Bahasa Indonesia itu susah, buktinya kita sering salah kaprah ketika menggunakan 7 kata ini!

Siapa bilang bahasa Indonesia itu mudah? Meskipun kita tinggal di Indonesia dan enggak asing dengan bahasa ini, ada banyak salah kaprah penggunaan bahasa Indonesia yang tanpa disadari sering kita lakukan di kehidupan sehari-hari.

Bahkan, salah kaprah penggunaan bahasa Indonesia enggak hanya dilakukan oleh individu dalam pergaulan sehari-hari saja. Institusi pemerintahan hingga dunia jurnalistik yang harusnya memperhatikan penggunaan bahasa pun tak luput dari kesalahan berbahasa.


BACA JUGA: 7 komikus cewek Indonesia yang bisa bikin hatimu berdesir


Melalui artikel ini, Kita Muda akan mengupas beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang sering salah kaprah dalam penggunannya. Kata-kata apa saja itu? Ini dia…

1. Acuh

via: huffingtonpost.com

Kata ini adalah yang sering banget disalahartikan. Kalau Kawan Muda pernah dengar kata acuh di dalam lirik-lirik lagu, pasti menggambarkan ketidakpedulian seseorang atau sikap cuek seseorang. Padahal, kata acuh ini sebenarnya menggambarkan kepedulian, lho. Menurut KBBI, acuh itu artinya peduli, mengindahkan, atau mengiraukan. Nah, kalau kamu mau menyebut seseorang enggak ada perhatian, nulisnya tuh “tak acuh” bukan “acuh” doang, hehe.

2. Seronok

via: today.com

“Pakai baju itu yang sopan, jangan seronok!”


BACA JUGA: 6 bahasa tubuh yang akan menentukan sukses atau tidaknya kehidupan cintamu


Hayo, pernah dengar orang bilang kayak begini kan? Atau mungkin orangtua pernah menasihati kamu kayak begini? Kalau lihat KBBI ya, kata seronok itu artinya menyenangkan hati atau sedap dilihat (didengar dan sebagainya). Hemm, padahal selama ini kita mengira kata seronok tuh identik sama sesuatu yang terbuka atau seksi, ckck!

3. Absensi dan Presensi

via: ugm.ac.id

“Eh, nitip absen, dong! Ada acara keluarga nih, gak bisa ke kampus…”

Kalau kata ini sih sampai sekarang masih banyak yang salah kaprah menggunakannya. Teman-teman di kampus atau kantor mungkin sering pakai istilah ini. Entah dari zaman kapan, kalau ngomongin absensi kita pasti mikir kalau itu daftar hadir atau kehadiran. Ternyata, kalau kita intip di KBBI, absen itu artinya enggak masuk atau enggak hadir, sedangkan absensi artinya ketidakhadiran. Jadi, kalau kamu bolos harusnya bilang titip presensi (kehadiran) bukan titip absen (enggak hadir), haha.

4. Kita vs. Kami

via: indonesianway.com

“Kita” dan “Kami” sering banget dianggap sama. Padahal, dua kata ini memiliki arti berbeda dan bisa fatal kalau kamu salah menggunakannya. Kata “kita” mencakup banyak orang, termasuk diri kamu dan orang yang kamu ajak ngobrol.


BACA JUGA: Bahasa inggrismu berantakan? Belajar lewat 11 film ini aja biar bisa lancar


Kalau “kami” mencakup banyak orang termasuk kamu, tapi enggak termasuk orang yang kamu ajak ngobrol.

5. Emosi

“Emosi gue sama orang yang suka ngaret kayak dia!”

“Emosi” sepertinya mengalami penyempitan makna ya dalam penggunaan sehari-hari. Kita sering menggunakan kata ini untuk mengungkapkan perasaan kesal dan marah pada seseorang. Padahal, “emosi” itu artinya luas banget enggak hanya “marah” saja. Menurut KBBI, emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan.

6. Bergeming

via: reddit.com

Dia duduk sendirian di pojok ruangan, diam tak bergeming.

Sering banget nih menemukan kata “tak bergeming” disandingkan dengan kata “diam”. Niatnya sih biar memperjelas keadaan atau sikap yang benar-benar sunyi-senyap.


BACA JUGA: Kalau mau sukses, 7 bahasa tubuh orang sukses ini harus kamu tiru dan kuasai!


Seperti kalimat di atas, yang mungkin maksudnya seseorang hanya duduk diam di pojok ruangan. Hemm, padahal “geming” atau “bergeming” tuh memiliki arti yang sama dengan “diam”.

7. Wacana

keribelog.com

“Guys, rencana liburan jangan jadi wacana doang, ya!”

Kamu pasti mengira kalau “wacana” itu adalah kata yang menggambarkan sebuah rencana yang gagal atau hanya omong kosong belaka. Padahal itu keliru, lho! Menurut KBBI, wacana itu artinya percakapan atau komunikasi verbal. Mungkin, maksudnya kalian bilang “jangan jadi wacana” tuh “jangan jadi percakapan doang” kali ya. Tapi, tetap saja penggunannya kurang tepat, Kawan Muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *