Daripada saling menuntut, bagaimana kalau kita saling menutup kekurangan dengan kelebihan masing-masing?

pasangan
Image Credit : www.deathandtaxesmag.com

Sejatinya, menuntut itu baik. Karena untuk menjadi lebih baik, seseorang memang kadang harus dituntut. Tentu dengan catatan: hal yang dituntut adalah hal baik, dan cara menuntutnya juga baik. Contoh: menuntut ilmu. Cara menuntutnya: belajar dengan baik dan tekun.

BACA JUGA : Jangan cintai aku apa adanya, namun tuntutlah aku sesuatu agar hubungan kita menjadi lebih baik

Tetapi, satu kata memang memiliki banyak penafsiran. Tentu, beragam arti itu datang dari bejibun isi kepala yang memaknainya. Sehingga, berangkat dari pemaknaan yang berbeda-beda itu, dampaknya berbeda pula dengan hasilnya di lapangan.

Kita Muda ingin membahas tentang kata ‘menuntut’ yang kerap diselewengkan oleh banyak orang menjadi ‘menuntut’ dalam hal buruk. Bahwa seseorang itu harus menjadi seperti ini, harus mencapai hal itu, tidak boleh begini, dan harus begitu, segalanya sesuai paksaan si penuntut. Maka sebaiknya tidaklah saling menuntut.

Karena saling menuntut, membuat masing-masing tertekan. Sedangkan saling menutup kekurangan, membuat masing-masing jadi lebih baik tanpa menyakiti.

pasangan
Foto : www.keyword-suggestions.com

Menuntut memang kerap membuat pihak yang dituntut menjadi tertekan. Merasa sesak, penuh kekakuan, dan ingin keluar dari hubungan tetapi bingung caranya bagaimana. Menuntut juga menjadikan perkembangan masing-masing pribadi, sebagai akibat dari hasil tuntutan, tidak akan merasa puas dengan pertumbuhan yang ada. Karena semuanya datang gara-gara keterpaksaan.

Berbeda dengan kesepakatan untuk saling menutup kekurangan masing-masing. Tentu segala perbaikan bisa terjadi tanpa adanya pihak yang tersakiti.

Karena saling menuntut, hanya memicu pertikaian. Sementara saling menutup kekurangan masing-masing dengan kelebihan masing-masing, akan menimbulkan kebaikan.

couple
Foto : www.883zy.com

Pihak yang dituntut, sudah pasti akan selalu merasa tertekan. Tekanan demi tekanan itu dalam jangka panjang akan menjadi emosi yang mengendap dalam hati, dan mengepul-ngepul dalam kepala. Kalau sudah muak, sewaktu-waktu pihak yang ditekan bisa meledakkannya tepat di hadapan orang yang menuntut. Di sinilah kemudian terjadi pertengkaran. Apabila keduanya tak ada yang bersedia mengalah, maka pertikaian bisa berlangsung lama. Panjangnya menandingi jumlah episode sinetron Tukang Bubur Naik Haji.

Mengapa tidak bersepakat untuk membangun diri masing-masing saja? Saling menutup kekurangan dengan kelebihan masing-masing? Bukankah dengan itu, kebaikan akan terjadi? Bukankah cinta saling melengkapi?

Kebiasaan saling menuntut membuat pembangunan diri dikesampingkan. Karena fokusnya adalah menuntut dan menuntut pasangan.

pasangan
Foto : www.zastavki.com

Apa yang terjadi jika seorang istri menuntut, lalu dalam jangka waktu tertentu suami sanggup mencapai tuntutan? Ya, pada kesempatan lain, suami akan menuntut, dan mewajibkan si istri agar sanggup meraihnya. Setelah si istri berhasil menumpaskan misi, pada kesempatan yang lain ia juga akan menyerang balik. Begitu seterusnya, sampai terjadinya perang dunia ketiga.

Hal ini terjadi karena masing-masing pihak menjadi salah fokus. Konsentrasi yang semula diarahkan agar keduanya membaik secara pribadi, menjelma menjadi fokus untuk saling serang satu sama lain.

Saling menutup kekurangan dengan kelebihan masing-masing membuat setiap datangnya pertumbuhan adalah kebahagiaan, karena terjadinya perkembangan berasal dari kemauan.

pasangan
Foto : hdimagesnew.com

Pernahkah Kawan Muda membandingkan: bagaimana orang yang berubah karena dipaksa, dengan orang yang berubah lantaran keinginan dirinya? Hasilnya tentu berbeda. Paksaan membuat orang yang dipaksa mual dengan perubahan pada dirinya, karena cara yang dipakai tak menyenangkan baginya. Sementara perubahan yang datangnya dari kemauan, lebih memuaskan. Bahkan, perubahan itu bisa ia pertahankan selamanya. Setelah mengetahui fakta tersebut, coba katakan kepada pasanganmu:

“Sayang, daripada saling menuntut, bagaimana kalau kita saling menutup kekurangan dengan kelebihan masing-masing?”