Teknik berargumen yang hanya digunakan oleh orang-orang pandai


Pada intinya, berargumen ialah seni menyampaikan pendapat. Ada 2 hal yang meliputi argumen: cara menyampaikan, dan isi dari argumen. Andaikata cara menyampaikannya baik, namun isinya kurang padat, maka itu ibarat buku yang desain covernya bagus, namun isinya tak merepresentasikan cover. Bila yang terjadi sebaliknya, yakni isinya padat, namun penyampaiannya buruk, maka orang-orang akan malas mendengarkan. Sebaik apa pun isinya. Itu mengapa kombinasi antara isi yang baik dan cara menyampaikan yang cantik, harus bersatu padu.

Orang yang pandai dalam berargumen, selalu belajar. Baik ia belajar dari kesalahannya sendiri, kesalahan orang lain, belajar dari buku-buku, dan banyak hal lainnya. Ada perbedaan antara orang yang pandai berargumen, dengan yang kepandaiannya dalam berargumen masih tertunda. Untuk itu, Kita Muda ingin membagi cara-cara orang pandai dalam berargumen, agar semua dapat mempelajarinya.

1. Jika ia merasa berseberangan, maka yang diserang pendapatnya. Bukan orangnya.

via: BBC.co.uk
via: BBC.co.uk

Apabila terjadi sebuah perdebatan, lalu dalam perdebatan tersebut pihak yang kalah menyerang orangnya, maka dasar dari serangan tersebut ialah kebencian orang tersebut terhadap lawan debatnya. Namun jika yang diserang ialah pendapatnya, maka berarti si lawan debat menyayangi orangnya, dan sangat ingin meluruskan pendapat yang berdasarkan fakta, jelas-jelas bengkok.

2. Kalau nimbrung percakapan, sifatnya hanya meluruskan. Bukan bicara asal-asalan.

via: MPRNews.org
via: MPRNews.org

Orang-orang yang pandai berargumen, sangat menghindari untuk nimbrung-nimbrung percakapan. Kalaupun ia sampai nimbrung, maka sifatnya cuma meluruskan apa yang menurutnya masih kurang tepat saja. Mungkin ia akan mengawalinya dengan:

“Mohon maaf, nih, ya. Bukan apa-apa. Bukan gimana-gimana. Tadi kok denger-denger lagi pada bahas bla… bla… bla… Kebetulan, proyek thesis saya juga membahas tentang hal tersebut. Untuk hal-hal yang sedang diperdebatkan ini, kemarin saya menemukan jawaban yang valid. Jadi sebetulnya bla… bla… bla…”

Nah, kalau nimbrung yang begitu kan, pihak yang merasa ditimbrungi akan legowo menerima masukan-masukan berharga dari si penimbrung tadi. Bukankah begitu, Kawan Muda?

3. Diterima atau tidak pendapatnya, ia tak pernah baper atau berpikir macam-macam.

via: TheStar.com
via: TheStar.com

Seseorang yang memiliki argumen kuat, saat mengemukakan pendapat, tak pernah memiliki maksud apa pun selain hanya menyampaikan pendapat sesuai dengan kebenaran yang ia yakini. Kalau pendapatnya diterima, dia tak akan membusungkan dada, dan tetap rendah hati. Kalau pendapatnya ditolak, sedikit pun tak ada rasa baper atau ingin marah. Apalagi sampai berpikir macam-macam seperti “wah, ada propaganda nih!” misalnya. Alih-alih berpikir yang tidak-tidak saat ditolak, ia lebih memilih untuk tetap meyakini pandangannya, sampai ia temukan kebenaran hakiki yang lebih baru.

4. Apabila tak ada kesepakatan dalam debat, maka kesimpulan akhir hanya soal ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’ saja.

via: NYPost.com
via: NYPost.com

Ya, begitulah orang yang pandai berargumen. Ia tak pernah memaksakan pendapat. Kewajibannya hanyalah menyampaikan pendapat sesuai dengan apa yang ia yakini. Kalau kemudian ia memperoleh kebenaran dari lawan debatnya, maka ia akan dengan senang hati menerima kebenaran itu untuk merubah pola pikirnya akan kebenaran-kebenaran lama. Tapi kalau selama proses bertukar pikiran ia masih memercayai pendapatnya, maka ketimbang memaksakan pendapat, ia lebih suka untuk masing-masing berpegang pada kebenarannya saja.

5. Tutur katanya selalu halus dan sopan.

via: Macleans.ca
via: Macleans.ca

Poin ini berkaitan dengan cara menyampaikan pendapat. Sebagus dan sebenar apa pun pendapat yang ingin disampaikan, kalau cara menyampaikannya ketus dan tak menghargai lawan bicara, maka si lawan bicara akan segera memasang kuda-kuda untuk menolak kebenaran baru yang ingin kamu sampaikan. Maka, sampaikanlah dengan sopan. Sampaikanlah secara halus.

6. Argumen kuat, berdasarkan bukti dan fakta-fakta.

via: Time.com
via: Time.com

Orang yang pandai dalam berargumen, sangat hati-hati dalam berbicara. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya bukanlah angin-angin kosong belaka. Ia tak mau berbicara kalau tak ada dasar berupa fakta-fakta yang kuat. Baginya, kalau ingin berbicara namun tak padat fakta, maka sebaiknya diam.

7. Apa pun respons yang lawan bicara berikan, ia tetap menghadapinya dengan tenang dan sabar.

via: LATimes.com
via: LATimes.com

Proses meluruskan argumen-argumen yang semula bengkok, seringkali menghadapi banyak kendala. Orang-orang kerap kali sudah nyaman dengan kebengkokan. Hingga pada akhirnya, ketika temuan baru datang untuk meluruskan, ia merasa kenyamanannya terganggu. Sehingga memilih untuk menolak mentah-mentah kebenaran baru. Sebenar apa pun itu.

Orang yang menguasai teknik berargumen dengan baik, akan memilih menghadapi orang-orang semacam itu dengan penghadapan yang sabar. Proses ini melibatkan kecerdasan emosional. Alih-alih memaksakan kehendak, ia lebih suka menghadapi para pemberontak dengan kesabaran dan ketenangan.

8. Baginya, mengalah tak berarti kalah.

via: SmithsonianMag.com
via: SmithsonianMag.com

Orang yang pandai berargumen sudah memiliki dasar yang kuat dalam dirinya. Sehingga, apa pun yang terjadi, sedikit pun tak akan menggoyahkannya. Termasuk, ketika berdebat dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Saat ia merasa sudah ada perdebatan yang tak sehat, ia lebih memilih untuk mengalah saja. Karena baginya, mengalah bukan berarti kalah.