Alasan mengapa orang kaya bertambah kekayaannya, dan orang miskin semakin miskin


“Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,”

Kawan Muda pernah mendengar potongan lagu di atas? Kalau sudah, ngomong-ngomong, lirik lagu di atas banyak benarnya juga. Lalu bila ada pertanyaan: mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya ada pada caranya mencari uang. Orang miskin berpikir bahwa kaya itu berarti punya uang banyak. Sementara orang kaya, berpikir bahwa kaya itu ditandai dengan seberapa banyak investasi yang dimiliki.

Hal lain yang membedakan antara orang kaya dengan orang miskin, terletak pada mental dan kebiasaan keduanya. Lantas, seperti apa perbedaan antara mental orang kaya dan mental orang miskin? Mari kita bedah satu-satu!

1. Kemiskinan, salah satunya disebabkan karena mereka gagal mengatur uang.

via: money.usnews.com

Pada sebuah film dokumenter yang rilis pada tahun 2005 menunjukkan seorang gelandangan yang diberi uang sekitar 1,4 milyar. Ia dibebaskan untuk melakukan apa pun dengan uang tersebut. Setelah 6 bulan, apa yang terjadi? Uangnya habis dan ia kembali menjadi gelandangan. Ini menunjukkan bahwa mereka gagal mengatur uang.

2. Orang kaya gemar menambah aset dan investasi, sementara orang miskin rajin membuat keputusan bodoh yang semakin memperburuk kondisi finansialnya.

via: papasemar.com

Lagi-lagi berbicara tentang mental. Orang kaya percaya bahwa kekayaan itu dihitung dari seberapa banyak aset yang dimiliki. Dari aset itu, berapa omset yang dihasilkan. Dari omset tersebut, berapakah laba yang masuk.

 

BACA JUGA: Meneladani 9 kebiasaaan Mark Zuckerberg, biar kamu cepat kaya

 

Berbeda dengan orang miskin yang rajin membuat keputusan bodoh yang semakin memperburuk kondisi finansialnya. Mereka tahu kalau rejeki terkadang datang dari relasi, namun tak kunjung membangun relasi. Mereka lebih suka mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sifatnya jangka pendek. Kalau ada peribahasa, maka yang tepat bagi mereka adalah: lebih besar pasak daripada tiang. Bagaimana tidak, mereka lebih suka terlihat kaya padahal uang tak ada. Ketimbang terlihat apa adanya sesuai kondisi keuangannya.

3. Bagi orang kaya, tak punya uang hanyalah keadaan sementara. Namun bagi orang miskin, tak punya uang ialah akibat dari mentalnya.

via: cirencester-baptist.or

Apa yang orang miskin miliki untuk menghasilkan uang? Jawabannya adalah waktu dan tenaga. Waktu bisa dipakai untuk mencari relasi, membangun bisnis, mengasah skil, dan banyak lagi. Sementara tenaga berperan untuk mengeksekusi ketika kesempatan hadir. Namun faktanya, mereka lebih banyak menggunakan waktu dan tenaganya untuk khawatir tentang:

“Besok makan apa?” “Bagaimana nasib saya besok?” Dan banyak lagi. Berbeda dengan orang bermental kaya. Mereka menganggap bahwa tak punya uang itu cuma keadaan sementara. Ia masih punya waktu dan tenaga, lalu mengisinya dengan hal-hal yang tak dilakukan oleh orang-orang bermental miskin.

4. Siklus keuangan yang berbeda, antara orang bermental kaya dengan orang yang bermental miskin.

via: Walletline.com

Jika orang bermental miskin diberi uang, maka hanya 1 hal yang akan mereka lakukan: membuangnya. Menghabiskannya. Yang sama sekali (tempat membuang uang itu) tak akan menghasilkan uang baginya.

 

BACA JUGA: Kita harus sukses, meski tidak terlahir dari keluarga kaya

 

Orang bermental kaya melakukannya dengan cara yang berbeda. Mereka membuang uang dalam bentuk aset atau investasi. Seperti, ketika sedang bekerja, uang dari gaji dibagi dua: pertama untuk kebutuhan, dan kedua untuk membuka bisnis. Besar atau kecil suatu bisnis, itu hanya urusan skala saja. Karena yang paling penting dari itu semua adalah mental. Jika sejak keuangan masih kecil saja sudah memiliki mental kaya, maka perkembangan dari aset-aset itu hanya soal menunggu waktu saja.

Hal yang perlu Kawan Muda ingat dari mental orang kaya dan mental orang miskin adalah, orang miskin selalu tergiur dengan jumlah uang, sementara orang bermental kaya melihat uang sebagai value.

5. Orang kaya berpikir jangka panjang, dan orang miskin berpikir jangka pendek.

via: businessinsider.com

Seperti yang Kita Muda tulis di atas, bahwasanya bagi orang kaya, uang adalah aset. Setelah mendapat uang, mereka berpikir jangka panjang: bagaimana agar uang ini menjadi berkali lipat? Maka mereka berbisnis, maka mereka berinvestasi.

Sedangkan orang miskin pikirannya selalu jangka pendek. Mereka ingin cepat mendapatkan uang, agar dapat menghabiskannya dengan cepat pula. Saat mereka diberi uang, fokus mereka ialah beli ini dan itu. Membeli sesuatu yang sama sekali tak memiliki nilai tambah. Seperti membeli kendaraan terbaru, gadget terbaru, membeli rumah saat sudah punya rumah. Intinya, mereka lebih suka membeli sesuatu yang dasarnya ialah keinginan. Bukan kebutuhan.