sekarang. Satu nasihat yang aku tekankan, selalulah bersyukur. Awali dan akhiri semuanya dengan bersyukur.

Bersyukurlah kamu tidak dilahirkan di masa perang atau di negara-negara rawan konflik.

Identitas ibu pertiwi yang sekarang tercantum di e-KTPmu memang bukan tempat yang sempurna. Ada saja konflik yang datang. Komplit lagi. Bencana alam iya, teror iya, kerusuhan iya, ketidakadilan iya. Tapi itu masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain yang konfliknya lebih rumit.

Bersyukurlah kamu dilahirkan di waktu yang tepat, saat teknologi sedang canggih-canggihnya.

Kehidupanmu sekarang jauh lebih mudah dibandingkan kehidupan kedua orangtuamu. Komunikasi lancar, transfer uang gampang, kemana-mana cepat, nggak perlu perjuangan yang berat untuk mendapat yang kamu inginkan.

Bersyukurlah kamu dilahirkan di zaman dimana wanita dan pria memiliki kedudukan yang sama. Boleh berpendapat, boleh belajar, dan boleh bekerja.

Pernahkah terpikir olehmu jika tahun lahirmu dimundurkan menjadi 50 tahun ke belakang tepat di tahun 1942? Bagaimana jadinya? Kamu remaja saat itu mungkin saja ditangkap partai itu. Atau dimundurkan 162 tahun ke belakang saat Cultuurstelsel sedang gencar-gencarnya. Mungkin saat itu kamu sedang menderita kelaparan akibat kebijakan yang menyengsarakan itu.

Saat ini semuanya jauh lebih mudah. Kamu boleh sekolah, boleh belajar, boleh bekerja. Nggak ada alasan buat kamu untuk nggak bersyukur.

Meski tidak bisa memilih dilahrikan di keluarga mana, kamu harus tetap bersyukur karena mereka merawatmu hingga kamu sampai sebesar ini.

Tepat sekali. Kamu tidak bisa memilih. Kamu hanya diperbolehkan untuk menerima. Apapun yang sudah dipilihkan untukmu, itulah yang terbaik. Dia lebih mengerti kebutuhanmu daripada kamu sendiri. Nyatanya sampai sekarang kamu masih baik-baik saja bukan? Bagaimana jika kamu ditimang keluarga lain yang tidak sesuai kehendak hatimu?

Warna kulitmu memang tidak seputih kapur dan alismu tidak sempurna tapi bagian-bagian tubuhmu bekerja dengan sangat baik.

Kamu terlahir di zaman dimana banyak orang cantik bertebaran. Teknologi untuk mempercantik diri pun semakin banyak. Kamu bisa melakukan apapun supaya cantik. Apapun. Namun sekiranya tak perlulah kamu bertindak berlebihan.

Kamu punya tubuh yang indah dan normal. Organ-organnya bekerja dengan baik selama 24 jam seminggu, pancaindramu bekejra dengan sempurna mengantarkan sinyal ke otak, otak dan jiwamu pun normal. Tak cukupkah itu sebagai pengingat untuk kamu supaya bersyukur?

Mungkin kamu berpendapat bahwa keberuntungan terbesar adalah beruntung tidak pernah terlahir ke dunia. Tapi, bukankah kamu tidak mensyukuri hidup jika demikian?

Aku paham betul yang menjadi keresahanmu. Bukan begitu caranya menghadapi hidup. Bukan dengan menyalahkan siapapun atas takdirmu dilahirkan ke dunia. Aku bisa mengerti kecemburuanmu pada mereka yang segera pergi sebelum bisa mengeja a-e-i-o dan u. Atau kecemburuanmu pada mereka yang tidak pernah ada.

Mengertilah, bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah anugerah, karunia, hadiah, kado untuk mereka yang terpilih. Lalu mengapa iri pada mereka yang tak pernah ada? Iri sama saja kamu tidak menghargai pemberian Yang Memberi.

 Aku ingin bercerita banyak padamu. Tapi kesempatan yang diberikan sangat singkat. Percayalah, tak akan ada yang kamu sesali jika syukur selalu tertanam di hati. Selagi syukur selalu bersamamu, aku baik-baik saja di sini.

 

Tertanda,

Mimin di masa depan.