Bagaimana resign secara baik-baik dan masih tetap menjalin hubungan baik?

1.409 views
via: AnticipateInvitations.com

Pertanyaan:

Halo, Mimin. Curhat dong.

Aku perempuan dengan berat 43 kilogram. Masih suka biskuit bayi, tapi sudah berani tidur dengan lampu dimatikan kok.

Jadi gini lho, Min. Aku tuh punya pekerjaan. Aku juga punya beberapa teman. Aku pengin meninggalkan pekerjaanku dengan dalih akan mengejar mimpi-mimpi aku yang lain, alias resign. Memang, efek sampingnya adalah meninggalkan teman-teman aku. Tapi aku tuh cuma enggak pengin mereka merasa bahwa aku meninggalkan mereka.

Mereka beberapa kali seperti menyalah-nyalahkan aku, seolah aku ini sengaja meninggalkan mereka. Padahal, Min. Padahal. Padahal lho Min.

Mimin bantu aku dong, gimana ya, jelasin ke teman-teman aku? Kira-kira kalau aku jelasin, mereka bakal ngerti enggak ya?

Makasih ya, Min. Ditunggu Min, jawaban bijaknya Mimin.


BACA JUGA: Suka mengeluh tentang pekerjaanmu? 3 Kisah ini akan membuatmu malu dan lebih bersyukur lagi!


Jawaban:

Halo juga, perempuan dengan berat 43 kilogram yang tidak menyebutkan nama. Besok-besok kalau mau kirim email pertanyaan lagi, kasih nama ya. Kali aja aku lagi punya biskuit dan pengin berbagi ke kamu. Kalau tahu namanya kan enak, bisa langsung manggil dan nawarin dengan pertanyaan, misalnya:

“Hey Ayu, aku punya biskuit. Kamu mau? Kalau kamu mau, aku enggak jadi ngasih. Tapi kalau kamu enggak mau, aku jadi ngasih.”

Tapi sayang, nama kamu bukan Ayu. Karena Ayu adalah penanya yang kemarin. Itu pun nama samaran pula. Tapi ya sudahlah, di sini aku tetap akan berusaha untuk memberikan jawaban atas pertanyaanmu.

Kalau boleh menelaah, alasan kamu resign dengan dalih ingin “mengejar mimpi-mimpi yang lain” itu, mungkin karena kamu tersuntik semangat setelah mendengar potongan lirik lagunya Nidji, bahwa:

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.”

Atau jangan-jangan kamu ingin bergabung dengan (pemikiran) John Lennon setelah mendengar penggalan liriknya yang berbunyi:

“You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will live as one.”

Atau malah kamu terbakar semangatnya karena setelah membaca buku ‘The Alchemist’ karya Paulo Coelho yang di dalamnya terdapat kalimat:

“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.”


BACA JUGA: Ketika orang-orang meremehkanmu, meragukan mimpimu, lakukan 7 hal ini aja


Entahlah, alasan manapun yang membuat kamu pada akhirnya lebih memilih untuk mengejar mimpi-mimpimu, menurutku, itu pilihan yang tepat. Karena memang, kamu berhak bermimpi dan wajib memperjuangkannya. Meski dalam kenyataan perjuangan, seringkali harus melakukan tindakan-tindakan yang tak mengenakkan hati, seperti ‘terpaksa harus keluar dari tempat bekerja’ yang mana itu merupakan salah satu manifestasi perjuangan mengejar mimpi yang kamu lakukan. Coba jelaskan kepada teman-teman di tempat kerjamu yang lama, begini:

“Kita mungkin sudah bukan lagi rekan kerja di tempat yang sama. Namun percayalah bahwa kualitas persahabatan kita akan selalu sama, atau bahkah lebih baik, di manapun pada akhirnya masing-masing dari kita kelak berada. Bukankah William Shakespeare pernah mengatakan bahwa: words are easy, like the wind; Faithful friends are hard to find? Dan tahukah kalian wahai para sahabatku, bahwa kalian termasuk dalam ‘faithful friends’ yang Shakespeare maksud itu? Betul apa yang dia katakan, kalau orang-orang seperti kalian adalah teman yang susah dicari. Karena kalian begitu berharga, maka aku tak rela bila kualitas persahabatan kita dirusak oleh hal-hal sepele seperti keluarnya aku dari tempat kerja. Tetaplah menjadi sahabatku apa pun keadaannya dan di manapun masing-masing dari kita berada.”

Begitulah perempuan dengan berat 43 kilogram yang tidak menyebutkan nama, solusi yang bisa aku dan Kita Muda berikan. Semoga bisa mengatasi masalahmu dan persahabatan kalian membaik kembali. Salam!

 


Disclaimer: #KitaMudaCurhat menerima curhat dari pembaca setia Kita Muda, yang akan dijawab oleh Mufid. Tertarik untuk mengirimkan curahan hatimu? Kirim ke chat Facebook Kita Muda atau ke email [email protected] dengan subject “Kita Muda Curhat” ya.