Kalau 5 kelakuan ini masih kamu lakukan, berarti kamu belum dewasa!

dewasa
Image Credit : vemale.com

Berjuta-juta kali dunia membuktikan, bahwa dewasa itu enggak ada korelasinya dengan jumlah usia. Banyak orang-orang yang secara usia tua, tapi kelakuannya masih kanak-kanak. Banyak juga yang kelakuannya masih kanak-kanak, tapi karena memang usianya juga kanak-kanak. Banyak juga yang sudah dewasa karena memang tua. Tapi dari itu semua, yang paling baik ialah yang masih muda dan pikirannya sudah dewasa.

BACA JUGA : Kita harus sukses, meski tidak terlahir dari keluarga kaya

Banyak dari kita yang sebetulnya masih belum sadar: apakah kita termasuk masih kekanakan, atau sudah dewasa. Ada banyak pendapat yang berbeda. Namun paling tidak, melalui artikel ini Kita Muda ingin memaparkan hal-hal yang sekiranya bisa dijadikan sebagai parameter: apakah seseorang itu kekanakan atau tidak. Dan, inilah tanda-tanda kalau seseorang itu masih kekanakan.

1. Masih aja suka ngeluh!

via: arah.com
via: arah.com

Dewasa itu terlihat dari bagaimana seseorang menghadapi sebuah permasalahan. Ketika terjadi suatu masalah, orang yang pola pikirnya sudah dewasa, akan memilih untuk tenang, lalu mempelajari akar masalahnya, dan kemudian menyelesaikannya.

Berbeda dengan manusia-manusia yang tak kunjung dewasa. Saat masalah datang, alih-alih mencari solusi, mereka malah sibuk mengeluhkan keadaan. Sehingga waktu serta energi yang seharusnya bisa diapakai untuk menyelesaikan masalah, malah terbuang sia-sia untuk terus berputar-putar dalam masalah.

2. Masih seneng mencari kambing hitam, alias menyalahkan pihak lain.

via: Hipwee.com
via: Hipwee.com

Sedikit-sedikit, ini masih ada korelasinya dengan poin nomor 1 di atas. Hanya saja, kalau poin di atas lebih ke mengeluh, yang dampak buruknya ke diri sendiri. Sementara pada poin ini, lebih menyerang pihak lain. Menyalahkan orang-orang serta hal-hal yang menyertainya. Mereka lebih suka menyalahkan orang lain ketimbang introspeksi.

3. Peragu dan plin-plan.

via: farah-fr.blogspot.com
via: farah-fr.blogspot.com

Orang yang sudah dewasa ditandai dengan sudah menguatnya nilai-nilai yang menjadi pegangannya. Sehingga, ketika masalah tiba, ia tahu harus bersikap apa, dan bagaimana harus menghadapinya. Sudah tak ada lagi keraguan dalam dirinya.

4. Suka pamer.

via: Harianpost.co.id
via: Harianpost.co.id

Orang-orang yang dewasa pemikirannya, membeli dan menggunakan sesuatu atas dasar kebutuhan. Bukan gara-gara angin keinginan belaka. Sehingga kalau sesuatu itu dipakai karena dasarnya berupa kebutuhan, maka akan terlihat aneh sekali kalau ia punya sikap pamer. Contoh: manusia itu makanan pokoknya adalah beras. Maka beras, sudah menjadi kebutuhan. Enggak mungkin dong, ia jalan ke mana-mana sambil ngomong ke orang-orang:

“Hey, aku makan beras, loh. Hey, aku makan beras, loh. Keren enggak?”

Kan, enggak gitu juga. Kenapa contoh percakapan di atas tak etis kalau dijadikan bahan pamer? Ya karena beras adalah kebutuhan. Semua orang juga makan beras – sebut saja nasi. Jadi, tak ada yang spesial.

Berbeda dengan orang-orang yang pola pikirnya masih kekanakan, mereka kerap menggunakan barang atau membelanjakan uang untuk sesuatu yang asasnya berupa keinginan. Mengapa mereka ingin beli? Ya, karena itu keinginan, tentu alasannya jelas karena gengsi. Lalu kalau itu sudah terpenuhi, ia ingin agar orang lain turut melihatnya. Maka, timbullah sikap pamer.

5. Selalu merasa kalau pendapatnya ialah yang paling benar.

via: tendanganpojok.com
via: tendanganpojok.com

Orang dengan pola pikir dewasa selalu memiliki pikiran terbuka. Ia bersedia menerima segala masukan dari siapa pun, dan dari apa pun. Baginya, tak penting siapa yang mengatakan. Yang penting, apa yang dikatakan. Bermanfaat atau tidak. Atas dasar itulah, orang-orang demikian tak pernah merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar. Justru ia akan mendengarkan dengan baik: “Siapa tahu aku mendapat hal baru di sini,” pikirnya setiap kali ada orang yang berseberangan darinya ketika memberikan pendapat.

Itu semua berbandingterbalik dengan orang-orang yang masih kekanakan. Mereka menganggap bahwa nilai-nilai yang telah mereka terima selama ini ialah nilai yang paling benar. Sehingga, ia akan pasang kuda-kuda dan memasang benteng tinggi-tinggi kalau sampai ada kebenaran lain masuk. Ia tak ingin kebobolan. Ia tak ingin merubah cara pandangnya terhadap dunia. Ia menjadi kolot. Menjadi kekanakan. Sungguh menyedihkan!