6 Hal Ini Jelas-Jelas Diragukan Kebenarannya, tapi Masih Ada Lho Segelintir Orang yang Mempercayainya!

Duh, tepok jidat!

Membahas tentang mitos yang beredar di tengah-tengah masyarakat memang enggak ada habisnya. Bagaimana tidak, banyak sekali mitos yang berkembang di sekitar kita, entah itu mitos tentang kesehatan, kebersihan, rambut, tempat-tempat mistis, dan sebagainya. Beberapa sih memang bisa dibuktikan kebenarannya dan ada juga yang masih dipercaya sampai sekarang karena sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Namun, enggak sedikit lho mitos yang malah membuat kita salah paham dan sesat pikir. Yup, para ilmuwan berusaha untuk membuktikan kebenaran mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Dan hasilnya pun mengejutkan, sebagian besar mitos ternyata enggak valid dan enggak terbukti secara ilmiah! Seperti 6 mitos di bawah ini, yang jelas-jelas keliru tapi (anehnya) masih ada saja yang mengamininya.

Mitos 1: Virus HIV itu sebenarnya tidak ada

via: brightside.me

Setelah melakukan penelitian selama puluhan tahun untuk mencari bentuk virus HIV agar bisa menemukan obat untuk penyakit tersebut, beberapa ilmuwan akhirnya menyimpulkan bahwa virus HIV sebenarnya tidak ada. Ya, banyak yang percaya kalau virus HIV adalah teori konspirasi yang dibuat oleh CIA ada juga yang beranggapan bahwa HIV direkayasa secara genetic.

Mitos 2: Manusia hanya menggunakan sekitar 5-10 persen kapasitas otaknya

via: brightside.me

Kawan Muda pasti pernah dengar dong kalau sepanjang hidupnya manusia hanya memakai 10 persen kemampuan otaknya? Biasanya kita menemukan fakta tersebut di buku-buku motivasi nih. Namun tahu enggak, fakta tersebut ternyata hanya mitos belaka. Yup, neurologis Barry Gordon mengungkapkan bahwa manusia menggunakan semua bagian dari otak sepanjang hidupnya dan sebagian besar otak manusia aktif setiap saat.

Mitos 3: Produk Pangan Rekayasa Genetika itu berbahaya

via: brightside.me

Beberapa waktu lalu sempat beredar isu bahwa Pangan Rekayasa Genetik (PRG) itu sangat beracun dan menyebabkan tumor sehingga berbahaya untuk dikonsumsi. Kenyataannya nih, bahan makanan yang direkayasa secara genetika (misalnya jagung manis, ubi, dan kedelai), akan melalui serangkaian pengujian sebelum dilepas di pasaran, mulai dari tes struktur, toksisitas, hingga pengujian kepada hewan. Pemerintah pun tak akan sembarangan melepas produk PRG di pasaran dan petani juga tidak bisa sembarangan menanam varietas PRG.


BACA JUGA:


Mitos 4: Global warming itu hanya khayalan belaka

via: brightside.me

Sama halnya dengan virus HIV, ada yang bilang kalau perubahan iklim hanyalah akal-akalan Negara Barat. Yup, dengan melempar isu tentang perubahan iklim dan pemanasan global, negara yang sedang berkembang akan terhambat kemajuan dan proses industrinya sehingga negara Barat bisa tetap menguasai dunia. Duh, padahal nih ya fakta di lapangan membuktikan kalau pemanasan global itu benar-benar nyata adanya! Kamu merasa kan dari tahun ke tahun suhu udara semakin panas saja?

Mitos 5: Berlari di tengah hujan tidak akan membuatmu kebasahan

via: brightside.me

Katanya sih, kalau berlari di tengah hujan kita enggak akan kebasahan. Namun, penelitian terbaru malah membuktikan sebaliknya. Ya, sebuah percobaan dilakukan untuk mengetahui mana yang lebih basah, saat kita berjalan di tengah hujan atau berlari di tengah hujan. Hasilnya pun mengejutkan, saat berjalan di tengah hujan tubuh ternyata lebih kering dibanding saat berlari menerobos hujan.

Mitos 6: Genetik menentukan etnisitas

via: brightside.me

Selama ini banyak yang beranggapan bahwa etnisitas adalah konsep yang erat kaitannya dengan sejarah biologis seseorang. Padahal kenyataannya, etnisitas adalah suatu kesatuan sosial yang enggak ditentukan oleh sejarah biologis atau genetik nenek moyang kita tetapi oleh kedudukan, pengalaman, pilihan kita sendiri.

Apakah Kawan Muda pernah tahu mitos lain yang ternyata enggak terbukti kebenarannya tapi masih saja dipercaya banyak orang? Jika iya, jangan ragu untuk menambahkannya di kolom komentar ya 😉

Sumber: Brightside