Surat untuk perempuan dalam tanda tanya

cewek sedih
Source : 99pcwallpapers.com

Untuk Perempuan dalam tanda tanya.

Apa kabar kamu, sosok perempuan yang tak ku ketahui siapa, di mana, dan sedang apa saat ini. Aku di sini mengharapkan kau hadir di sisiku, menemaniku melawan dinginnya malam. Menghangatkan suasana melalui ucapan merdu yang terlontar dari bibir manismu. Bersenda gurau, tertawa bersama, saling berbagi suka atau pun duka. Melepaskan kerinduanku selama ini kepadamu. Meski tak kuketahui siapa kamu, sedang apa kamu, dan di mana kamu. Semoga kelak aku bisa menjadi orang yang beruntung saat bisa mendampingimu.

Untuk perempuan yang namanya sulit kueja.

Aku selalu berpikir ingin menuliskan surat ini untukmu. Aku tak tahu apakah sekarang ini waktu yang tepat untuk menuliskannya. Kelak engkau akan menemui sosok aku. Sosok yang begitu keras kepala mencintai perempuan yang dia sendiri tak tahu siapa, dimana, dan sedang apa saat ini. Namun dia tetap percaya akan menemui sosok perempuan itu, yaitu kamu. Semoga kamu sempat membaca surat ini. Aku harap kamu bisa membacanya secara perlahan.

Untuk perempuan yang selalu kurindu.

Surat ini kutulis untukmu. Karena aku tidak tahu kepada siapa bisa kuutarakan maksudnya. Surat ini kutulis dalam sesaknya rindu. Aku tak tahu bagaimana caranya menjelaskan rindu, tapi tak tahu hendak disampaikan kepada siapa rindu itu. Rindu ini untukmu. Jika diizinkan Tuhan, aku ingin melihat Lauh Mahfuzh Nya. Agar aku tak perlu repot-repot menulis surat ini. Agar aku bisa menjalani kehidupanku dengan tenang. Tak seperti sekarang ini yang masih senantiasa menduga-duga sosok seperti apa di jauh sana. Mungkin saat ini engkau masih bersama pria lain. Dia pria yang cukup beruntung menurutku.

Untukmu perempuan yang tak tampak di mataku.

Hanya pada-Nya lah segala harapan kan terselip. Selalu kukirimkan doaku untukmu pada-Nya. Di sini aku selalu mengaamiinkan setiap bismillahmu. Selalu kutitipkan rindu pada-Nya. Entah akan sampai atau tidak. Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di dada. Aku percaya bahwa semua perasaan yang belum aku luapkan ini akan menemui muaranya. Muara yang akan berakhir dengan cerita bahagia.

Untuk perempuan masa depanku.

Untuk saat ini kita masing-masing sendiri. Untuk sementara waktu saja. Kita masing-masing saling menjaga diri, menjaga hati. Memperbaiki diri, memantaskan diri. Aku tahu betapa meresahkannya hidup dalam diri sendiri. Namun, bersabarlah. Untuk saat ini, aku masih belum selesai dengan diriku sendiri. Kelak, jika aku sudah selesai dengan diriku, aku ingin menjalani hidup bersamamu.

Untukmu perempuan yang jauh di sana.

Aku percaya jarak di antara kita semakin dekat. Kita tidak sedang beridam diri. Kita masing-masing sedang melakukan perjalanan. Perjalanan yang tak selalu dalam dimensi ruang, namun selalu dalam dimensi waktu. Kelak kita akan bertemu di sebuah titik pertemuan. Titik yang akan membuat Aku dan Kamu menjadi Kita. Titik yang akan membawa kita bersama, dalam satu cerita.

Untuk perempuan yang ada di dalam hatiku.

Aku tak tahu harus bagaimana mengakhiri surat ini. Memang, aku memang kurang pandai dalam merangkai kata, namun lewat surat yang belum sempat kusampaikan, dan dengan kata yang belum sempat kuucapkan ini, aku ingin menyampaikan bahwa aku ingin mencintaimu sepenuhnya, sepenuh cinta sejati milik-Nya. Cinta sejati yang mengantar kita untuk semakin mencintai-Nya.

Pada akhirnya aku tak mau menjanjikan banyak hal kepadamu jika kelak kita bersama. Sebab, tugas lelaki adalah memberi bukti bukan janji.