Memandang Perpisahan Sebagai Sebuah Kesempatan

putus
Image Credit : www.playbuzz.com

Memandang perpisahan sebagai sebuah kesempatan untuk melihat maksud Tuhan dibalik perginya seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita. Tak ada hal yang kebetulan dalam hidup ini. Semua hal sudah digariskan oleh-Nya.

Ada pertemuan ada perpisahan. Lahir dan mati. Datang dan pergi. Dua hal yang hadir untuk saling menggantikan dan tak terelakkan.

Ketika kebiasaan mulai terjalin setelah pertemuan, momen-momen kebersamaan hadir bersama waktu berjalan. Hal-hal baru berdatangan yang dulu mungkin tak pernah kita alami juga rasakan. Mengenal, mempelajari dan juga memahami suatu hal lain dari sisi kehidupan. Pertemuan dengan setiap orang pasti membawa kesan dan pesan yang berbeda. Disinilah indahnya perbedaan, ketika kita memandangnya dengan kaca mata yang benar.

Seperti kita sedang membaca sebuah buku, kita mulai dengan halaman pertama, kedua, hingga lembar-lembar berikutnya, yang tanpa terasa kita akan sampai pada halaman terakhir, yang juga memaksa kita untuk mengakhiri kisah bersama buku tersebut.

Sama halnya ketika perpisahan memaksa untuk mengakhiri perjalanan kita dengannya.

Apa tugas kita?  

Bagaimana kita seharusnya?

Analogi yang pas dengan membaca sebuah buku. Apa kita akan fokus pada typo penulisan, kata-kata yang kurang pas dengan tulisan, atau hal-hal error lainnya?

Atau kita fokus pada pesan-pesan baik yang tersirat maupun tersurat, juga kata-kata dan istilah baru yang memaksa kita mencari tahu, yang artinya juga memaksa kita belajar hal baru?

Itu semua tergantung pada cara kita memandang sesuatu. Fokus pada hal baiknya atau buruknya. Keduanya tidak ada yang salah, karena dari sisi manapun, tetap mengajarkan sesuatu pada kita.

Sejenak setelah menemui perpisahan, kita bisa mulai merenungkan, apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan kepada kita? Setiap orang yang hadir dalam hidup kita pasti datangnya telah menjadi ketetapan-Nya. Kehadiran mereka bukanlah sebuah kebetulan. Karena ijin-Nya, kita berkesempatan memiliki cerita dengan mereka. Entah cerita sendu yang mengharu biru maupun cerita bahagia yang tak terkira. Kehadiran mereka pasti membawa dampak kepada masing-masing kita.

Setiap insan memiliki kelebihan dan kekurangan. Baik itu mereka maupun kita juga, tak ada yang sempurna. Memahami hal ini dengan benar, memudahkan kita untuk memaafkan. Melupakan segala kesalahan yang pernah mereka perbuat pada kita. Toh, pasti kita juga tak luput dari kesalahan. Bisa jadi, tanpa kita sadari, kesalahan yang kita lakukan jauh lebih banyak. Hal pahit yang kita torehkan pada mereka lebih tak terhitung.

Dalam perpisahan terkadang kita terlalu fokus pada hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan pada kita. Namun melupakan segala kebaikan dan pengorbanan yang pernah mereka berikan. Hal ini hanya akan membuat kita lebih terpuruk pada keadaan. Susah menerima kenyataan.

Berpisah, itu tanda waktu kita mengukir cerita kehidupan bersama mereka telah di ujung pena. Selanjutnya akan ada pengganti yang menemani kita dalam melanjutkan cerita.

Tugas kita bukan untuk terpuruk meratapinya, melainkan mengambil pelajaran terbaik yang bisa kita simpulkan atas hadirnya mereka. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya. Demikian juga dengan perpisahan tersebut.

Sebuah perpisahan bisa jadi adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk istirahat sejenak dari perjalanan. Kesempatan untuk introspeksi diri. Kesempatan untuk merenungkan perjalanan dari kebersamaan yang pernah kita lalui. Untuk akhirnya sebagai bekal bagi kita melanjutkan perjalanan, lagi.

Selamat merenung, kawan. 🙂