Teruntuk kamu, yang kadang terngiang dalam ingatan.

3.510 views
via: lanlinglaurel.com

Bertemu denganmu membuatku kesal. Tiada hari tanpa bertengkar. Seperti ayam di pagi hari yang kokoknya bersahut-sahutan, ingin menang. Selalu seperti itu.

Tapi tidak bertemu, membuatku payah. Kita tak saling bertukar kabar, karena memang bagiku tidak cukup perlu. Maaf, aku ulangi. Sebenarnya perlu, tapi toh itu juga takkan mengobati apapun. Kamu juga tahu, gengsiku ini sebesar apa.

Bertemu denganmu aku merasa palsu, berupaya menyembunyikan bahwa setiap rinduku tidak berarti apa-apa. Aku acuh tak acuh, pun dengan kamu. Kita hanya hiraukan hal yang perlu. Sementara perasaan, nanti dulu.

Padahal tiap tidak bertemu, aku selalu menunggu. Menunggu detik-detik di mana kamu mencariku. Sebenarnya aku tahu, kamu diam-diam mencariku. Tapi aku enggan membahasnya, kamu tahu sendiri kan, aku ini gampang ke-ge-er-an.


BACA JUGA: 5 Perubahan baik saat move on yang tanpa sadar kamu alami


Bertemu denganmu seolah semua biasa. Kamu kerjakan porsimu, aku kerjakan porsiku. Profesional. Seharusnya ada sutradara yang berkenan mengontrak kita, karena kita lihai beradu akting.

Hm, tapi tidak bertemu, menjadi kebiasaan yang kadang-kadang aku nggak mau. Kamu pasti takut mengakuinya kan? Tenang, aku juga kok. Aku sama sepertimu, entah kenapa seolah ada batas yang membuatku “Ah, ini bukan apa-apa”.

Di suatu waktu, kita hanya bersua lewat tulisan, hm itu pun kalau ada sinyal. Tidak ada ekspresi, tidak ada intonasi, semu. Tapi apalah aku yang hanya seorang perasa, tiap kata bahkan emoticon yang kamu kirim untuk aku, menjadi berlipat-lipat lebih berarti.


BACA JUGA: Meski dia tak romantis, namun bila kamu merasakan 6 hal ini saat bersamanya, jangan pernah lepaskan!


Kata orang, aku hanya terbawa suasana. Iya, aku membenarkan. Karena buktinya, aku tak pernah benar-benar merasa nyaman. Aku tak pernah bisa membeberkan kondisi hatiku yang kadang-kadang kurang beres. Mungkin belum, tapi mungkin juga takkan pernah. Aku tidak cukup nyali untuk bilang.

Kemisteriusanmu yang justru membuat aku tak pernah jera. Aku tak pernah kewalahan menderita rindu. Terus-menerus dan berkepanjangan. Gila ya, aku rela dimabuk penasaran. Aku bahkan tega membiarkan jerawat bertengger di wajahku. Iya, gara-gara siapa lagi kalau bukan kamu. Aku terus dirundung ilusi.

Sampai kadang-kadang aku ragu, ini serius? Atau aku ini ngigo sih?

Ini apa?

Coba sih kamu yang jelaskan. Coba sih kamu, sekali aja jangan melawan keadaan. Coba kamu meluluhkan ego. Eh, atau aku ya? Tapi seandainya aku bilang kalau kamu sebenarnya seberarti itu, apa kamu akan percaya?


BACA JUGA:7 kisah cinlok yang klise banget tapi bikin baper dan berharap terjadi sama kamu


Toh kita juga suka saling mengelak, tak akan pernah ada yang terkuak. Kita sama-sama kuat berada dalam keteguhan masing-masing. Tapi sama-sama lumpuh melawan … ah sudahlah.

Dalam diamku ada kamu. Bahkan ketika aku berani menulis, berarti kamu lebih dari sekedar ala kadar. Kamu beredar. Jelas. Bahkan lebih jelas. Tapi, hanya dalam ingatan.

Cukup dalam ingatan.

Teruntuk kamu, yang kadang terngiang dalam ingatan,

Kapan pergi?