Kamu baru menikah dan berharap langgeng sampai mati? Lakukan 10 hal ini!

Adalah mimpi semua pasangan, bisa langgeng dalam menjalin hubungan hingga akhir hayat. Cuma masalahnya, tak semua pasangan berhasil mengupayakannya. Yang mengupayakan dan akhirnya berhasil, banyak. Tapi yang mengupayakan, lalu gagal, juga banyak. Jadi jangan mentang-mentang sudah berupaya, lantas bisa serta-merta memperoleh hasil sebagaimana yang dikira. Tapi salah besar juga kalau setelah melihat banyak yang berusaha lalu gagal, terus kamu bilang:

“Ah, buat apa berjuang untuk sebuah hubungan. Toh, teman-temanku yang pada berjuang, pada akhirnya gagal juga. Aku mending gini-gini aja deh!”

Pemikiran seperti itu menjadi kurang tepat, karena memang kuasa manusia itu hanya ada pada doa dan usaha. Selebihnya, urusan Tuhan. Eh, betulan ini, Kawan Muda. Jangan ketawa-ketawa kamu. Logikanya kan begini:

“Yang udah berusaha aja bisa gagal gitu, gimana yang enggak?”

 

BACA JUGA: Jangan menikah kalau cuma gara-gara diledekin soal usia! Kamu lebih tahu, kapan saat yang tepat!

 

Jadi sekarang sepakat ya, kalau kelanggengan sebuah hubungan itu tak hanya soal peruntungan. Namun juga kesediaan melakukan perjuangan. Kemudian, seperti apakah bentuk-bentuk perjuangan itu? Ya, kira-kira seperti inilah:

1. Ucapkan ‘good morning, honey’ saat bangun tidur, katakan ‘I Love You’ ketika menjalani hari, dan bisikkan ‘have a nice dream’ menjelang tidur. Setiap hari!

via: sheknows.com

Kawan Muda pernah ada yang tahu tipping point theory? Itu loh, yang intinya, hal-hal kecil yang kita lakukan terus-menerus, pada akhirnya akan pecah (jadi) juga. Nah, hal ini berlaku pada semua lini, termasuk hubungan.

Kalau kelanggengan yang sampai mati itu kita ibaratkan pecah (jadi) itu, maka yang dimaksud dengan ‘hal-hal kecil yang kita lakukan terus-menerus’ itu bentuknya beragam. Salah satunya ya seperti yang tertulis pada poin ini: “Mengucapkan ‘good morning, honey’ saat bangun tidur, mengatakan ‘I Love You’ ketika menjalani hari, dan membisikkan ‘have a nice dream’ tatkala menjelang tidur. Karena secara teori, dilakukannya terus-menerus, jadi ya, lakukanlah setiap hari.

2. Terimalah seluruh kebiasaan pasanganmu, meski itu yang terburuk sekalipun!

via: livestrong.com

Berani menikahi, atau bersedia dinikahi, berarti siap menerima seseorang yang masuk ke dalam hidupmu secara satu paket utuh. Tidak ada yang ditambahi, dan tidak ada yang dikurangi. Terima utuh! Tak bisa ditawar!

 

BACA JUGA: Jangan salah, bidan tak cuma bisa jaga kesehatan. Kalau kamu menikahinya, ia juga akan menjaga hal-hal ini untukmu

 

Ya kayak sistem Negara kita inilah. Mau diktator atau demokrasi, semua ada konsekuensinya. Kalau diktator, enaknya gampang diarahin. Ngasih batasan ke beberapa hal juga bisa lebih tegas, tanpa tawar-menawar. Meski minusnya, rakyat jadi miskin kreativitas. Sistem demokrasi juga memiliki konsekuensi. Baiknya, SDM rakyat meningkat pesat. Banyak rakyat pada pinter-pinter. Berani bersuara. Tapi minusnya, semua jadi berhak ngomong gini. Ngomong pada seenak udelnya sendiri-sendiri. Padahal, pakar bukan. Kuliah di bidangnya juga enggak. Ngawur? Iya. Kan, bikin gaduh, kalau begini.

3. Walau keburukannya banyak, upayakan untuk mengingat yang baik dan menyenangkan saja. Biar kamu makin tambah cinta.

via: rd.com

Apa yang kamu rasakan, kebanyakan datang dari apa yang paling sering kamu pikirkan. Kalau kamu mikir buruk terus tentang pasanganmu, jangan heran kalau kamu bawaannya pengin bertengkar melulu dengannya. Maka dari itu, setelah disadari kalau semua punya kebaikan dan keburukan, jadi terimalah itu secara utuh. Lalu, pikirkan saja yang baik-baik nan asyik tentangnya, biar hubungan rumah tangga kamu senantiasa bahagia.

4. Kalau lagi marahan, jangan pernah tidur duluan kalau kalian belum baikan.

via: allaboutmymarriage.blogspot.com

Ini sih prinsip yang wajib ditanamkan, ya. Kenapa harus baikan dulu kalau mau tidur? Ya biar kalian berantemnya enggak lama-lama.

 

BACA JUGA: Hal hal yang akan kamu rasakan setelah menikah, yang orang-orang tak pernah ceritakan!

 

Terus, kalau kalian tidur dalam keadaan udah baikan, kan, tidurnya bisa lebih nyenyak. Bukankah begitu, Kawan Muda?

