Sejak jaman dahulu kala, emansipasi wanita memang sudah diperjuangkan, bahkan hingga kini. Sudah kita ketahui sejak lama bahwa kesetaraan gender antara wanita dengan pria masih sering diperdebatkan. Hak-hak wanita untuk memilih, untuk bekerja, kesetaraan gaji, dsb, masih menjadi perdebatan dikalangan kaum feminis maupun non. Tetapi meskipun begitu, di beberapa negara pada jaman dahulu kala mengalami masalah ketimpangan gender yang berbeda.

Beberapa kawasan seperti Roma, Yunani, Mesir, India, dan China, memberikan kebebasan, batasan, dan juga kebiasaan yang berbeda terhadap kaum wanitanya yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dilansir dari brightside, ini dia:

1. Barbie di era Romawi

via: brightside.me

Pada jaman Kerajaan Romawi, gadis-gadis disana dikawinkan pada saat mereka baru berumur 12 tahun. Meskipun mereka tidak memiliki masa kanak-kanak yang lama, tapi mereka tetap memiliki mainan. Salah satunya adalah boneka kayu yang “mirip” dengan Barbie, dan ditemukan di peti seorang gadis bernama Crepereia Tryphaena. Crepereia hidup pada abad 2 di Roma. Namun boneka ini sedikit berbeda bentuknya dengan Barbie, dimana kalau boneka romawi ini memiliki perut yang bulat dan pinggul besar. Ditemukan juga di dalamnya satu set baju untuk boneka kayu ini.

2. Hak cerai wanita Yunani

via: flippedtips.com

Pada jaman dahulu kala Yunani memang tidak menganggap wanita sebagai penduduk, sehingga hak dan kebebasan yang wanita Yunani miliki pun cukup terbatas. Tetapi lain halnya ketika seorang wanita ingin bercerai. Ketika wanita ingin bercerai, mereka membutuhkan perwakilan pria yang dapat membantu untuk mengurusi perceraian tersebut. Sedangkan pria lebih unik lagi, mereka hanya perlu mengusir istrinya keluar dari rumah apabila mereka ingin bercerai. Unik, ya?

3. Posisi tinggi wanita Mesir

via: brightside.me

Kalau biasanya wanita sulit untuk memegang peran tinggi dalam agama, maka lain halnya dengan Mesir. Di Mesir wanita dapat memegang peranan tinggi, atau disebut juga God’s Wife. God’s Wife ini diasosiasikan dengan dewa-dewa yang ada. Tetapi yang utama adalah God’s Wife of Anum, yang merupakan gelar kehormatan untuk wanita yang mendampingi pendeta tinggi dalam upacara keagamaan. Uniknya nih, di Mesir jarang seorang wanita menjadi ibu rumah tangga, dan mereka cenderung bergabung dengan masyarakt serta memiliki profesi seperti musisi, penari, dsb.

4. Pendidikan bagi wanita Roma

via: pinterest.com

Pendidikan untuk wanita di era Kerajaan Roma menjadi suatu subjek yang kontroversial. Kebanyakan wanita diajarkan pendidikan dasar seperti menulis dan membaca di sekolah. Namun ada beberapa keluarga yang ingin kaum wanitanya berpendidikan luas, sehingga mereka memanggil guru privat untuk mengajarkan tata bahasa dan filsafat Yunani. Mereka berpendapat bahwa semakin tinggi pengetahuan yang dikuasai seorang wanita, maka mereka akan menjadi pendamping yang lebih menarik bagi suaminya, dan membuat wanita tersebut lebih berpengaruh. Keren!

5. Kebebasan memilih suami untuk wanita India

via: etsystatic.com

Kita semua tahu bahwa di jaman sekarang, banyak wanita India yang menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya. Tetapi di India jaman dahulu, seorang wanita memiliki kesetaraan yang sama dengan pria. Wanita India memiliki hak untuk memilih suami yang dia inginkan, serta bebas menentukan sendiri kapan dia akan menikah. Wanita India juga menerima pendidikan yang baik dan diperbolehkan untuk mempelajari Vedas, sebuah kitab tua agama Hindu yang sangat suci. Berkebalikan sekali dengan India jaman sekarang, ya?

6. Wanita China dapat dicerai jika berbicara terlalu banyak

via: brightside.me

Seorang wanita yang berbicara terlalu banyak dapat menjadi salah satu alasan bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya. Wanita China jaman dahulu nyaris tidak memiliki hak apapun dan dianggap sebagai “barang” kepemilikan suaminya. Pernikahan diatur oleh seorang “mak-comblang” profesional yang mempertemukan kedua pasangan, dan biasanya seorang wanita pertama kali bertemu suaminya pada saat pernikahan. Selain berbicara terlalu banyak, pria China dapat menceraikan istrinya karena cemburu, kurangnya rasa patuh terhadap orang tua pria, sulit memiliki anak, mencuri, dan menderita penyakit langka atau menular.

Hak asasi terhadap wanita merupakan suatu hal yang seharusnya disetarakan dengan pria. Beberapa kerajaan jaman dahulu membuktikan bahwa kesetaraan dan ketimpangan gender terhadap wanita sudah ada sejak jaman dahulu, dan membuat kita harus mengubah stigma ini. Kira-kira Indonesia memiliki cerita yang sama seperti ini nggak, ya?