Tanda-tanda kalau kamu sudah mencintai pekerjaan. Selamat bermasa depan cerah!

bekerja
Image Credit : pexels.com

Alih-alih menyebut kesukaan akan suatu bidang sebagai passion, bukankah akan lebih baik kalau menyebut itu sebagai curiosity? Karena passion itu bermakna gairah. Sedangkan, orang tak bisa selamanya bergairah pada satu bidang tertentu. Sementara curiosity, ia hadir dari keingintahuan yang tinggi. Kawan Muda tak perlu lagi gairah untuk mempelajari suatu hal, kalau memang hal tersebut sudah mendarah daging: selalu kepikiran saat terjaga, dan bahkan kebawa mimpi ketika tidur.

BACA JUGA : 7 Hal yang selalu dihindari orang-orang sukses. Boleh kamu tiru, agar suksesnya menular padamu

Menemukan bidang yang menjadi curiosity juga bukan pekerjaan yang gampang. Engkau harus paham betul, di mana letak kelebihan serta kekuranganmu. Cinta itu hadir dikala suka maupun bosan. “Meski bosan sekalipun, namanya cinta, ya cinta,” begitulah efek dari curiosity. Engkau tetap bisa mencintai tanpa adanya gairah. Curiosity akan menimbulkan cinta kepada pekerjaan. Dan, salah satu resep sukses seseorang pada bidang pekerjaan tertentu, bisa dilihat dari: apakah ia mencintai pekerjaannya? Tanda-tanda ini bisa dideteksi. Di sini, Kita Muda akan menunjukkan hasil deteksi tersebut. Ini dia ciri-ciri kalau orang sudah cinta dengan pekerjaannya:

1. Orang yang mencintai pekerjaannya memang punya disiplin kerja. Namun ia juga tak jarang memilih bekerja pada akhir pekan.

via: a2ua.com
via: a2ua.com

Keingintahuan yang tinggi membuat seseorang suka melakukan suatu hal. “Ya, suka saja,” katanya. Bermodal ‘suka’ tersebutlah yang membuat orang-orang yang mencintai pekerjaan itu, bersedia disiplin melakukan pekerjaannya. Bahkan, bisa dibilang, hampir seluruh hidupnya ialah pekerjaannya. Pada saat perjalanan pulang dari kantor, ia memikirkan pekerjaan. Saat ngopi di kafe, ia memikirkan pekerjaan. Bahkan, tak jarang, akhir pekan pun ia pakai untuk merampungkan pekerjaan.

2. Orang yag mencintai pekerjaannya, tak pernah hitung-hitungan saat bekerja. Namanya juga cinta.

via: a2ua.com
via: a2ua.com

Begitulah cinta, ia memang kerap membuat seseorang buta. Cinta juga tak melulu soal asmara. Ia juga bisa berwujud dalam kerja. Apabila seseorang sudah cinta mati dengan pekerjaannya, setiap waktu, pikirannya hanyalah tentang pekerjaan saja. Ia memberikan hidupnya untuk pekerjaannya. Ajaibnya, ia tak pernah memperhitungkan hal ini. Yah, namanya juga cinta. Apa mau dikata.

3. Baginya, apresiasi dan penghargaan-penghargaan itu tak begitu penting. Karena yang paling vital ialah terus-menerus bekerja dalam keseharian.

via: www.mexperience.com
via: www.mexperience.com

Orang yang mengincar jabatan, akan berfokus pada tunjangan-tunjangan, dan penghargaan. Mereka mengedepankan itu semua, dan mengesampingkan kontribusi. Tentu, hal ini berbeda dengan mereka-mereka yang landasan pekerjaannya ialah cinta. Sedikit pun dalam benaknya tak akan menjilat agar diberi apresiasi. Penghargaan pun baginya tak perlu. Karena menurutnya, yang terpenting ialah perkembangan secara signifikan pada dirinya, dari hari ke hari.

4. Saat diberi jatah cuti untuk liburan, kamu berbahagia. Lalu ketika kembali dari liburan, kamu tak sabar untuk memulai bekerja lagi.

via: www.virgin.com
via: www.virgin.com

Adalah manusiawi, apabila seorang manusia butuh jeda dalam rutinitasnya. Bisa dengan istirahat, libur, atau bahkan liburan. Siapapun suka cuti dan liburan. Karena otak juga butuh refreshing. Orang-orang yang mencintai pekerjaannya, akan menyambut hal ini dengan riang gembira, namun setelah pulang dari liburan, ia tak sabar untuk bekerja kembali.

5. Ya, karena cinta itu tadi. Saking besarnya cinta, sampai-sampai tak peduli tentang meminta pamrih.

via: www.huffingtonpost.com
via: www.huffingtonpost.com

Orang-orang yang mendahulukan jabatan dan tunjangan, akan mendahulukan pamrih ketimbang kontribusi yang ia berikan. Karena prinsipnya bekerja: dengan bekerja di sini, saya dapat apa?

Tentu hal ini berbeda dengan mereka-mereka yang landasan pekerjaannya ialah karena cinta. Baginya, perasaan paling membahagiakan ialah bisa melihat orang-orang merasa terbantu dengan kehadirannya. Senyum yang mengembang di bibir, sudah membuatnya berbunga-bunga. Hal-hal semacam ini yang kerap membuat mereka sampai tak merasa perlu untuk mengharap pamrih. Ya karena cinta itu tadi.

6. Selalu bersyukur kepada Tuhan atas keahlian yang Dia berikan. Karena tak semua orang dapat melakukannya. Karena, Tuhan memberi porsi setiap orang berbeda-beda.

via: iq.intel.co.uk
via: iq.intel.co.uk

Tuhan memiliki sesuatu yang namanya recruitment system. Sebuah sistem di mana manusia-manusia dibuat mencintai bidang-bidang tertentu. Lalu, orang-orang ‘kelas A’ di bidangnya tersebut, bergerak bersama untuk mensukseskan sesuatu, menghasilkan hal terbaik.

Ambil contoh: sebuah film yang berhasil, tak mungkin bisa dikerjakan oleh 1 orang saja. Film itu adalah gabungan dari orang-orang ‘kelas A’ yang membaur, mengeluarkan kemampuan terbaiknya, untuk menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.

Aktor dan aktris, menjiwai karakter dengan baik, memerankan dengan apik, agar memudahkan penonton untuk melibatkan emosi. Tentu, aktor dan aktris yang baik, tak bisa melakukan dengan baik tanpa adanya panduan dari sutradara yang mumpuni. Sutradara pun tak bisa banyak berkutik, kalau tak ada naskah. Karena fungsi dari naskah ialah untuk menggerakkan seluruh karakter dalam film. Maka dari itu, sutradara butuh penulis skenario.

Lihat, begitulah recruitment system Tuhan bekerja. Manusia dibuat mencintai bidang-bidang tertentu. Apakah Kawan Muda sudah bisa menemukan apa bidang yang dicintai? Kalau sudah, selamat! Sukses tinggal sebentar lagi!