Kapok Dibutakan Cinta, Model Nyentrik Dylan Sada Beberkan Kekerasan Fisik dan Pelecehan Verbal yang Dilakukan Kekasihnya

5.275 views
via: Instagram @dylan_sada

Kabar kurang menyenangkan kembali menggegerkan jagat media sosial. Model nyetrik Aldilla Wulandari Kusumashanty Pranadjaja atau yang akrab dipanggil Dylan Sada baru-baru ini membuat pengakuan bahwa dirinya telah mengalami penyiksaan dan dilecehkan secara verbal, yang tidak lain tidak bukan dilakukan oleh kekasihnya sendiri.

Model asal Indonesia yang tengah meniti karir di New York tersebut akhirnya buka mulut soal hubungan cintanya yang ‘tidak sehat’. Bukan bermaksud mencari sensasi untuk melambungkan namanya, model multitalenta yang sukses berkarir di New York ini ingin perempuan lain di luar sana tak mengalami kejadian serupa.

Bukan kali pertama mengalami kekerasan fisik dan pelecehan verbal

via: Instagram @dylan_sada

Kekerasan yang dialami Dylan kali ini adalah dampak karena dirinya membiarkan perlakukan sang kekasih sebelum-sebelumnya. Ya, ini bukanlah kali pertama sang kekasih melukai dan melakukan kekerasan secara verbal.

Sebenarnya, Dylan  berniat meninggalkan sang kekasih saat mengalami kekerasan fisik pertama kali. Namun, ancaman dari sang kekasih membuatnya terlalu takut untuk pergi. Rasa cinta pada sang kekasih juga membuat Dylan yakin bahwa kekasihnya akan berubah.

Lagi-lagi disakiti hingga babak belur dan membuatnya menolak tawaran modeling

via: Instagram @dylan_sada

Dugaan Dylan salah, sang kekasih tidak berubah dan kembali melakukan kekerasan fisik padanya. Terlalu lelah berdiam diri, bukti kekerasan fisik yang dilakukan sang kekasih akhirnya diunggah ke akun Instagram pribadinya.

Dalam video yang diunggah Dylan, dia menceritakan bentuk kekerasan fisik yang dilakukan sang kekasih. Memar yang ada diwajahnya didapat saat sang kekasih memukul wajah Dylan dengan sikut dan lututnya. Perbuatan sang kekasih juga membuat lidah Dylan terluka.


BACA JUGA:


Tak hanya itu saja, rambut Dylan kemudian dijambak dan tubuhnya dibanting ke lantai. Gara-gara hal ini Dylan mendapatkan benjolan besar di kepalanya dan  harus menjalani serangkaian CT Scan untuk memeriksa benjolan tersebut.

Dengan kondisi yang babak belur, tak jarang Dylan menolak tawaran pekerjaan yang datang. Kecelakaan adalah alasan yang digunakan untuk menutupi tingkah bejat sang kekasih. Padahal dalam hati Dylan sudah merasa sakit dan tertekan atas semua perlakuan sang kekasih, termasuk kekerasan secara verbal yang dilakukan.

Tak hanya fisik, kekerasan verbal dalam sebuah hubungan juga harus diwaspadai!

A post shared by ♡ (@dylan_sada) on


Seperti yang diketahui dari Instagram Dylan, dia tak hanya mengalami kekerasan secara fisik, tetapi juga verbal. Dylan selama ini terkungkung dalam ‘ancaman’ sang kekasih, pukulan tak tampak ini membuat Dylan semakin tersungkur.

Baginya, kekerasan verbal itu lebih buruk dari kekerasan fisik. Luka akibat kekerasan fisik bisa hilang dalam hitungan hari, tapi luka akibat kekerasan verbal selamanya akan membekas di hati. Dylan menghimbau siapa pun itu (entah perempuan atau lelaki) yang mengalami kekerasan verbal untuk segera meninggalkan pasangannya atau mintalah pertolongan orang lain.

Lantas, seperti apa sih bentuk kekerasan verbal yang patut kita waspadai?

Dikutip dari laman VIVA, bentuk kekerasan verbal antara lain membuat malu, terus merendahkan, menolak untuk berkomunikasi, mengacuhkan atau mengecualikan pasangan, menggunakan nada tidak menyenangkan dan sarkasme, mendominasi dan mengontrol, membuat semuanya seperti kesalahan pasangan, mengisolasi pasangan dari teman ataupun keluarga.

Di  Indonesia, tindak kekerasan dalam pacaran cukup tinggi, tapi korban tak berani melapor

via: vix.com

Berkaca dari kasus Dylan, tak disangka-sangka bahwa tindak kekerasan dalam pacaran (KDP) di Indonesia menempati urutan kedua setelah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Melansir Jurnal Perempuan, kekerasan dalam pacaran terjadi karena banyak yang tidak memahami bentuk kekerasan fisik dan psikis dalam sebuah hubungan.

Dan perempuan adalah pihak yang rentan mengalami kekerasan. Menurut Indraswari selaku tim Subkomisi Pemantauan Komnas Perempuan, berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan, remaja dan anak perempuan rentan mengalami kekerasan karena ketimpangan relasi gender dan lemahnya penegakan hukum. Apalagi jika statusnya masih pacaran, belum ada payung hukum bagi pelaku dan korban.

via: findloveandkeepit.com

Stigma sosial dan pengucilan akhirnya membuat seseorang memilih untuk berdiam diri atas tindakan kekerasan yang dialaminya. Namun mengambil hikmah dari tragedi yang menimpa Dylan, jangan pernah berdiam diri atau menutup diri lagi! Jika Kawan Muda merasa mengalami kekerasan, jangan ragu untuk bercerita atau meminta bantuan siapa pun yang kamu anggap bisa menyelesaikan hal ini dengan solusi terbaik.

Kita semua sungguh menyayangkan tragedi yang tengah menimpa Dylan. Semoga hal ini bisa segera diselesaikan, ya, agar Dylan bisa kembali berkarya.