9 Alasan kenapa kamu jangan menilai orang hanya dari “covernya”

menilai dari luar
Foto : licdn.com

Begitu kata pepatah. Kita sering banget mendengung-dengungkan pepatah di atas agar tidak menilai orang dari luarnya saja. Tapi nggak jarang kita sendiri yang jadi khilaf. Belum pernah ketemu, eh udah nggak suka aja.

Menilai orang dari luar’ bermakna konotasi buruk. Di dalamnya tersirat penilaian yang tidak adil, sepihak, dan terlalu cepat menarik kesimpulan. Sebenarnya sah-sah saja kalau kamu berbuat demikian. Toh itu pilihan masing-masing.

Akan menjadi salah jika kamu mengatakan penilainmu pada orang lain dan mempengaruhi opini mereka sehingga menjadi buruk juga. Baca dulu alasan-alasan ini biar kamu nggak lagi sembarangan menilai orang dari luar.

Baca Juga : Pria suka wanita yang kayak gini lho …

1. Belum tentu kamu lebih baik dari dia.

compare
Foto : www.greentechmedia.com

Poin pertama yang paling utama sebelum kamu menjatuhkan penilaianmu adalah … Belum tentu kamu lebih baik dari dia! Ingat itu! Kamu pakai pakaian tertutup sedangkan dia udelnya keliatan? Berarti kamu lebih baik dari dia? Belum tentu. Banyak lho contohnya yang udah-udah.

2. Setiap orang diiciptakan Tuhan karena sebuah alasan. Begitu juga dengan ia.

Tidak ada ciptaan di dunia ini yang tidak berguna. Nyamuk yang kecil diciptakan bukan untuk menggigit manusia tapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian juga dengan dia. Dia diciptakan Tuhan untuk satu alasan, kayak lagunya Fifth Harmony, Worth It.

Baca Juga : Secuil pesan buatmu yang suka SHARE “Kebodohan” di media sosial hanya demi “LIKE”!

3. Meremehkan mereka sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta.

Meremehkan seseorang yang ada di hadapanmu sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta. Manusia yang kamu nilai buruk itu adalah ciptaan Sang Pencipta. Jadi, sebelum kamu menilai ia buruk, perhatikan ia baik-baik, dan ingat tentang Yang Menciptakannya.

4. Setiap orang memiliki sisi kebaikan. Tidak ada orang yang 100% jahat.

Seorang penyendiri tidak mudah terbawa arus pergaulan
Foto : dhessland.wordpress.com

Nggak ada manusia yang 100% baik atau 100% jahat. Kebaikan dan kejahatan, keduanya bersemayam di dalam hati manusia. Tokoh yang 100% jahat/baik hanya terdapat di karakter fiksi. Demikian pula dengan orang yang kamu nilai buruk. Masih ada kebaikan di diri mereka yang bisa kamu temukan.

Baca Juga : Tidak pilih-pilih teman, sama dengan memilih teman yang tidak dipilih. Maka, pilihlah teman!

5. Menilai mereka dengan penilaian yang buruk tidak membuatmu jadi lebih baik.

Menilai buruk mereka tidak membuat kamu jadi manusia yang lebih baik. Baik itu relatif. Komponen kebaikan itu ada banyak. Baik itu luas. Jika kamu menilai buruk seseorang, berarti kamu adalah tipe orang yang close minded, dan tidak melihat sisi kebaikannya.

6. Nggak ada satu orang pun yang sempurna, termasuk kamu.

tidak ada yang sempurna
Foto : www.firstcovers.com

Come on! Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Tidak ada. Termasuk kamu. Sebelum kamu menilai orang lain, bercerminlah pada diri sendiri. Kamu juga punya kekurangan yang mungkin lebih buruk dari mereka.

7. Penampilan bisa saja menipu.

Penampilan luar sangat mungkin tidak mencerminkan apa yang ada di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita tahu apa yang terjadi, namun bisa saja kita tidak tahu sama sekali. Hikmah saja bersembunyi dibalik musibah, apalagi penampilan seseorang. Jelas banget bisa ditutupi.

Baca Juga : 7 Hal yang perlu kamu tahu dari seorang penyendiri

8. Kita semua diciptakan berbeda.

berbeda
Foto ; www.theodysseyonline.com

Manusia diciptakan berbeda-beda. Dari segi fisik saja banyak perbedaan, apalagi dari segi nonfisik. Jika manusia punya isi hati dan isi kepala yang sama, maka kita bukan lagi manusia, melainkan robot yang terprogam. Hargai dan nikmati perbedaan tersebut.

9. Hanya karena kamu nggak suka bukan berarti mereka salah.

Jadi, kamu nggak mau temenan sama cowok yang suka warna pink hanya karena kamu suka warna hijau? Boleh, boleh-boleh aja. Tapi jangan sampai kamu merasa benar sendiri atas sikapmu. Warna hijau belum tentu lebih bagus dari warna pink. Keduanya sama-sama dibutuhkan agar pelangi dapat tercipta. Jangan sampai ya kamu punya sikap seperti ini.

Jika masih susah menghilangkan kebiasaan menilai dari luar, nggak papa jika masih dilakukan. Tapi ingat pesan Kita Muda, nggak perlulah ngajak-ngajak orang lain agar memiliki penilaian yang sama kayak kamu. Bagaimana seandainya jika kamu dibegitukan? Nggak suka kan?

Written by Mariam G.P. Aulia

Cewek biasa-biasa aja | Suka menyendiri | Suka makan bakso dan minum coklat anget.