Analisis dampak “Om Telolet Om” terhadap kelangsungan hidup masyarakat dunia

7.126 views
via: www.youtube.com

Mulanya, jargon “Om Telolet Om” diinisiasi oleh anak-anak di daerah Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Mereka secara bergerombol berdiri di pinggir jalan, meneriakkan “Om Telolet Om” kepada setiap bus yang melintas. Tak tanggung-tanggung, beberapa anak bahkan ada yang sampai menuliskan kalimat “Om Telolet Om” pada sebuah kertas, lalu menunjukkannya kepada setiap bus yang lewat. Sungguh, hiburan yang amat bergizi di tengah basinya acara-acara di televisi dan gaduhnya timeline di sosial media. Padahal, sejatinya, televisi dan sosial media adalah tempat melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Terima kasih, telolet! Engkau merupakan manifestasi dari ungkapan: bahagia itu sederhana.

Jargon “Om Telolet Om” ini rupanya memberi dampak yang signifikan terhadap urusan duniawi kita, Kawan Muda. Bagaimana tidak, hiburan rakyat yang bebas biaya ini ternyata menjadi buah bibir di masyarakat. Tak cuma Indonesia, tetapi juga dunia!

Seperti semua hal, bahwasanya segala sesuatu selalu ada dampaknya. Termasuk “Om Telolet Om” ini. Satu per satu, Kita Muda akan membeberkan beragam dampak tersebut. Mari!

1. Bagi pengguna jalan, mereka menjadi lebih bahagia. Terutama para anak-anak.

via: BeritaKeren.id

Jalanan itu isinya hanyalah macet dan muka-muka orang yang bermurung durja. Kalau ada hiburan, paling cuma dari radio, podcast, atau musik. Tapi kini, para pengguna jalan mendapat satu tambahan hiburan. Ya, telolet!

Jalanan yang tadinya diisi oleh orang-orang stres, kini berubah menjadi bahagia. Seperti yang kita ketahui bersama-sama, bahwa bahagia bisa mendatangkan beragam manfaat seperti menyembuhkan sakit kepala, terhindar dari kram, mengurangi rasa lelah, menyehatkan jantung, dan kalau menurut banyak pepatah: mampu membuat orang untuk hidup lebih lama. Jadi, terima kasih telolet, telah membuat hidup kami bahagia!

2. Para supir bus bersyukur, karena dampak dari telolet ini: orang-orang kembali senang menggunakan bus sebagai moda transportasi.

via: www.iambuspacker.com

Puthut EA, seorang sastrawan, melalui akun facebooknya berkata:

“Dulu, banyak orang berpikir era bus akan habis. Untuk jarak dekat, masyarakat lebih memilih naik sepeda motor. Untuk jarak sedang, masyarakat memilih naik mobil, terlebih dengan makin murahnya harga mobil. Sedangkan untuk jarak jauh, digantikan kereta api dan pesawat terbang. Tapi ternyata era bus belum habis. Telolet adalah bukti nyata. Hidup Pantura!”

Dan, memang benar adanya. Tentu banyak supir bus yang merasa bersyukur dengan merebaknya fenomena “Om Telolet Om” ini.

3. Para publik figur dunia jadi tahu. Harusnya, anak-anak penggagas “Om Telolet Om” itu dapat royalti.

via: plus.kapanlagi.com

Saat artikel ini ditulis, publik figur dunia yang turut menggaungkan “Om Telolet Om” melalui twitternya sudah ada banyak, di antaranya: Yellow Claw, DJ Snake, Zedd, Showtek, Steve Aoki, Bassjackers, Martin Garrix, Dillon Francis, The Chainsmokers, Marshmello, dan Michael Ballack. Kita Muda sih yakin, setelah ini, pasti akan ada lebih banyak lagi.

4. Berkah bagi musisi yang kehabisan ide, karena sebentar lagi mungkin mereka akan menciptakan lagu dengan menggunakan judul tersebut.

via: Backstage.Tnp.Sg

Ya, beginilah siklus musisi di Indonesia yang haus ketenaran. Lagu-lagu tak lagi tercipta melalui keresahan hati dan aspirasi-aspirasi yang gagal tersampaikan seperti masa-masa dulu. Kini, lagu-lagu tercipta berdasarkan apa yang lagi ‘anget’ di pasar. Lagu “Sakitnya Tuh di Sini”, lagu “Pokemon Go” dan lagu “Demi Tuhan” yang berawal dari ketika Arya Wiguna menggebrak-gebrak meja untuk Eyang Subur, setidaknya bisa dijadikan contoh. Dan bukan tak mungkin, kalau sebentar lagi bakal muncul lagu berjudul “Om Telolet Om” di internet. Tunggu saja!

5. Youtuber yang krisis subscriber pun bisa turut mendulang berkah dari momen ini. Termasuk selebgram dan selebtweet yang sedang garing konten.

via: YouTube.com

Jangan berpikir bahwa youtuber yang banyak subscribernya itu, atau influencer di sosial media yang banyak followernya itu, mereka difollow karena tak melakukan apa pun. Beberapa yang memang lebih dahulu terkenal bukan lewat sosial media, mungkin bisa mendapat tempat sih di sosial media. Langsung memiliki follower bejibun. Atau punya banyak subscriber, kalau mereka punya akun youtube.

Tetapi, bayangkan mereka yang semula bukan siapa-siapa, lalu memperoleh ketenaran melalui youtube dan sosial media. Tentu mereka bisa terkenal gara-gara konten yang mereka sajikan kepada publik. Kalau lama mereka tak memproduksi konten, siap-siap saja kalau sebentar lagi follower atau subscriber akan berhenti memfollow atau berlangganan. Jadi, adanya momen “Om Telolet Om” ini merupakan berkah tersendiri bagi para kreator di dunia maya itu. Karena mereka jadi punya ide untuk memproduksi konten.

Eh, tapi ngomong-ngomong, bukan cuma kreator saja, sih. Beberapa situs juga turut mendulang berkah. Ya termasuk Kita Muda ini. Hehehe.

6. Pada akhirnya, kita wajib berterima kasih. Gara-gara “Om Telolet Om” media-media menjadi kembali kepada hakikatnya sebagai hiburan. Termasuk timeline sosial media!

via: ipopam.com

Oke, mungkin media dan sosial media juga bisa berfungsi sebagai pemberi informasi. Namun di sisi lain, yang jangan sampai dilupakan ialah: mereka juga berfungsi sebagai hiburan dikala penat akan rutinitas sehari-hari.

Kalau belakangan ini media dan timeline kerap gaduh, kali ini mendadak berubah adem nan menggembirakan. Jadi, lagi-lagi, terima kasih telolet!