Kenapa anak sekolah sebaiknya jangan bawa kendaraan?

anak-sekolah-bawa-motor
Image Credit : iwbspeed.com

Beberapa waktu lalu media gaduh memberitakan soal anak sekolah yang enggak boleh bawa kendaraan saat ke sekolah. Mulanya, peraturan ini diterapkan oleh Satuan Lalu Lintas Polres Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Lalu setelah daerah lain mengakui bahwa ini memberikan dampak baik, akhirnya daerah lain ikut-ikutan menerapkan aturan ini.

Secara umur, memang usia-usia sekolah gitu jelas banget kalau mereka belum punya SIM. Makanya tepat kalau mereka dilarang. Tapi sebetulnya, meskipun mereka puya SIM, tapi kalau masih di usia sekolah, Kita Muda sih lebih setuju kalau mereka tetep enggak usah dibolehin bawa kendaraan ke sekolah. Karena apa? Nah, ini dia alasan-alasannya:

1. Ukuran parkiran sekolah enggak memadai.

via: chimoet42.wordpress.com
via: chimoet42.wordpress.com

Sebetulnya, parkiran sekolah hanya diperuntukkan bagi guru-guru. Atau kalau emang ada tempat parker, itu untuk para siswa yang kalau ke sekolah perginya pakai sepeda. Bukan yang pakai motor.

Nah, hal itu saja sebetulnya sudah mengindikasikan kalau pihak sekolah sangat tak setuju kalau siswanya pergi ke sekolah dengan naik motor. Akhirnya, muncullah parkiran-parkiran liar yang disediakan oleh orang-orang sekitar. Biasanya sih disediakan oleh kantin-kantin yang letaknya di luar sekolah.

2. Mengurangi kemungkinan bolos sekolah.

via: kulonprogonews.wordpress.com
via: kulonprogonews.wordpress.com

Kalau siswa sekolah naik motor, gampang banget tuh misal pengin bolos dan jalan-jalan ke mall. Tinggal nyalain motor atau mobil, lalu pergi. Ya, bolos emang segampang itu kalau sarana untuk bolos emang disediakan.

Itu kenapa Kita Muda setuju banget kalau anak-anak yang masih dalam usia sekolah itu enggak usah dikasih ijin untuk bawa motor ke sekolah. Kan, fasilitas itu kayak dua mata pisau. Tinggal bagaimana yang menggunakannya. Tapi kalau anak-anak labil, apa iya mereka sudah pinter untuk memutuskan mana yang sebaiknya dipilih: antara sekolah atau bolos?

3. Lebih baik anak sekolah itu naik angkot atau sepeda aja, biar ngurangin macet.

via: khucai.blogspot.com
via: khucai.blogspot.com

Bukan gimana-gimana nih ya. Kalau pagi gitu jalanan sudah dipenuhi dengan orang-orang yang berangkat kerja, pebisnis, pedagang, dan mahasiswa-mahasiswa yang masuk kelas pagi. Kalau ditambah anak-anak sekolah, gimana jadinya? Macet banget jalanan pasti.

Nah, makanya itu, sebaiknya anak sekolah itu mending naik angkot atau sepeda dulu ya selama sekolah. Selain emang karena kalian belum punya SIM, kan bisa buat ngurangin macet juga.

4. Ya karena dikasih kendaraan, jadinya pulang sekolah bisa keluyuran.

via: sulsel.pojoksatu.id
via: sulsel.pojoksatu.id

Enggak cuma bolos sekolah aja, dengan dikasih kendaraan, bisa memungkinkan anak-anak sekolah untuk keluyuran setelah pulang sekolah. Coba kalau mereka enggak dikasih kendaraan, pasti pulang sekolah langsung pulang ke rumah. Soal keluyurannya setelah pulang ke rumah, itu enggak masalah. Setidaknya, mereka enggak keluyuran masih dalam keadaan pakai seragam sekolah.

5. Bikin temen yang enggak punya motor jadi pengin. Kan, kasihan orangtuanya.

via: siswa-esemka2.blogspot.com
via: siswa-esemka2.blogspot.com

Pernah denger kisah anak yang enggak mau sekolah gara-gara orangtuanya enggak ngebeliin motor? Atau mobil, mungkin? Hal-hal begini sering banget terjadi. Dengan adanya anak-anak sekolah pada pakai kendaraan pas ke sekolah, akan memunculkan yang namanya kesenjangan sosial. Yakni jurang antara si kaya dan si miskin.

Sebetulnya, beberapa orangtua emang sengaja enggak ngebeliin motor untuk anaknya, bukan karena miskin. Tetapi emang pengin mendidik anaknya untuk hidup sederhana. “Boleh pakai motor kalau besok udah bisa beli sendiri,” begitu nasihat beberapa orangtua yang tegas ke anak.

Hey Kawan Muda, di luar negeri itu udah biasa loh, anak-anak usia di bawah 20-an bisa beli kendaraan sendiri. Bukan apa-apa. Tapi karena mereka emang dibiasakan hidup mandiri. Dilepas sejak usia tertentu, di bawah 20 tahun. Kalau sampai timbul kesenjangan sosial, yang paling kasihan adalah orangtua yang enggak ada biaya untuk beli motor, tapi anaknya ngotot melulu pengin dibeliin motor dan ngancam enggak mau sekolah. Kan, kasihan kan.

6. Nambah-nambahin jatah uang saku.

via: kepeeticous.blogspot.com
via: kepeeticous.blogspot.com

Kalau enggak pakai kendaraan, mungkin orangtua cukup ngasih uang saku. Biasanya, gimana anak itu berangkat sekolah, orangtua enggak bakal nambahin uang saku. Baik itu dia naik angkot, naik sepeda, atau minta dianterin orangtua.

Bandingkan dengan anak-anak yang kalau ke sekolah pakai kendaraan. Pasti mereka minta jatah saku lebih. Alasannya: buat beli bensin, nanti kalau ban bocor gimana, dan tetek bengek lainnya. Tuh, kan, jadi nambah-nambah biaya. Kasihan orangtua, Kawan Muda. Ingatlah, nyari duit itu enggak gampang.

7. Tuntutan sekolah itu udah bikin stres. Kalau tambah naik kendaraan, jadi tambah stres.

via: foto.kompas.com
via: foto.kompas.com

Tuh, lihat gambar di atas. Minta motor aja sampai segitu kan? Serem!

Jadi begini, orang-orang yang di jalanan itu pagi-pagi udah stres karena macet. Belum lagi kalau terlambat sampai ke kantor atau kampus. Harusnya, anak-anak sekolah enggak perlu sampai ikut-ikutan stres. Berikan stres itu kepada sopir angkot, kalau kamu ke sekolahnya naik angkot. Atau kalau kamu naik sepeda, enggak bakal ada tuh yang namanya kena macet. Karena lampu merah aja boleh kamu terabas, kan? Selain itu, pengguna kendaraan pasti bakal lebih hormat sama orang-orang yang naik sepeda.

Karena pelajaran serta tuntutan sekolah udah bikin stres, jangan lagi lah nambah-nambahin stres.

Gimana Kawan Muda, masuk akal kan alasan-alasan dari Kita Muda: kenapa kami juga enggak setuju kalau anak sekolah naik kendaraan pribadi saat pergi ke sekolah? Kamu punya tanggapan? Sini share di komentar.