Menurut Ilmuwan, Pernikahan Ternyata Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Seseorang. Kenapa Ya?

738 views
via: deseretdigital.com

Di era millenial saat ini, pernikahan dipandang sebagai hal yang “membelenggu” kebahagiaan. Banyak orang beranggapan bahwa bersedia untuk “menikah”, berarti selamanya akan terikat untuk berkomitmen denga satu orang, terus menerus hingga akhir hayat. Sehingga beberapa beranggapan bahwa pernikahan hanya membelenggu kebahagiaan yang sudah mereka miliki dan raih dengan susah payah.

Well, tapi nggak semua berpikiran seperti itu, sih. Beberapa tahun terakhir di Indonesia sedang populer dengan konsepsi “menikah muda”, atau slogan yang terkenal adalah #halalinaja!. Golongan ini beranggapan bahwa dengan menikah, selain membawa hubungan lebih sah di mata Tuhan, kebahagiaan akan lebih berlipat karena dapat mengenal pasangan secara mendalam setelah sah dan halal.

via: livevaastu.com

Nah kata “kebahagiaan” ini yang masih menjadi perdebatan di semua kalangan, baik tua dan muda. Apakah pernikahan dapat mendatangkan kebahagiaan yang lebih bagi setiap orang? Some people say yes, some says no. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa menikah ternyata memang membawa kebahagiaan lho, untuk jiwa kita. Riset yang dipublikasikan dalam Jurnal of Happiness Studies, melakukan survey penelitian di Inggris, yang terbagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama terhadap 30.000 orang dan sesi kedua sebanyak 328.000 partisipan. Pada sesi pertama Shawn Grover dan John Helliwell dari Vancouver School of Economics in Canada, menggali informasi terkait kehidupan pernikahan. Kemudian baru di sesi kedua mereka mencari tahu respon dari informasi tersebut ke responden yang sudah disebutkan diatas. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan, lho!

via: myvaastu.in

Hasil dari kedua sesi tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pernikahan memang baik untuk kesehatan mental sesoerang. Sayangnya, mereka tidak secara spesifik merujuk pada yang sudah menikah, namun untuk mereka yang berhubungan dalam waktu lama juga masuk dalam bagian ini. Tetapi sama sih, pasangan yang sudah berhubungan cukup lama juga merasakan tingkat kebahagiaan yang sama seperti orang menikah. Berarti disini kita lihat bahwa yang companionship yang dibutuhkan oleh seseorang untuk bertahan dalam suatu hubungan, dan pernikahan bukan hanya satu-satunya institusi yang bisa memberikan hal tersebut.

via: scarymommy.com

Menurut Helliwell, fase kebahagiaan dalam pernikahan tidak hanya dirasakan pada honeymoon phase atau awal-awal menikah. Tetapi bahkan setelah bertahun-tahun setelahnya, mereka (yang berpartipasi dalam penelitian) tetap puas dengan kehidupan pernikahan yang dijalani. Bahkan pasangan di umur senja yang sudah sekian lama menikah dan mengalami kebosanan, bisa untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Namun sisi positif ini hanya bisa dicapai kalau kamu menganggap pasanganmu adalah sahabatmu, Kawan Muda! Jadi kalau kalian berkesempatan untuk menikahi sahabat kalian sendiri seperti Ayudia dan Dito, maka jangan dilewatkan. Seriously, you will be happier if you marry your bestfriend. 

Pada akhirnya sih, kita tahu bahwa memang tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain memiliki seseorang yang bisa berbagi hal apapun dengan kita, baik susah maupun senang. Menyenangkan nggak sih, ketika di akhir hari, even your worst day, kamu punya seseorang yang bisa diajak berbagi masalahmu? See, that is happiness. Jadi buat kalian yang beruntung sudah menemukan orang spesial itu, jangan dilepaskan, karena kapan lagi kan menemukan seseorang seperti itu dalam hidup?

sumber: elitedaily