Sesuatu dalam rasa.

1.989 views
pasangan
Foto : www.elcrema.com

Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang klise. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke lorong pengorbanan.

Membawaku kembali dalam alunan ingatan detik detik setiap pengorbanan yang kau ciptakan khusus untukku.

Lebih dari terenyuh saat itu. Aku seperti patung bodoh yang tak tau lagi harus berbuat apa.

Kesejukan dalam kepenatan itu berarti indah, berarti adiktif.

Aku sempat berpikir bahwa semua semangatku telah dihisap habis oleh dementor.

Jahat memang, kemudian pasrah.

Jika orang tahu, betapa sulit yang harus aku tapaki, orang tersebut akan mengalahkan lelap malamnya untuk berkata apa aku baik saja. Aku rasa seperti itu.

Saat saat kehadirannya diwaktu hampaku berambisi menguatkan.

Sayangnya aku hanya tersugesti bak penonton di pertunjukan sulap, yang setelah pertunjukan selesai aku anggap tak terjadi apa apa.

Tapi seseorang itu tekun. Cinta yang menjadi alasan kuat yang dapat hancurkan keacuhan.

Maka semesta mengembalikan segala usahanya dengan aku yang akan terjatuh dalam pelukannya selamanya.

Setelah rangkaian sinema yang indah dipelupuk mata, sukma ini tak ingin ada jarak darinya.

Selalu dan selalu kata rindu menggerogoti otak warasku.

Aku pikir apalah arti dari sebuah jarak, namun aku menolak mentah mentah, aku tak ingin jarak dalam realitaku bersamanya.

Entah, aku tebisik kata seperti “Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.” Kau akan mendalami makna seperti itu. Dan aku akan seperti bodoh amat. Aku benar-benar ingin hidup di kepahitannya, di kebahagiaannya, dalam suka dukanya, ya aku bersedia, sekarang atau aku akan lebih baik tak ingat apa itu rasa seperti cinta.

-Trias-
Teruntukmu yang ada di otak warasku saat sedang menekan huruf-huruf di keyboard ini 🙂