Di tengah kondisi perpolitikan ibu kota yang tengah memanas, seorang remaja asal Aceh muncul dengan temuan mutakhirnya, yang seolah-olah memberikan angin segar dan membuat masyarakat Indonesia sejenak melupakan persaingan sengit yang terjadi kala itu.

Adalah Naufal Raziq, siswa dari Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa yang mengejutkan masyarakat Indonesia dengan pohon listrik kedondong temuannya. Naufal berhasil memproduksi listrik dari pohon kedondong sejak usianya 13 tahun. Semua berawal dari percobaan yang dia lakukan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Buah atau pohon yang mengandung asam bisa mengalirkan listrik

via: keepo.me

Mulanya, Naufal menggunakan kentang sebagai bahan percobaan. Dia memasukkan lempeng tembaga dan logam ke dalam kentang dan ternyata arus listrik muncul dari sana. Dia pun akhirnya kepikiran untuk mencobanya pada buah atau pohon yang mengandung asam. Karena buah-buahan yang memiliki kandungan asam bisa menghasilkan arus listrik.


BACA JUGA:


Dan Naufal pun memilih pohon kedondong pagar. Kenapa Naufal akhirnya memilih pohon kedondong? Menurutnya, pohon kedondong memiliki batang yang besar dan mudah tumbuh. Kulitnya juga enggak mudah busuk. Keberhasilan Naufal menemukan energi alternatif untuk sumber listrik membuatnya mendapatkan apresiasi dari banyak pihak.

Naufal mendapat apresiasi, tapi penemuannya tak begitu efektif saat diterapkan

via: keepo.me

Bahkan ide Naufal disambut baik oleh Pertamina EP Rantau Field dan digunakan dalam program CSR untuk warga Desa Tampur Baloh yang telah hidup tanpa listrik sejak tahun 2005 lalu! Bibit pohon kedondong pun mulai dipasok ke Desa Tampur Baloh dan instalasi yang diperlukan untuk menghasilkan listriknya pun dipasang. Hasilnya, listrik memang berhasil menyala. Sayang, hal tersebut enggak berlangsung lama.

“Awal kami ya jelas senang. Tapi saat dites, hanya satu rumah yang mau hidup,” keluh Hasbi, yang juga menjadi imam di desa seperti yang dikutip dari Tempo. “Sebentar saja hidupnya dengan kekuatan satu lampu, tapi itu biasanya hidup kalau ada kunjungan para petinggi Pertamina dan pemerintah kabupaten. Sepulang mereka tak hidup lagi.”

Masyarakat Tampur Paloh yang awalnya antusias kini merasa dibohongi oleh proyek tersebut

via: keepo.me

Karena listrik tak lagi mengalir, warga setempat pun penasaran dan memeriksa kabel-kabel yang di pasang di batang pohon kedondong. Mereka kaget saat menemukan sejumlah baterai di pasang di sana. Warga curiga kalau pohon kedondong bukanlah sumber listrik yang menghidupkan lampu-lampu tadi (meskipun hanya sebentar).

Pihak Pertamina sempat meminta warga menambah pohon kedondong di sekitar desa dengan imbalan Rp 25 ribu/per pohon. Namun warga menolak karena listrik kedondong dianggap tak bergitu berdampak pada kehidupan mereka. Warga malah berniat membangun pembangkit listrik dari air terjun yang ada di sekitar desa dengan menggunakan dana desa.

Bukan kesalahan Naufal, inovasi temuannya masih perlu dikaji lagi

via: keepo.me

Listrik kedondong bukanlah ide yang buruk, tapi temuan Naufal masih butuh dikaji ulang dan dikembangkan lagi kalau pemerintah benar-benar serius ingin mewujudkan sumber energi listrik alternatif  tersebut. Apalagi daya listrik yang dihasilkan dari kadar asam pohon kedondong sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, cuaca, dan fisik pohon itu sendiri.

Terlepas dari kurang maksimalnya penerapan listrik kedondong temuan Naufal, kita harus tetap mengapresiasi nih inovasinya. Bayangkan, di usia yang masih muda Naufal berhasil menemukan sumber listrik alternatif dari sesuatu yang sederhana dan mudah ditemukan seperti pohon kedondong.

Kita enggak boleh nih menyalahkan Naufal, karena hal ini terjadi akibat beberapa pihak terlalu semangat dan tergesa-gesa menerapkannya. Padahal masih butuh dikaji ulang…

Sumber: Keepo