Teman menyebar undangan pernikahan atau feed Instagram dibanjiri orang-orang yang tengah melakukan lamaran atau resepsi pernikahan, kamu mendadak jadi gusar. Kok semua orang sudah ya, kamu kapan? Rasanya usia juga sudah matang, tapi kok jodoh enggak kunjung datang.

Tak sempurna rasanya hidup ini kalau belum menikah, karena selama ini kamu mengira bahwa pernikahan adalah salah satu pencapaian dalam hidup. Padahal kenyataannya, pernikahan bukanlah pencapaian.

Cam kan baik-baik ya Kawan Muda, jangan pernah menikah karena orang bilang kamu sudah waktunya untuk berumah tangga, karena pernikahan bukanlah satu-satunya pencapaian utama dalam hidup.

Ya, selama ini beberapa dari kita mungkin dibesarkan dengan ajaran bahwa salah satu prestasi dalam hidup adalah menikah dan kalau belum menikah kamu ya belum berprestasi.

Hei, berhenti menganggap dirimu tak lebih baik dari teman-temanmu yang sudah menikah. Berhenti menilai diri sendiri tak layak, jelek, atau semacamnya hanya karena kamu belum menikah. Karena….

Pernikahan bukanlah pencapaian atau perlombaan, tapi sebuah pilihan yang harus dipikirkan matang-matang.

via: decider.com

Membangun sebuah keluarga bukanlah kompetisi siapa cepat dia yang menang. Karena tak akan ada yang memberimu medali atau gelar saat kamu menikah. Itulah sebabnya, kamu tak perlu terburu-buru layaknya orang yang sedang dikejar setan!


BACA JUGA:


Jika kamu belum kepikiran menikah karena sibuk berkarir, melanjutkan studi, atau memang belum kepikiran, why not? Itu kan pilihanmu, kamu yang menjalaninya, bukan orang lain…

via: hollywoodreporter.com

Kata orang sih kalau nunggu siap, kapan siapnya? Sekarang lebih baik mana hayo, menunggu lama tapi akhirnya menikah juga atau cepat-cepat nikah tapi terjebak pernikahan yang enggak bahagia?

Well, menentukan kapan siap atau tidaknya itu memang sebuah misteri. Suatu ketika kamu memang belum siap, tapi dalam hitungan hari atau hari tiba-tiba kamu merasa yakin, layaknya mendapatkan jawaban yang dicari-cari saat mengerjakan soal ujian.

Setiap orang punya patokan prestasi dan kebahagiaannya masing-masing. So, jika temanmu menganggap berkeluarga adalah sebuah prestasi, kamu tak harus mengikuti jejaknya karena kamu punya pilihan sendiri.

via: deenofgeek.com

Yup, kebahagiaan itu enggak bisa dipukul rata, Kawan Muda. Bisa jadi orang satu akan bahagia karena sebab ‘x’, tetapi orang lain mungkin enggak menganggap demikian. Kamu enggak perlu khawatir tertinggal sendiri karena hidup adalah tentang pilihan-pilihan.

Kamu mungkin ‘tertinggal’ dalam urusan asmara, tapi mungkin pencapaianmu di bidang lain sudah lumayan kan? So, untuk apa kamu khawatir?

Yang terpenting sih, jangan suka membandingkan. Rasa gusar dan takut tertinggal sebenarnya muncul karena kamu suka membandingkan diri sendiri dan orang lain.

via: wikia.com

Mulai sekarang, coba deh dikurang-kurangin kebiasaan membandingkan kehidupanmu dan orang lain. Memang sih ini bisa jadi pecutan semangat, tapi kalau terobsesi untuk menyaingi pencapaian orang lain sih sudah enggak wajar.

Apalagi kalau pengin menyaingi orang dalam berumah tangga! Seperti yang Kita Muda singgung di poin sebelumnya, pernikahan bukanlah pencapaian atau kompetisi. Jadi kamu enggak perlu berlari memperebutkannya.

Jika saat kamu masih single, lebih baik bangun karir dulu saja dan coba bahagiakan orang-orang terdekat seperti orangtua. Fokuslah pada apa yang tengah kamu kerjakan saat ini, jangan ke-distract hal-hal sepele seperti ketakutan jadi ‘manusia’ terakhir yang belum menikah dalam circle pertemananmu.

Berkeluarga juga bukan main rumah-rumahan. Daripada terburu-buru tanpa dibekali kesiapan, lebih baik kamu memperbaiki dulu deh kehidupanmu. Ya, mungkin kamu belum bisa disiplin pada diri sendiri atau belum mampu menekan ego. Nah, mending memperbaiki yang seperti ini saja ketimbang galau mikirin kapan kawin!

Sumber: IDN Times