Menjadi bumbu penyedap untuk pasangan

Perbedaan akan menyatu jika kita bisa saling memahami dan menerima.

pasangan
Foto : Hdwallpapersrocks.com

Setiap individu memang tercipta tak sama. Tidak ada satupun orang yang memiliki karakter, perawakan, pikiran, penampilan, dan perilaku yang sama persis. Begitu juga dengan pasangan hidup.

Apakah kita pernah menyangka siapa jodoh kita, seperti apakah jodoh kita sebenarnya. Sebagian besar dari kita pasti punya dambaan orang seperti apa yang pas buat jadi pasangan hidup kita. Namun siapa sangka, banyak juga kawan-kawan yang justru mengakhiri masa lajangnya bersama orang yang memiliki karakter atau penampilan yang sangat berbeda dari kriteria yang didambakan sebelumnya. Yah itulah takdir.

Tak jarang saya mendengar kisah bertemunya dengan jodoh dalam waktu singkat. Pada awalnya dirasa “Ah tak mungkin aku sama dia”, “Dia bukan tipe ku”, atau “Aku bukan tipenya”, ehh malah ujung-ujungnya ketemu selang beberapa waktu saja langsung sah. Pernah juga ada yang awalnya tidak saling mengenal karena memang gaya hidupnya berbeda yang dirasa tak mungkin saling bertemu namun pada saat yang tepat dan ditempat yang tepat pula takdir mempertemukan mereka hingga akhirnya mengikat janji suci pernikahan. Sudah seperti kisah di sinetron aja nih. Hehehe

Kita berhak memilih tapi tetaplah Tuhan yang menentukan. Memang, Tuhan Maha baik, yang memberikan apa yang sebenarnya kita ‘butuhkan’ bukan sekedar apa yang kita ‘inginkan’. Ternyata banyak pasangan yang justru merasa lebih lengkap dan menarik hidupnya ketika menjalani hari-harinya bersama orang yang sangat berbeda dengan orang yang didambakan sebelumnya. Mudahnya kita analogikan saja seperti saat memasak menambahkan campuran gula dan garam. Meskipun memiliki rasa yang berbeda, jika kita gunakan dengan takaran yang pas maka campuran gula dan garam akan menghasilkan rasa gurih alami yang bisa mengalahkan bumbu penyedap rasa.

Terkadang ada juga pasangan yang berusaha merubah dirinya agar bisa se-tipe sesuai seperti yang didambakan pasangannya. Itu boleh saja dilakukan asalkan masih membawa diri kita dalam koridor nyaman dan berubah untuk menjadi lebih baik. Namun janganlah memaksakan untuk keluar dari diri sendiri. Pasangan kita harus tahu bagaimana diri kita sebenarnya agar dia bisa benar-benar menerima diri kita “Apa adanya” bukan menerima kita “Ada apanya”. Be your self!

Perbedaan akan menyatu jika kita bisa saling memahami dan menerima. Itu adalah senjata yang ampuh yang perlu dipegang teguh oleh pasangan manapun. Dengan saling memahami akan timbul acceptability, yang pada akhirnya perbedaan menjadi hal yang biasa dan bisa diterima. Sebenarnya jika kita sadari meskipun nampaknya sangat berbeda namun pasti ada persamaan dari pasangan walaupun hal yang kecil sekalipun. Entah itu dari sifat, hobi, ataupun selera. Jadi dari sudut pandang tersebut benar juga kalimat jodoh adalah cerminan diri.

Bagaimanapun juga dalam menentukan pasangan kriteria yang menjadi hal prinsip memang haruslah ada dan hal lain yang awalnya menjadi kriteria dambaan pasangan kita yang masih bisa ditolerir mungkin tidak menjadi masalah yang besar karena perbedaan itu amazing. So, jika terkadang muncul perasaan galau dan terngiang pertanyaan, “benar ngga ya dia jodohku? Kita kan berbeda jauh..” , jangan takut dengan perbedaan dan pahamilah perbedaan itu, asalkan kamu yakin dia adalah jodohmu dan dirasa klik, keduanya bisa saling memahami dan menerima kondisi masing-masing alhasil semua akan baik-baik saja.  Toh, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kekurangan dan kelebihan masing-masing jika bisa saling melengkapi tentunya akan berbuah manis.