Jengah Dituntut Berprestasi, Perempuan Ini Jadi Otak Pembunuhan Sadis Kedua Orangtuanya.

2.180 views
via: crimewatchdaily.com

Orangtua tentunya ingin memberikan dan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apa pun akan dilakukan oleh mereka, termasuk menerapkan pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras, dan kaku. Semua dilakukan agar sang buah hatinya menjadi orang yang disiplin, penurut, dan sukses.

Padahal, cara-cara mengekang atau pola asuh yang otoriter bisa berdampak buruk pada masa depan anak. Ya, penelitian mengungkap bahwa anak yang terlalu dikekang ternyata tidak bahagia dan tidak puas ketika dewasa. Dan inilah yang dialami oleh Jennifer Pan.

Perempuan 31 tahun asal Kanada tersebut nekat membunuh kedua orang tuanya pada November 2010 silam.

via: smh.com.au

Motif dia membunuh adalah lantaran keduanya terlalu ketat dalam mendidik. Stress dan tidak tahan, Jennifer Pan membayar orang untuk menghabisi orangtuanya.

via: news.com.au

Jennifer adalah sulung dari dua bersaudara. Kedua orangtuanya, Bich Ha dan Huei Hann Pan, merupakan pengungsi politik dari Vietnam yang berusaha memperbaiki hidup di tanah rantau.

via: twitter.com/maobadee

Keduanya bekerja keras sebagai buruh demi masa depan buah hatinya. Pendidikan menjadi hal yang penting di mata mereka. Karena itulah, pola asuh keduanya cenderung disiplin dan keras.

via: dailymail.co.uk

Jennifer adalah “anak emas” di keluarganya. Tak hanya berprestasi di kelas, dia juga aktif di kegiatan ekstrakurikuler seperti renang dan bela diri.

via: tribunnews.com

Namun, di balik prestasinya, dia merasa tidak bahagia dan sangat tertekan. Hal ini membuat semangat belajarnya menurun yang berdampak pada nilai-nilainya di sekolah.

via: cp24.com

Tidak ingin kedua orangtuanya tahu, Jennifer memalsukan kartu laporan nilainya. Kebohongannya tak berhenti di situ, dia juga mengaku diterima di jurusan farmasi di University Toronto, sesuai dengan keinginan ayahnya.

via: esltutorsite.wordpress.com

Setiap pagi, Jennifer pamit berangkat kuliah, padahal dia mengunjungi perpustakaan umum untuk menyalin catatan dari buku farmasi agar tampak meyakinkan.

via: library.ch.cam.ac.uk

Jennifer juga berbohong tentang wisuda dan pekerjaannya. Bich dan Hann yang mulai curiga pun membuntuti Jennifer yang mengaku bekerja di sebuah rumah sakit.

via: shutterstock.com

Setelah kebohongannya terbongkar, kedua orangtuanya makin keras terhadapnya. Pengawasan ketat diberlakukan. Telepon genggam dan komputer dilarang, bahkan odometer pada mobilnya pun dipantau. Jennifer juga tidak boleh berpacaran dengan Daniel kekasihnya.

via: nischint.com

Awalnya, dia menuruti semua keinginan orangtuanya. Lama-kelamaan Jennifer tidak kuat. Enam bulan kemudian dia didiagnosis depresi dan sempat melakukan percobaan bunuh diri.

via: inlifehealthcare.com

Jennifer akhirnya lelah. Dia sempat merancang sebuah plot bersama teman SD-nya Andrew Montemayor, untuk “memberi pelajaran” pada orangtua yang terlalu mengekang. Namun niatan tersebut tidak terlaksana.

via: star2.com

Ketika dirinya kembali dekat dengan Daniel, niatan tersebut kembali muncul. Rencana yang awalnya ingin “mengerjai” orangtua Jennifer berubah menjadi plot pembunuhan.

via: deccanchronicle.com

Suatu malam di bulan Agustus 2010, Jennifer mengeksekusi rencananya. Dia menyewa pembunuh bayaran, Lenfor Crawford, dkk., untuk menghabisi Bich dan Hann.

via: torontolife.com

Ibu Jennifer ditembak tiga kali di kepala dan tewas seketika. Ayahnya ditembak dua kali, salah satunya di kepala, tapi selamat dan bisa mengingat semua kejadian naas tersebut.

via: yorkregion.com

Jennifer dinyatakan bersalah atas pembunuhan ibunya dan percobaan pembunuhan terhadap ayahnya. Dia dan tersangka lainnya pun divonis hukuman seumur hidup.

via: thestar.com

Sungguh menyedihkan dan sangat disayangkan kasus seperti ini bisa terjadi. Ini menjadi teguran bagi orangtua di luar sana agar tidak mengekang anaknya secara berlebihan.

Karena orangtua cenderung suka melampiaskan ambisinya pada anak, padahal sang anak sebenarnya tersiksa dengan hal tersebut. Semoga kasus Jennifer Pan ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, ya 🙂

Sumber: Keepo.me