Semua berawal dari pernyataan ­­Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto akhir Februari lalu yang menyatakan bahwa kebiasaan mendengarkan musik atau merokok saat mengendarai kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, seharusnya tidak boleh dilakukan. Pengendara yang kedapatan merokok atau mendengarkan musik saat mengendarai kendaraan akan ditindak tegas (ditilang).

Hal ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Banyak yang menyatakan keberatan atas pemberlakuan aturan ini. Bagaimana tidak, mendengarkan musik adalah kegiatan yang lumrah dilakukan untuk mengusir kepenatan.

Menurut Budiyanto, larangan juga berlaku pada mereka yang menggunakan headset atau earphone. Lantas, bagaimana nasib pengendara angkutan online yang membutuhkan headset atau earphone untuk urusan pekerjaan?

Kabar simpang siur yang menyebabkan masyarakat salah paham

via: healthstatus.com

Karena ucapan AKBP Budiyanto menimbulkan polemik ( masyarakat banyak yang memaknainya sebagai pelarangan mendengarkan musik dan merokok), Ditlantas Polda Metro Jaya Kombes Halim Paggara mencoba menjelaskan duduk perkara terkait larangan tersebut.

Masyarakat  tidak akan langsung ditilang jika kedapatan mendengarkan musik atau merokok. Namun, jika tindakan tersebut menyebabkan kondisi kendaraan yang dibawanya menjadi tidak wajar, ugal-ugalan, serta membahayakan pengendara lain, baru pengendara tersebut akan ditilang.

Ada aturan tertulis, tapi tidak secara detail menyebutkan larangan mendengarkan  musik atau merokok

via: detiknews.com

Di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 106 Ayat 1 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memang sudah disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Namun, tidak ada detail yang menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mengemudi.

Di sini, polisi memiliki kewenangan (diskresi) untuk menentukan apakah si pengendara tergolong melanggar atau tidak. Menurut Halim Paggara dilansir dari Metro TV News, kalau si pengendara motor menggunakan headset hingga tak bisa mendengar bunyi klakson di belakangnya atau laju motornya menjadi tak terkendali (melanggar rambu, dsb) karena sibuk berkomunikasi melalui headset, baru dia akan ditilang karena kehilangan konsentrasi.

via: autos.id

Begitu juga dengan pengendara yang merokok, jika aktivitas merokok mengganggu konsentrasi hingga menyebabkan pelanggaran terhadap rambu lalu lintas atau melukai pengendara lain karena bara api bisa mengenai mata, baru pengendara tersebut bisa dikenai sanksi.

Sesuai dengan aturan dalam UU No. 22 Tahun Pasal 283, sanksi yang dikenakan bagi pengendara yang kehilangan konsentrasi adalah pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Mendengarkan musik di dalam kabin mobil tidak dilarang, mendengarkan musik ‘berlebihanlah’ yang dilarang

via: videoblocks.com

Kepada Kompas.com Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan merokok dan mendengarkan musik saat berkendara diperbolehkan.

“Kalau orang sedang nyetir macet stres, merokok boleh, merokok saja, kok. Mendengarkan musik boleh, jadi kalau macet boleh. Denger musik saja boleh-boleh saja. Kecuali, kalau merokok dan puntungnya kena orang, nah baru (tidak boleh),” ujarnya.

Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen (Pol) Pujiono Dulrahman juga menambahkan mendengarkan musik yang dilarang adalah mendengarkan musik dengan gerakan yang berlebihan. Misalnya, musik diiringi karaoke atau alat bantu lain seperti mikrofon yang dikhawatirkan akan memecah perhatian si pengemudi.

Kurangnya konsentrasi pengemudi dalam berkendara menjadi salah satu faktor kecelakaan yang sering dijumpai polisi.

via: republika.co.id

Untuk mengimbau masyarakat (khususnya pengendara) akan bahaya hal ini, Polri akan menggelar razia dan sosialisasi bertajuk Operasi Keselamatan 2018 di seluruh Indonesia terhitung sejak 5 Maret  kemarin hingga 25 Maret mendatang.