Kamu sudah layak diberi label “memiliki kecerdasan emosi yang baik” kalau 6 tanda ini ada pada dirimu

cerdas
Image Credit : Wondergressive.com

Semakin berkembangnya teknologi yang sedemikian rupa, hari ini banyak sekali orang-orang yang cerdas secara akademik. Tengoklah, berapa banyak sarjana, magister dan doktor yang masih menganggur sampai hari ini? Apakah mereka tidak cerdas? Oh tidak, justru sebaliknya. Justru mereka pintar sekali. Tapi mengapa mereka masih saja menganggur?

Hari ini, memiliki kecerdasan akademik saja tidaklah cukup. Harus ditunjang dengan kecerdasan emosi juga. Lewat artikel ini, Kita Muda ingin membahas tentang tanda-tanda bahwa kamu layak untuk diberi label sebagai orang dengan kecerdasan emosi yang baik. Ini dia:

1. Gemar ‘membedah’ hidup orang lain, agar dapat meneladani hal baik, dan menjadikan keburukan orang lain sebagai pelajaran.

via: CapslockNET.com
via: CapslockNET.com

Ada orang-orang yang memang dalam hidup ini lebih banyak melakukan hal-hal baik dalam hidupnya. Sehingga mereka layak diteladani. Namun ada juga orang-orang yang memang banyak melakukan hal buruk dalam hidupnya. Apakah itu sia-sia? Tidak! Justru hanya mereka yang pernah berbuat keburukanlah yang kemudian bisa menceritakan kepada orang-orang baik: bagaimana pedihnya melakukan hal-hal buruk, dan begitu rindunya mereka untuk kembali ke jalan-jalan kebaikan.

Orang dengan kecerdasan emosi yang baik, akan bersedia mendengarkan cerita-cerita dari orang-orang yang pernah datang dari masa keburukan tersebut, lalu memetiknya sebagai bahan pembelajaran. Agar waktu-waktunya di masa mendatang tak terbuang sia-sia untuk melakukan keburukan yang sama. Karena memang, ada orang-orang yang sudah diberi tahu, tetapi masih saja ngeyel dan pada akhirnya menemui penyesalan yang sama.

2. Melepas masa lalu, merencanakan masa depan, dan hidup sehidup-hidupnya hidup di masa kini.

via: Abujibriel.Com
via: Abujibriel.Com

Hidup di masa lalu itu menyedihkan. Karena ia tak membawa apa pun, kecuali bahan untuk nostalgia. Sementara hidup di masa depan, justru akan mengaburkanmu terhadap pandangan akan masa kini yang seharusnya butuh penanganan untuk ditangani secara nyata.

Lalu, yang baik itu bagaimana?

Nostalgia masa lalu secara sekadarnya saja. Tetap merencanakan masa depan. Dan hidup-sehidupnya di masa kini. Karena seperti apa pun bentuk masa depan, semuanya adalah hasil kreasi dari bagaimana menggambar masa kini.

3. Motivasi dari melakukan atau tidak melakukan sesuatu, ada dalam kuasa dirinya. Bukan pada lingkungan.

via: lilpickmeup.com
via: lilpickmeup.com

Ada jenis-jenis orang yang memang sukanya angin-anginan. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sangat dipengaruhi dari bagaimana lingkungan mengatur. Intinya, ia berfokus pada hal-hal di luar dirinya. Padahal, kesungguhan melakukan sesuatu itu datang dari bagaimana ia memimpin dirinya sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Orang-orang dengan kecerdasan emosi, bahkan tak butuh banyak motivasi untuk melakukan sesuatu. Karena ia paham, ia adalah penentu setelah Tuhan yang memiliki kuasa untuk melakukan atau tidak memilih sesuatu. Bukan karena hal-hal di luar dirinya.

4. Pandai membaca keadaan.

via: Wattpad.com
via: Wattpad.com

Ini sedikit ada korelasinya dengan poin nomor 2 yang Kita Muda paparkan pada artikel ini. Prediksi keadaan, adalah gambaran masa depan. Sedangkan waktu memprediksinya, ialah masa kini. Bagaimana masa depan itu bekerja, ialah bagaimana hari ini dikerjakan. Yah, inilah salah satu hal yang orang-orang dengan kecerdasan emosi miliki: Pandai membaca keadaan.

Setelah keadaan dibaca, ia kemudian menyiapkan serangkaian hasil prediksi. Baik dan buruknya. Kemudian, masa kini ia gunakan untuk sebanyak-banyaknya mendapat hal baik, dan sekuat-kuatnya menghilangkan atau mungkin mengurangi hal buruk.

5. Paham dengan apa-apa yang kuat dalam diri, apa-apa yang lemah dalam diri, dan memilih untuk terus memoles yang kuat agar menjadi semakin kuat.

via: cutetrends.ga
via: cutetrends.ga

Kalau kelebihan itu diberi nilai 6, dan kelemahan itu diberi nilai 2, maka jika waktu yang ada malah dipakai untuk menambal sebanyak mungkin kekurangan, malah jadinya semua bernilai 6. Tak ada yang tampak unggul. Tak ada yang bisa diandalkan. Bukankah dokter spesialis itu lebih menguasai bidangnya, ketimbang dokter umum yang tahunya banyak tapi sedikit-sedikit?

Wanita yang ingin melahirkan, lebih memilih untuk langsung datang ke bidan, ketimbang mengunjungi dokter umum. Karena ia tahu, siapa yang paling ahli. Pelatih timnas sepak bola Indonesia, lebih memilih orang-orang yang ahli dalam mengolah si kulit bundar, ketimbang orang-orang yang hanya sekadar bisa main bola. Karena apa? Ya kalau yang dipilih cuma yang sekadar bisa, bagaimana mau mengincar kemenangan atau bahkan juara? Bukankah juara dalam tim sepak bola itu berisi manusia-manusia terbaik dengan kualitas A+ dalam sepak bola? Itu mengapa, hati pelatih selalu merasa tenang kalau sudah mengeluarkan formasi andalan.

6. Cerdas dalam mengatur suasana hati.

via: FoxNews.com
via: FoxNews.com

Ada orang yang sedang emosi, tidak lantas membuat orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik, kemudian akan turut emosi. Ia percaya, bahwa setelah Tuhan, manusia yang paling berkuasa untuk mengontrol emosinya ialah dirinya sendiri. Saat ada orang berniat mengundang kemarahan, batinnya bisa memilih: ada pilihan untuk marah, ada pilihan untuk tetap tersenyum. Dan, manusia dengan kecerdasan emosi yang baik, selalu memilih respons senyum tatkala menghadapi masalah yang semacam itu. Pikiran, hati, jiwa, dan raga mereka lebih tenang.