5. Siapa pun yang salah, jadilah orang yang pertama meminta maaf. Katakan pula bahwa engkau berbahagia atas kehadirannya dalam hidupmu.

via: ThoughtCatalog.com

Kalau kamu punya komitmen ini, dijamin deh, usia pertengkaran itu tak akan lama. Bayangkan, kamu sebagai orang yang punya duit 1 milyar, lantas bilang ke orang-orang:

“Siapa yang mau datang ke rumahku, aku kasih duit. Maksimal 1 juta ya tapi.”

Percayalah, niscaya orang-orang akan datang berbondong, rebutan uang, sampai akhirnya duit 1 milyar itu habis juga. Coba, anggap masalah kalian itu sebagai duit 1 milyar tadi. Lalu orang yang rebutan itu dianggap sebagai kalian yang lagi rebutan minta maaf duluan. Yakin deh, akur cuma hitungan jam doang.

6. Kalau lagi jalan bareng, biasakan untuk saling gandeng tangan.

via: Pixabay.com

Mesra itu wajib. Tapi jangan berlebihan. Kalau lagi berduaan di ruang tertutup, silakan lakukan sesukamu. Sekalipun sampai kaki ranjang patah!

 

BACA JUGA: Inilah hal-hal yang akan kamu rasakan bila ditinggal pacar untuk tunangan (atau bahkan menikah) dengan orang lain!

 

Tapi kalau lagi pergi bareng ke luar, jenis mesranya ya biasa saja. Kayak gandeng tangan, atau cium tangan suami kalau lagi mau pergi, atau cium kening istri kalau lagi mau pergi. Yang gitu-gitu aja. Jangan sampai dicipok, disedot, apalagi dinaikin. Jangan! Dikata kuda, dinaikin.

7. Bila ia meraih pencapaian, maka rayakanlah!

via: Hipwee.com

Jangan pernah hidup yang datar-datar saja. Berbahagialah kalau memang waktunya berbahagia. Terutama kalau momentumnya sedang mendukung. Seperti ketika pasanganmu meraih sebuah pencapaian, misalnya. Ketika lulus kuliah, meraih gelar professor, merilis sebuah karya, membangun rumah, dan banyak lagi.

Melakukan hal-hal begini, tak harus mahal kok. Sesuai kondisi saja. Toh, dia pasanganmu, jadi pasti ngerti kondisi keuanganmu. Kalau lagi tajir, perayaannya ya mungkin bisa ngasih dia hadiah berupa mobil mini cooper. Tapi kalau lagi bokek, ya, diajak jajan nasi goreng pun jadi.

8. Siapa pun menyukai kelucuan. Berhumor khususlah kepadanya, bukan lawakan yang secara receh kau tebar ke mana-mana.

via: womenshealthmag.com

Penulis pernah menanyai seorang wanita:

“Apa yang membuatmu bisa cinta kepada seorang pria.”

“Ada banyak! Salah satunya, karena ia lucu!” jawabnya.

 

BACA JUGA: Mengapa buru-buru menikah? Bukankah yang paling penting adalah bertemu dengan orang yang tepat, dan menikahinya di waktu yang tepat?

 

“Wah, pelawak itu berarti banyak yang suka, ya!”

“Oh tidak. Bukan lucu yang seperti itu,” jelasnya. “Namun lucu yang secara khusus ia berikan kepadaku. Bukan ke semua orang!” lanjutnya.

9. Pekalah dengan perasaan masing-masing.

via: AskMen

Sebagian besar wanita mengeluh karena prianya tak peka-peka. Lantas ketika para pria ditanya apa alasannya, mereka menjawab:

“Aku malas, memasukkan diri ke dalam sebuah tebak-tebakan yang hanya membuang-buang waktu saja!”

Biar sama-sama enak, pada saling peka aja ya. Tapi peka yang wajar. Jadi misal kamu sebagai istri, yang berkali-kali ngasih kode, tapi suami tak peka-peka, maka kasih tahulah ia, apa yang sesungguhnya kamu inginkan. Jangan malu-malu. Karena tak semua pria dianugerahi kemudahan dalam membaca kode-kode. Nanti kalau malu kan, malah jadi kamu yang dongkol sendiri. Iya kan? Jadi, saling peka, dan saling sadar. Jangan njlimet, please!

10. Jadilah orang yang bisa dipercaya dan bisa memberikan rasa percaya.

via: Zoosk.com

Untuk jadi orang yang bisa dipercaya itu resepnya ialah, kamu patuh kepadanya, dan selalu bisa diandalkan meski sedang sendirian. Seperti misalnya si istri sedang pergi, lalu si suami lagi di rumah bersama seorang anaknya yang masih bayi. Terus bayi itu BAB. Nah, untuk nyebokin, jangan nunggu istri pulang. Langsung cebokin aja. Nanti keburu bau. Nah, itu contoh bisa diandalkan.

 

BACA JUGA: Cinta palsu memang menyakitkan. Tapi lebih baik ketahuan sekarang daripada nanti waktu pernikahan, bisa panjang penderitaan

 

Selain itu, berikanlah rasa percaya kepadanya. Jangan insecure. Jangan mudah curiga juga. Wong sudah menikah kok masih curiga-curigaan. Gimana mau langgeng sampai mati?

Written by Ahmad Mufid

Profile photo of Ahmad Mufid

Baru rilis buku novel komedi 'Pharmacophobia', lagi bikin podcast 'Teman Becandamu' dan masih berusaha meyakinkan orangtuamu agar beliau jangan menikahiku.