Kenapa sih orang Jerman itu kerjanya produktif, padahal jam kerjanya sedikit dan banyak liburnya

Kalau dibandingkan jam kerja di Jerman dan Indonesia itu beda jauh. Kebanyakan di Indonesia jam kerja yang diterapkan bisa full time sekitar 40 – 45 jam per minggu. Padahal riset yang dilakukan oleh Knote, orang Jerman justru memiliki waktu kerja yang lebih sedikit sekitar 35 jam per minggu dan nggak mempengaruhi produktivitas.

Justru mereka bekerja lebih maksimal meskipun waktu kerjanya pendek dan banyak liburnya. Bahkan mereka dinobatkan menjadi manusia paling produktif di dunia. Kok bisa ya?

Nah, untuk menjawab rasa penasaranmu, ada baiknya Kita Muda kasih penjelasannya di bawah ini :

#1. Kalau sedang di jam kerja harus digunakan untuk bekerja.

Kerja
Foto : newscientist.com

Kultur kerja orang Jerman identik dengan kedisplinan dan fokus, jadi saat karyawan sedang bekerja, dia benar-benar memberikan upayanya untuk berkonsentrasi. Mereka nggak boleh melakukan kegiatan lain di luar kerjaan dan itu dilakukan 7 jam setiap hari.

Bisa kebayangkan tertibnya gimana? Nggak ada yang saling gosip, buka socmed apalagi pake acara belanja online. Kebiasaan pura-pura sibuk saat bos datang untuk mengecek, bisa-bisa diberi peringatan kalau ketahuan. Namun, ketika kerjaanmu udah kelar kamu diijinkan keluar kantor sewaktu-waktu, tapi ingat ya kalau udah memenuhi DEADLINE. Jadi, nggak ada aturan ketat masuk jam 9 pulang jam 5, yang penting DEADLINE KELAR!

# 2. Orang Jerman suka berkomunikasi secara langsung.

Via: drharoldkerzner.wordpress.com

Orang Jerman cenderung menganut komunikasi secara to the point, mereka nggak segan ngomong ke atasannya mengenai laporan pekerjaan atau performa kerja mereka. Bosnya pun memang menyarankan demikian dan lebih suka memberi perintah langsung tanpa basa-basi, nggak ada istilah tawar menawar !.

Kalau bawahan lagi LDR-an sama si Bos, mereka boleh melakukan kontak via video call tanpa canggung. Tentu smartphone andalan yang bisa digunakan yakni Infinix Zero 4 atau Infinix Zero 4 Plus. Kenapa?

Via: Infinix

Karena smartphone besutan Infinix tersebut hadir dengan Smart PA + 5.3V yang mengkonfigurasi suara sesuai dengan lingkungan sekitar untuk produksi suara speaker yang seimbang dan jernih. Jadi ketika mereka sedang berkomunikasi dengan atasan meski di tempat umum yang ramai, konser, atau dalam kereta, suara mereka akan tetap jernih didengar si lawan bicara.

#3. Memisahkan kehidupan pribadi mereka dengan pekerjaan.

pasangan liburan
Via : romancetravelexpert.wordpress.com

Tipikal orang jerman itu pekerja keras jadi jarang banget ada yang memanfaatkan waktu istirahatnya untuk hangout setelah pulang kerja sehingga lebih memilih istirahat di rumah. Sebab, mereka menghargai batasan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Bahkan ada rencana dari pemerintah setempat untuk melarang mengirim email yang menyangkut pekerjaan setelah jam 6 sore, biar pekerja bisa istirahat.

Ketika hari libur tiba, mereka benar-benar memanfaatkan untuk berlibur. Aktivitas menyenangkan cenderung mereka lakukan, entah berkunjung ke sanak saudara atau datang ke komunitas. Jadi mereka betul-betul menyeimbangkan antara “work” dan “play” supaya nggak banyak stresnya.

# 4. Punya hari libur yang banyak.

backpacker
Via : www.australiaforum.com

Di belahan dunia manapun tak terkecuali Jerman, menikmati libur kerja atau istilahnya cuti bersama adalah hal yang dimandatkan negara. Yang bikin beda itu rentang waktunya, di Jerman bisa mencapai 6 minggu dalam setahun. Enaknya lagi, udah dikasih libur panjang, gaji tetap dibayar penuh! Eleh-eleeehh…kalau pintar atur waktu bisa traveling sesuka hati deh.

Lantas hubungannya sama produktivitas apa? Orang Jerman menganggap liburan itu seperti bagian yang tak terpisahkan dalam hidup. Bukan berpikiran liburan hanya sebuah bonus atau imbalan dari pekerjaan. Jadi ketika masuk kerja lagi, seperti datang ke tempat baru dengan aktivitas yang baru, produktivitas maksimal dan lebih fresh.

#5. Jarang melakukan meeting atau rapat.

kantor facebook
Via : Office Snapshots

Alasan rapat di lingkungan kerja Indonesia udah jadi kebiasaan, dikit-dikit meeting, dikit-dikit ada pertemuan. Terlalu banyak aktivitas “ramah tamah” dibanding sibuk kerjanya. Kebalikan dengan Jerman, orang bersifat individu dalam bekerja, kelar deadline dia langsung pulang. Jadi nggak heran mereka jarang melakukan meeting atau ngobrol soal kerjaan. Bagi mereka, less social time is more work time.

#6. Jika mereka kehilangan pekerjaan, mereka takkan khawatir.

Via: viralscape.com

Pemerintah Jerman itu sangat peduli dengan rakyatnya, mulai dari menyediakan kesehatan gratis, biaya kuliah free, santunan untuk anak-anak kecil hingga beberapa beban tagihan hidup yang udah ditanggung pemerintah. Jadi ketika ada pekerja yang libur, cuti atau kehilangan pekerjaan, mereka nggak perlu khawatir lagi. Dampaknya, mereka jauh lebih bahagia, lebih produktif dan semua waktunya tercurah untuk memikirkan keluarga dan pekerjaan, bukan memikirkan tunggakan bulanan.

#7. Kualitas lebih utama dibanding kuantitas

Via : tech.co

Prinsip orang Jerman dalam bekerja itu, mengutamakan kualitas daripada sekadar kuantitas. Ketika kita mengejar kuantitas biar bisa dapat reward, orang sana lebih mementingkan kualitas dari hasil kerjanya. Kualitas itu diperoleh dengan fokus, efisiensi dan dedikasi tanpa kompromi di lingungan kerja.

Mereka dengan sadar diri memblokir semua aktivitas luar yang mengganggu demi pekerjaannya, lalu segera pulang ke keluarga dan komunitas untuk menyeimbangkan antara “work and play”. Daripada sekadar pamer karena udah kerja lembur hingga 12 jam dan dapat bonusan besar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *